• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Sabtu, 25 Oktober 2014
Tribun Jakarta

Penjaja Burung Keliling ini Ternyata Insinyur Pertanian

Jumat, 17 Mei 2013 09:03 WIB
Penjaja Burung Keliling ini Ternyata Insinyur Pertanian
Warta Kota/Adhy Kelana
Sapto Sunardo alias Sukarna tengah menggendong anak bungsunya Darmawan Satoso yang kemarin sempat terserang penyakit demam di rumahnya di Jalan Damai Bawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Kamis (16/5/2013). Sapto yang sehari-hari berkeliling bersama Darmawan berjualan mainan ini bangga dengan kelima anaknya dua diantaranya sempat mendapat beasiswa. (Warta Kota/Adhy Kelana) 

Tribunnes.com, Jakarta - Nama Sapto Sunardo mendadak menyeruak di pemberitaan, setelah fotonya menunggang sepeda onthel dengan anaknya terbaring di setang sepeda terpampang di sebuah media. Gambaran sosok dan kehidupan sederhananya bersama keluarga, tak memperlihatkan bahwa mertuanya adalah seorang mantan diplomat.

Lelaki paruh baya ini adalah Sapto Sunardo. Sehari-hari, dia berkeliling di sekitar kawasan Setu Babakan hingga Pasar Minggu menggunakan sepedanya. Darmawan Santoso, anaknya yang baru berusia tiga tahun, adalah anak lelaki yang selalu menemaninya dan terjepret kamera wartawan sedang tidur di setang sepeda.

"Saya tak ingin menggantungkan hidup pada mertua," kata Sapto saat dijumpai, Kamis (16/5/2013). Dia mengaku ikhlas menjalani hidup sederhana, asalkan dari keringat sendiri. Prinsip ini menurut dia dipahami betul oleh istrinya, Yunita Herawati. Biarlah, kata dia, hidupnya berjalan tanpa tergantung pada orang lain.

"Bapak istri saya diplomat, tapi ya biarlah orangtua mampu ya biar orangtua," ujar Sapto lugas. Kalaupun di Jawa punya rumah banyak, kata dia, pada kenyataannya di Jakarta kehidupannya memang sederhana. Dia dan keluarga tinggal di Jl Moh Kahfi 1, Gang Damai, Jagakarsa, Jakarta Selatan.

Bahkan Sapto enggan menyebutkan nama mertuanya yang mantan diplomat itu, pun membahasnya. Meski demikian, di dinding ruang tamu terpampang potret seseorang yang tengah bersalaman dengan mantan Wakil Presiden Tri Sutrisno berlatar sebuah bandara. Sapto tidak menampik lelaki dalam potret itu adalah ayah sang istri.

Dalam foto lain di ruang yang sama, terlihat juga seorang lelaki tengah bersalaman dengan Presiden Soeharto. Sapto menyebut lelaki itu sebagai paman dari garis ibu, seorang Kepala Koperasi di Boyolali, Jawa Tengah. "Itu adik ibu saya," sebut dia.

Sarjana

Sosok keseharian Sapto juga tak menampakkan bahwa dia adalah seorang sarjana lulusan Universitas Sebelas Maret Surakarta, Jawa Tengah. Insinyur Pertanian, adalah titel akademisnya. Biasanya orang hanya terkejut setiap kali dia menjelaskan soal ikan hias dan burung yang menjadi dagangannya.

"Karena pekerjaan saya seperti ini, orang tahunya saya tidak sekolah," kata Sapto. Setiap kali ada pembeli yang terkejut dengan penjelasannya yang detil ketika ditanya soal ikan dan burung, dia pun hanya diam. "Daripada bilang insinyur tapi pekerjaannya begini."

Sapto dan Yunita memiliki lima anak. Si sulung kini duduk di kelas XII SMK 41, anak kedua kelas X di sekolah yang sama. Lalu, anak ketiga masih duduk di bangku kelas 3 SD, keempat kelas 1 SD, dan si bungsu adalah Darmawan yang membuatnya mendadak terkenal itu.

Pilihan sikap hidup sepertinya masih akan membuat hari-hari Sapto seperti saat sebelum fotonya muncul di media massa. Lengkap dengan buntalan kain yang menjadi tempat duduk Darmawan di setang, si bungsu yang lengket ke mana pun bapaknya berada. Foto mereka berdua dari bidikan lensa fotografer harian Warta Kota Adhy Kelana, Rabu (15/5/2013), menjadi saksi bisu perjalanan hidup yang telah dipilih dan ditekuninya.

Editor: Gusti Sawabi
Sumber: Kompas.com
2 KOMENTAR
1795542 articles 0 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
  • pawan sandai-Rabu, 22 Mei 2013 Laporkan
    salah satu potret kelam negara ini dimana seorang sarjana tidak menjamin seseorang untuk hidup sejahtera dan dimana negara belum mampu mensejahterakan rakyatnya sebagaimana yang tertulis dalam undang-undang.... #ironi
  • Gandi Bae-Jumat, 17 Mei 2013 Laporkan
    Apa yg bapak ini cari? jangan sampai orang lain jd korban, apalagi anak sendiri,jangan jadi "tikus yang mati di lumbung padi" pak.., bapak punya ilmu hrus nya di manfaatkan atau diamalkan, yang pastinya sangat berguna dan di butuhkan banyak orang.,
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas