WNI Disandera Abu Sayyaf

Adik Jadi Sandera Abu Sayyaf, Indra Tidak Takut Berlayar

Darah menjadi pelaut rupanya turunan dari ayah mereka yang juga seorang pelaut.

Adik Jadi Sandera Abu Sayyaf, Indra Tidak Takut Berlayar
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi menyalami keluarga anak buah kapal (ABK) yang sempat disandera kelompok Abu Sayyaf menghadiri upacara serah terima kepada keluarga di kantor Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Jumat (13/5/2016). Keempat ABK warga Indonesia dibebaskan dari sandera yaitu M Ariyanto Misnan (22/nakhoda), Loren Marinus Petrus Rumawi, Dede Irfan Hilmi (25) dan Samsir (35) diserah terimakan kepada pihak keluarga. TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN 

TRIBUNNEWS.COM, BEKASI - Indra dan Mohammad Arianto Misnan (23)‎ alias Rian, kakak beradik ini sama-sama bekerja sebagai pelaut.

Darah menjadi pelaut rupanya turunan dari ayah mereka yang juga seorang pelaut.

Menjadi pelaut pasti memiliki banyak risiko, seperti yang dialami Rian saat menjadi Nahkoda kapal TB Henry yang disandera selama 28 hari oleh kelompok Abu Sayyaf di Filipina.

Setelah berhasil dibebaskan dari sandera dan dipulangkan ke tanah air. Dua kakak beradik ini saling berpelukan melepas kangen.

Pada sang kakak, Rian menceritakan kisahnya selama menjadi sandera. Air mata pun menetes dikala Rian harus mengingat kembali peristiwa yang dialaminya.

"Saya pas ketemu kami pelukan, melepas kangen. Dia cerita selama disandera itu seperti di penjara, diawasi terus. Tidur di pohon, makan sisa orang sampai BAB saja diawasi," ucap Indra, Sabtu (14/5/2016) di kediamannya Jl Garuda V Rawalumbu, Bekasi Timur.

Ketika ditanya apakah setelah mendengar cerita Rian, Idra menjadi takut melaut bahkan memilih alih profesi? Indra menjawab ia akan tetap melaut.

Dijawab Indra melaut adalah cita-citanya sedari kecil. Ia tetap ingin mengikuti jejak almarhum sang ayah yang juga seorang pelaut.

"Rasa takut pasti ada, tapi ya saya pelaut dan akan tetap melaut. Berdoa saja yang terbaik. Justru setelah semuanya ini selesai, adik saya (Rian) kembali ke rumah, saya mau melaut lagi," bebernya.

‎Untuk diketahui, empat ABK TB Hendry termasuk Rian diculik dan disandera faksi kelompok Abu Sayyaf di perbatasan laut Filipina-Malaysia, sejak 15 April 2016 saat perjalanan dari Cebu, Filipina ke Tarakan, Kalimantan Utara.

Mereka berhasil dibebaskan pada Rabu (11/5/2016) setelah 28 hari disandera oleh kelompok bersenjata tersebut. Setibanya di Indonesia, empat ABK sempat dibawa ke RSPAD Gatot Subroto untuk diperiksa kesehatannya.

Setelah dinyatakan sehat oleh pihak dokter, berlangsung acara penyerahan di Kemenlu yang diliputi rasa haru. Akhirnya, empat ABK bisa bertemu dengan keluarganya.

Penulis: Theresia Felisiani
Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com © 2018
About Us
Help