• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Kamis, 30 Oktober 2014
Tribun Jakarta

Amelia Dikubur di Pabrik Kuali

Selasa, 7 Mei 2013 09:06 WIB
Amelia Dikubur di Pabrik Kuali
KOMPAS images/KRISTIANTO PURNOMO
Buruh pabrik industri pengolahan limbah menjadi perangkat aluminium terlihat saat rilis di Polres Kota Tangerang, Sabtu (4/5/2013). Polres Kota Tangerang dan Kontras menggerebek serta membebaskan 34 buruh yang disekap di pabrik wajan di Kampung Bayur Opak RT 03 RW 06, Desa Lebak Wangi, Kecamatan Sepatan Timur, Tangerang. KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO 

TRIBUNNEWS.COM,JAKARTA-- Sebongkah makam bayi usia di bawah lima tahun ditemukan di pekarangan pabrik kuali dan panci CV Cahaya Logam, milik pengusaha yang memperbudak buruhnya di Tangerang, Banten.

Sementara Yuki Irawan (41), pemilik CV Cahaya Logam yang telah ditetapkan menjadi tersangka utama kasus ini mengaku khilaf dan menyesali perbuatannya. Saat ini, Yuki berada dalam penahanan Polres Kabupaten Tangerang, mengatakan kepada polisi makam itu adalah makam putrinya, Amelia.

"Itu makam almarhum Amelia. Anak kedua dari Pak Yuki dan istri, Maya," ujar Kasat Reskrim Polres Kabupaten Tangerang, Komisaris Polisi Shinto Silitonga di kantornya, Senin (6/5).

Shinto membantah makam tersebut adalah makam buruh yang bekerja di pabrik itu. "Itu makam anaknya. Umur anaknya 3 tahun, saat meninggal dunia pada 14 Mei 1997 karena sakit muntaber," jelas Shinto.

Sementara Yuki Irawan, tersangka utama perbudakan dan penganiayaan puluhan buruh pabrik kuali di Tangerang, mengaku menyesali perbuatannya. Ia mengaku khilaf sehingga terjadi penyekapakan dan penganiayaan dalam usaha yang dikelolanya.

"Dia bilang sih menyesal, dia bilang khilaf. Tapi yang penting tanggung jawab pidana harus dijalankannya," kata anggota Komisi III DPR RI Indra, usai menemui tersangka Yuki di Mapolres Tangerang, Banten, Senin (6/5).

Selain penyesalan, Yuli juga menjelaskan duduk perkara sehingga kasus perbudakan buruh bisa terjadi di tempatnya itu. "Saya menyesalkan tindakan 'biadab' ini ada di sekarang ini. Ada intimidasi, upah tidak dibayar, ini patut diduga melanggar tindak pidana umum," ucap anggota komisi bidang hukum itu.

Indra yang datang seorang diri langsung didampingi Kapolres Tangerang, Komisaris Besar Bambang Priyondogo dan Kasat Reskrim Polres Tangerang Kompol Shinto Silitongan, langsung diarahkan menuju ruang penyidik untuk menemui tersangka.

Tak lama kemudian, tersangka Yuki didampingi petugas menuju ruang pertemuan. Yuki yang mengenakan baju tahanan berwarna biru memilih diam saat bertemu wartawan.

Dari 34 buruh yang dipekerjakan Yuki, hampir sebagian besar tidak dibayar upahnya. "Saya ketemu dengan tersangka Pak Yuki, saya minta penjelasan ke dia, saya minta dia membayar upah. Ini tentu harus diproses. Saya berkepentingan agar hak pekerja harus diselesaikan. Alhamdulillah, tersangka menyanggupinya. Katanya dalam waktu dekat. Mungkin nanti keluarganya dia yang follow up," ujar Indra di Mapolres Tangerang.

Selaku mitra kerja, Indra menyampaikan apresiasi kepada jajaran kepolisian Tangerang yang berhasil mengungkap kasus memilukan ini.

"Ini cermin bahwa negara lalai melindungi buruh. Kalau Disnaker, Kementerian Tenaga Kerja menjalankan fungsinya dengan baik, kasus ini mungkin bisa dihindari sedini mungkin," kata Indra, anggota Fraksi PKS yang berasal dari Dapil Banten III itu. ABDUL QODIR/ADI SUHENDI

Editor: Rachmat Hidayat
Sumber: Tribun Jakarta
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas