Pilgub DKI Jakarta

Anies: Banyak Yang Tanya, Bagaimana Orang Santun Hadapi Kerasnya Jakarta

Anies Baswedan mengaku banyak yang bertanya kepadanya apakah orang santun dapat menyelesaikan permasalahan di Jakarta.

Anies: Banyak Yang Tanya, Bagaimana Orang Santun Hadapi Kerasnya Jakarta
Tribunnews.com/ Nurmulia Rekso Purnomo
Bakal Calon Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, belusukan di kawasan permukiman padat penduduk, di Kampung Waru Doyong, Cakung, Jakarta Timur, Minggu (16/10/2016). 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Bakal calon Gubernur DKI Anies Baswedan mengaku banyak yang bertanya kepadanya apakah orang santun dapat menyelesaikan permasalahan di Jakarta.

Mereka yang melontarkan pertanyaan tersebut, menurut Anies, berpandangan Jakarta dengan sekelumit permasalahan di dalamnya hanya tepat dipimpin oleh orang yang berwatak keras dan berkata-kata lantang.

"Jakarta adalah tempat yang keras, Jakarta itu tempat yang penuh masalah dan banyak kepentingan besar. Sehingga kemudian banyak yang bertanya bagaimana kalau (orang) santun menghadapi itu semua," kata Anies dalam diskusi di kawasan Pancoran, Jakarta Selatan, Rabu (19/10/2016) malam.

Menurut Anies banyak yang mengasosiasikan keberanian dengan kelantangan suara padahal itu berbeda.

Begitu juga dengan pemikiran yang menilai masalah di Jakarta hanya bisa diatasi oleh pemimpin yang berwatak keras dan berkata-kata lantang, menurut Anies hal itu juga kurang tepat.

Ia mencontohkan kepemimpinan Panglima Besar TNI Jenderal Soedirman saat memukul mundur kolonial belanda pada masa revolusi nasional.

Keberhasilan tersebut muncul karena keberanian bukan karena kata-kata yang keras.

Anies kemudian menjelaskan Jenderal Soedirman tumbuh besar di sekolah. Ia berprofesi sebagai guru sebelum kemudian terjun ke dunia militer dan akhirnya menjadi Panglima TNI.

"Panglima kita yang berani dan bekerja tuntas, seorang guru. Guru yang berasal dari sekolah guru dan dia yang berhasil memberi pukulan telak kepada kolonial untuk diusir dari republik ini," papar Anies Baswedan.

Selain itu Anies Baswedan juga ‎mengaku kurang sependapat dengan pemikiran kata-kata yang dilontarkan pemimpin itu tidaklah begitu penting. Mereka yang berpandangan seperti itu menilai baik buruknya seorang pemimpin dilihat dari hasil kerjanya bukan apa yang diucapkanya.

Kondisi tersebut menurut Anies seakan melegitimasi seorang pemimpin untuk bebas mengucapkan apa saja asal merasa telah bekerja dengan baik.

Apabila kemudian ada yang tersinggung dengan ucapan pemimpin tersebut maka yang salah adalah orang yang merasa tersinggung.

"Kerja itu penting tapi kalau kerja tanpa kata-kata di situ tidak ada makna. Kalau kata-kata tanpa ada gagasan, itu tidak ada arti. Karena itu gagasan diterjemahkan dalam kata, diterjemahkan dalam karya," papar Anies.

Dengan kata-kata yang baik menurut Anies akan tercipta sebuah interaksi sosial di masyarakat. Dengan interaksi sosial yang baik munculah gagasan untuk kemudian memecahkan persoalan yang ada. Sementara yang terjadi di Jakarta menurut Anies budaya yang diciptakan adalah menjauhkan interaksi.

"Karena itu kenapa Jakarta makin keras makin banyak masalah, karena yang dilahirkan bukan yang membangun budaya interaksi tapi menjauhkan interaksi. Itu yang ingin kita sebaliknya," pungkas Anies.

Penulis: Taufik Ismail
Editor: Sanusi
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2016
About Us
Help