• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Rabu, 17 September 2014
Tribun Jakarta

Sambung Hidup dengan Bisnis Pom Bensin Mini

Jumat, 8 Maret 2013 11:19 WIB
Sambung Hidup dengan Bisnis Pom Bensin Mini
TRIBUN SUMSEL/ABRIANSYAH LIBERTO
Ilustrasi SPBU

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - “Isi Rp 5.000 aja deh,” ujar seorang pria muda berbaju hitam berambut cepak kepada seorang gadis muda penjaga pom bensin.

Dengan cekatan, gadis muda berkulit sawo matang itu lalu menekan tombol-tombol di mesin pom bensin, lalu segera menuangkan bensin lewat selang ke tangki motor Yamaha Mio hitam sang pria muda.

Tidak seperti petugas pom bensin pada umumnya, gadis muda bernama Annisa (18) ini tidak mengenakan seragam maupun topi berlabel nama SPBU. Sebaliknya, Annisa hanya mengenakan kaus putih gading bergambar tokoh Sesame Street, celana pendek selutut bermotif batik.
Mesin pom bensin pun hanya ada satu.

Tidak heran, karena Annisa adalah penjaga pom bensin mini yang berada di depan rumahnya sendiri, di Jalan Bakti Raya, RT 02 RW 02, Kelurahan Tegal Alur, Kalideres, Jakarta Barat. Selain adanya mesin pom yang relatif tidak umum di kawasan pemukiman, keberadaan pom bensin mini tersebut juga dipertegas dengan tulisan cukup besar yang berbunyi ‘PAKAI POMPA BENSIN MINI’ berwarna biru dengan latar belakang kuning.

“Itu anak saya yang jaga pom bensinnya. Saya baru delapan bulan dagang bensin dengan sistem pakai mesin pom begitu,” kata Asminah (43), orangtua Annisa, sekaligus pemilik pom bensin mini yang sudah delapan bulan berada di daerah tersebut.

Ditemui beberapa waktu lalu pukul 15.00 WIB, Asminah mengaku bahwa pom bensin mini miliknya itu bukanlah yang pertama.

“Di Kalideres ini sudah ada dua (pom bensin mini-red) yang seperti saya ini. Adanya di kawasan Prepedan, sama di Kamal,” kata ibu tiga orang anak itu sembari terus mengawasi Annisa melayani pemotor-pemotor yang mengantri.

Sambil bermain dengan dua anaknya yang lain, Akbar (8) dan Linda (4,5), Asminah menceritakan bahwa ide pom bensin mini itu tercetus dari almarhum suaminya, Maryanto (48). Jauh sebelum pom bensin mini, Asminah dan Maryanto sudah terlebih dahulu membuka warung sembako di rumahnya yang berukuran sekitar 5 x 10 meter.

“Saya yang jagain warung, suami saya kerja sebagai sopir di sebuah pabrik semen. Tapi karena beberapa tahun sebelum meninggal kondisinya terus memburuk akibat gagal ginjal, ya dia bantuin saya jaga warung aja,” kata wanita asal Kebumen, Jawa Tengah itu.

Kurangnya penghasilan dari warung sembako pun membuat Maryanto memutar otaknya untuk mendapat penghasilan lebih. Agustus 2012, salah seorang kawan Maryanto menganjurkannya agar mulai merintis menjadi pedagang bensin eceran dengan sistem mesin pom mini.

“Dengan pertimbangan kualitasnya lebih bagus dibanding bensin yang dijual eceran di dalam botol-botol, suami saya menyetujui. Selain itu, kawasan sini juga jarang ada pom bensin. Makanya sama suami saya dianggap bisa menguntungkan,” ujar Asminah.

Maklum, selain untuk membiayai Annisa yang berkuliah di Fakultas Sistem Informatika Universitas Gunadarma Depok, Asminah dan Maryanto juga harus membiayai hidup Akbar dan Linda.
“Penghasilan dari warung sehari paling cuma Rp 300.000 sampai Rp 400.000, nggak besar,” ujarnya.

Jadilah Asminah dan Maryanto sibuk mencari utang di bank untuk membeli sebuah mesin pom bensi mini berkapasitas 400 liter seharga Rp 70 juta.

“Mesin itu dibeli di Bandung. Nggak tahu deh pabriknya ada atau tidak, pokoknya beli di Bandung. Suami saya meninggal bulan Oktober, dua bulan setelah pom bensin mini ini jalan,” kata Asminah sambil tersenyum.

Pom bensin mini setinggi kurang lebih 170 sentimeter itu diletakkan dan ditanam sedalam satu setengah meter di depan rumahnya. Pihak RT hingga Kecamatan pun tidak mempermasalahkan keberadaan pom bensin mini itu.

“Soalnya sebelum mesinnya jalan,saya udah bikin izin dulu. Setelah diizinkan, baru deh dioperasikan. Saya beli bensinnya setiap malam hari. Beli nya 400 liter setiap hari dengan jeriken ukuran 35 liter. Belinya bolak-balik di pom bensin sekitar Perumahan Citra 2 Kalideres, biasanya keponakan saya yang bantu beli,” tutur Asminah.

Kendati belum balik modal, Asminah mengaku bahwa adanya pom bensin mini ini cukup membantu pendapatannya. Hingga kini, Asminah pun masih mencicil utang ke bank sebanyak Rp 2,2 juta per bulannya.

“Satu liternya saya jual Rp 5.000, dari harga asli Rp 4.500 per liter di pom bensin biasa. Saya ambil untung Rp 500 saja. Dalam sehari, 400 liter pasti habis. Yang isi nggak cuma motor. Kadang-kadang mobil juga ngisi. Kalau saya lagi di rumah, ya saya yang nungguin. Tapi kalau lagi ada si Annisa, ya dia aja yang ngelayanin pelanggan,” kata Asminah.

Kendati setiap hari menghirup aroma bensin, Asminah mengatakan itu bukanlah masalah.

“Awalnya sih memang bau bensin. Tapi lama-lama terbiasa kok. Warga sekitar juga nggak protes jadi ada bau bensin setiap hari,” katanya sambil tertawa.

Beberapa warga sekitar pun merasa diuntungkan dengan adanya pom bensin mini tersebut.

“Pom bensin paling dekat ada di Jalan Raya Tegal Alur. Jalannya jauh sekali dari rumah saya. Belum lagi sering macet karena ada di tengah-tengah kawasan pabrik. Beli bensin dengan sistem pom mini gini juga lebih terjamin kebersihan bensinnya, daripada beli di botol eceran,” kata Ata (58), pengendara motor warga Jalan Lingkungan, Tegalalur saat sedang mengisi bensin.(kar)

Editor: Willy Widianto
Sumber: Warta Kota
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
1528432 articles 0 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
    Jadilah yang pertama memberikan komentar
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas