Pilgub DKI Jakarta

Dipanggil Polisi Kasus Penggelapan, Polda Metrojaya: Untuk Klarifikasi dan Statusnya Saksi

Keduanya diduga melakukan penggelapan terkait penjualan sebidang tanah di Jalan Raya Curug, Tangerang Selatan, Banten, pada 2012 silam.

Dipanggil Polisi Kasus Penggelapan, Polda Metrojaya: Untuk Klarifikasi dan Statusnya Saksi
Repro/Kompas TV
Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta nomor urut tiga, Sandiaga Uno menjawab pertanyaan wartawan terkait pelaporan dirinya ke polisi oleh Edward Suryajaya, di Jakarta, Selasa (14/3/2017). Sandiaga Uno dilaporkan ke polisi karena diduga menggelapkan penjualan sebidang tanah di Tangerang Selatan, Banten pada 2012 lalu. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Penyidik Polda Metro Jaya (PMJ) akan memanggil Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta nomor urut tiga Sandiaga Salahudin Uno.

Pemanggilan tersebut guna mengklarifikasi laporan terkait tuduhan tindak pidana penggelapan.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Komisaris Besar Argo Yuwono megatakan, Sandiaga akan dipanggil penyidik pada Selasa (21/3/2017) besok.

"Ya, benar. Ada agenda panggilan klarifikasi terhadap Sandiaga Uno, besok (Selasa) siang," ujar Argo Yuwono di Mapolda Metro Jaya, Semanggi, Jakarta Selatan, Senin (20/3/2017).

Komisaris Besar Raden Prabowo Argo Yuwono mengatakan, penyidik memanggil Sandiaga untuk dimintai keterangan sebagai saksi.

"Klarifikasi saja. Statusnya penyelidikan. Kan' memeriksa saksi-saksi," ujar Prabowo Argo Yuwono.

Kasus ini bermula, ketika Sandiaga dan Andreas berencana menjual asset tanah PT Japirex seluas sekitar 6 ribu meter persegi yang berlokasi di jalan Curug Raya KM 3.5 Tangerang Selatan.

Di belakang tanah asset PT Japirex itu terdapat tanah seluas 3 ribu meter persegi milik Djoni Hidayat. Diketahui Djoni Hidayat juga tercatat sebagai manajemen di PT Japirex.

Tanah 3 ribu meter milik Djoni itu adalah tanah titipan dari mendiang Happy Soeryadjaya yang tak lain adalah istri pertama dari konglomerat Edward Soeryadjaya.

Sandiaga dan Andreas mengajak Djoni untuk ikut menjual tanahnya dengan iming-iming akan ada keuntungan dengan penjualan itu.

Akhirnya lahan seluas 9 ribu meter persegi itu terjual seharga Rp 12 miliar pada tahun 2012 lalu.

Tapi, Djoni hanya menerima Rp 1 miliar hingga pihaknya membuat laporan ke Polda Metro Jaya. Pihak mendiang Happy Soeryadjaya mengaku tak pernah menerima pembagian uang hasil penjualan tanah tersebut.

Penulis: Dennis Destryawan
Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017
About Us
Help