• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Jumat, 24 Oktober 2014
Tribun Jakarta

Afriska Pukul Korban Sodomi dengan Gagang Sapu

Selasa, 15 April 2014 18:49 WIB
Afriska Pukul Korban Sodomi dengan Gagang Sapu
Surya/haorrahman
Ilustrasi: Polisi menunjukkan alat bukti gagang sapu.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Afriska, tersangka perempuan dalam kasus sodomi terhadap AK (6) bocah laki-laki keturunan Belanda, siswa TK di Jakarta International School (JIS), Pondok Indah, Jakarta Selatan, juga melakukan pemukulan terhadap AK.

Ibunda AK, TW (40) mengatakan dari keterangan anaknya itu, Afriska lah yang memukul perut dan wajahnya dengan sapu, saat AK akan disodomi oleh dua pelaku. "Anak saya bilang pelaku perempuan memukulnya di perut dan wajahnya dengan sapu. Dia bilang 'she hit me'," kata TW.

Menurut TW, dari keterangan AK, Afriska memukulnya karena saat buang air kecil di toilet sekolah, air kencingnya berceceran. Pukulan itu, kata TW membuat anaknya takut, dan pada akhirnya para pelaku pria yang merupakan petugas kebersihan toilet menyodominya.

"Dalihnya dengan mereka akan mengeluarkan semut dari pensil," kata TW.

TW memaparkan peran Afriska dalam perbuatan sodomi tersebut adalah ikut melucuti baju dan celana AK. Afriska juga yang mengancam AK agar mau disodomi pelaku di toilet sekolah serta mengancam AK supaya tidak mengatakan kepada siapapun mengenai apa yang menimpanya, setelah para pelaku melampiaskan nafsu bejatnya.

"Anak saya kan hanya bisa berbahasa Inggris. Sementara para pelaku pria tidak bisa berbahasa Inggris. Nah, hanya si Afriska, yang perempuan itu yang bisa bahasa Inggris. Jadi dia yang mengancam anak saya dengan bahasa Inggris. Begitu pengakuan anak saya," papar TW, Selasa (15/4/2014).

AK merupakan anak pertama dari dua bersaudara pasangan TW dan DK (33). TW merupakan perempuan asal Surabaya sementara DK pria warga negara Belanda yang tinggal dan bekerja di Indonesia. Mereka tinggal di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Rikwanto mengungkapkan, dalam kasus ini pihaknya sudah menetapkan 3 tersangka dimana ketiganya adalah petugas kebersihan sekolah. Mereka adalah yakni Agun, Firziawan alias Awan (keduanya lelaki), dan seorang perempuan Afriska. "Dua tersangka pria kami tahan sementara yang perempuan tidak," kata Rikwanyo.

Menurutnya para tersangka melakukan kekerasan seksual dengan pendekatan tersendiri terhadap korban dimana menggunakan bahasa anak-anak. "Seperti mengeluarkan semut dari pensil. Namun prakteknya bendanya berbeda," kata Rikwanto, Selasa (15/4/2014).

Ia mengungkapkan untuk kedua tersangka yakni Agun dan Awan adalah karyawan outsourcing penyedia jasa petugas kebersihan dari ISS. Karenanya kepolisian akan memeriksa ISS untuk mendalami perilaku kedua tersangka.

Ia menjelaskan Agun dan Awan akan dijerat Pasal 292 KUHP tentang pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur dan Undang-Undang Perlindungan Anak No 23/2002 dengan ancaman hukuman maksmal 15 tahun. Sementara untuk Afriska masih di dalami perannya dan untuk sementara tengah dicari pasal turut serta dalam melakukan tindak pidana.(Budi Malau)

Editor: Hendra Gunawan
Sumber: Warta Kota
7 KOMENTAR
3179721 articles 0 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
  • irwan-Selasa, 22 April 2014 Laporkan
    Seandainya INDONESIA kita ini...
    Memberlakukan SISTEM Sbb :

    - Pelaku PEMERKOSAAN Atau PENCABULAN Ga Perlu Di Penjarain Bertahun Tahun... Jika tertangkap Langsung POTONG aja KELAMINNYA..
    - Pelaku PENJAMBRETAN/PERAMPOKAN.. Jika tertangkap POTONG TANGAN-POTONG KAKI..
    - Pelaku PEMBUNUHAN... jika tertangkap HUKUMAN MATI..
    - Pelaku KORUPSI... Jika Tertangkap DIBUTAKAN KEDUA BOLA MATANYA...

    APA MASIHKAH ADA YG BERANI Mencoba Melakukannya Lagi?

    Dikarenakan Di INDONESIA INI SUDAH TERLALU BANYAK SAMPAH MASYARAKAT YG BERKELIARAN.. Jadi Kalo Sudah Tidak Bisa Di BINA.. DIBINASAKAN AJA SEKALIAN...
  • Elle-Kamis, 17 April 2014 Laporkan
    Seharusnya pelaku wanita nya pun di hukum mati!! D mana otak nya membiarkan anak kecil di sodomi dan di pukuli..sakit jiwa mereka semua!!! Hukum mati saja semua!!!BIADAB!! TIDAK PUNYA OTAK!! BAGAIMANA JIKA KEJADIAN INI MENIMPA ANAK MEREKA!! SEMUA PELAKU YG TERLIBAT HARUS DI HUKUM MATI DAN SEBELUMNYA ANUS MEREKA DI MASUKI BESI PANAS DAN BELATUNG!! BIADAB MEREKA HARUS DI BALAS !!!!!!
  • kwee a soe-Rabu, 16 April 2014 Laporkan
    ni akibatnya kalo terlalu toleran ama banci, harusnya mereka yang kategori ginian diisolir dalam satu pulau aja, khan bisa semau2 mereka sampe modar.
  • Novran NuSoul-Rabu, 16 April 2014 Laporkan
    BETAPA BRENGSEKNYA MORAL SEBAGIAN ANAK BANGSA INDONESIA INI, SUNGGUH MEMALUKAN..... HUKUM MATI PARA PELAKU LAKNAT BIADAB INI.... JANGAN KASIH AMPUNNN,.. BIAR PEMBELAJARAN BUAT PELAKU KRIMINAL EXTRIM DI NEGARA INI...
  • Cadematta-Rabu, 16 April 2014 Laporkan
    Setuju mayo cuk.... Pantas dihukum Mati....kasus ini menyakiti nurani publik... Menimbulkan keresahan orangtua.... Ketidak percayaan kepada pada sekolah. Hanya HUKUMAN MATI yang pantas utk org2 seperti itu sehingga tidak terulang kasusnya....
  • Mayo Cuk-Selasa, 15 April 2014 Laporkan
    hukum indonesia memang kacangan, masa daya rusak yg luar biasa pada korban kok para pelaku cuman diancam 15 tahun penjara....mana nanti tiap lebaran dapat remisi. bener bener brengsek instrumen, penegakan, dan aparatur hukumnya! Kasus seperti ini harusnya tidak ada hukuman lain selain HUKUMAN MATI !
  • Darsihimel-Selasa, 15 April 2014 Laporkan
    Zaman sudah edan...
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas