Pilgub DKI Jakarta

Ahok Harus Ingat Bagaimana Foke Bisa Tumbang

Salah satu alasan Foke tumbang adalah gaya komunikasinya yang tidak mendapat simpati dari masyarakat.

Ahok Harus Ingat Bagaimana Foke Bisa Tumbang
Tribunnews.com/Nurmulia Rekso Purnomo
Vishnu Juwono 

Laporan Wartawan TRIBUNnews.com, Nurmulia Rekso Purnomo

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA --- Jakarta pernah dipimpin oleh Fauzi bowo alias Foke, seorang Gubernur DKI Jakarta yang gaya bicaranya tegas, dan tak segan untuk memarahi warga. 2017. Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Indonesia, Vishnu Juwono, mengatakan hal itu juga yang menumbangkan Foke.

Pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI jakarta 2012 lalu, Fokte yang berstatus petahana bisa ditumbangkan oleh Joko Widodo, yang saat itu masih berstatus Wali Kota Solo. Vishnu Juwono mengatakan salah satu alasan Foke tumbang adalah gaya komunikasinya yang tidak mendapat simpati dari masyarakat.

"Kita ingat, Fauzi Bowo bicara kasar dengan masyarakat bawah, itu backfire (red: menjadi serangan untuk diri sendiri)," ujarnya dalam diskusi yang digelar di sebuah restoran di kawasan SCBD, Jakarta Selatan, Kamis (29/9/2016).

Joko Widodo alias jokowi saat itu bisa menampilkan gaya komunikasi dengan baik ke masyarakat. Alhasil pasangan Jokowi - Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang sebelumnya tidak diperhitungkan, bisa menumbangkan petahana.

Saat ini Jokowi sudah berstatus Presiden RI, dan Ahok naik menjadi Gubernur DKI Jakarta. Saat ini permasalahan Ahok sama seperti Foke menurut Vishnu Juwono, yakni gaya berkomunikasi. Ia menyebut hal itu bisa menjadi bumerang bagi Ahok, yang saat ini elektabilitasnya tengah stagnan.

Berdasarkan berbagai survei, penerimaan masyarakat Jakarta atas kinerja Ahok dapat dikatakan baik. Namun elektabilitasnya cendeung stagnan walaupun masih jauh lebih baik dari kandidat Pilkada DKI Jakarta 2017 lainnya. Berdasarkan berbagai survei diketahui elektabilitas petahana tidak sampai di atas 50 persen, dan tidak kunjung naik.

Sebagai seorang petahana adalah sebuah kewajaaran bila elektabilitasnya jauh lebih baik dari kandidat lainnya. Namun stagnansi eletabilitas itu harus diantisipasi, karena sangat rawan untuk disalib kandidat lain.

Vishnu Juwono mengaku percaya gaya berkomunikasi Ahok yang cenderung konfrontatif, bisa dihargai jika cara bicara itu ditujukan kepada pejabat korup.

Namun ketika gaya yang sama diterapkan kepada masyarakat kelas menengah bawah, maka yang terjadi justru Ahok tidak mendapat simpati. Oleh karena itu Ahok harus menyesuaikan gaya bicaranya agar elektabilitasnya tetap baik.

"Tapi ada jeleknya juga, kalau tiba-tiba Ahok sopan santun, orang lihat dia sebagai politisi biasa, orang lihat dia tidak otentik, jadi harus ada keseimbangan," katanya.

Penulis: Nurmulia Rekso Purnomo
Editor: Hendra Gunawan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved