Pilgub DKI Jakarta

Djarot: Sudahlah, Stop Mengeksploitasi Agama demi Dapatkan Kekuasaan

Calon wakil gubernur DKI Jakarta nomor pemilihan dua, Djarot Saiful Hidayat, berharap tidak ada pihak yang memanfaatkan agama untuk mengejar kekuasaan

Djarot: Sudahlah, Stop Mengeksploitasi Agama demi Dapatkan Kekuasaan
Tribunnews.com/Fitri Wulandari
Calon Wakil Gubernur DKI petahana Djarot Saiful Hidayat menggendong seorang balita yang sedang diperiksa tumbuh kembangnya di posyandu yang terletak di Jalan Bidara, Grogol Petamburan, Jakarta Barat, Selasa (21/3/2017). 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Calon wakil gubernur DKI Jakarta nomor pemilihan dua, Djarot Saiful Hidayat, berharap tidak ada pihak yang memanfaatkan agama untuk mengejar kekuasaan.

Ia menyampaikan hal tersebut saat menanggapi adanya penolakan terhadap kedatangannya ke acara zikir bersama untuk memperingati haul Presiden kedua RI, Soeharto, dan Supersemar di Masjid At Tin, Kompleks Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur, beberapa waktu lalu.

"Sekali lagi untuk masalah seperti ini jauhkanlah yang mengeksploitasi atau yang menggunakan agama hanya demi mendapatkan kekuasaan. Saya pikir stop," kata Djarot di Cipulir, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan seperti dikutip Kompas.com, Selasa 14 Maret 2017.

Saat datang ke Masjid At Tin pada Sabtu kemarin, Djarot sempat dihalangi ketika akan masuk ke lokasi acara.

Namun ia tetap bisa masuk dan mengikuti acara tersebut.

Selain itu, saat akan meninggalkan lokasi seusai acara, Djarot sempat disoraki sebagian orang.

Menurut Djarot, tindakan orang-orang yang menghalangi dan menyorakinya itu sangat tidak baik dan berbahaya.

Sebab menurut dia, tindakan itu dapat memecah belah masyarakat. Tidak hanya di ruang lingkup Jakarta, tetapi juga di Indonesia.

Baca: Ahok Cuma Ingin Dengarkan Tiga Saksi Hari Ini

Untuk mencegah hal serupa terulang, ia menilai aparat perlu megambil tindakan tegas.

"Jangan sampai terulang, terjadi lagi, termasuk pemasangan spanduk-spanduk yang provokatif, stop. Bahwa ini akan bisa sekali lagi memecah belah masyarakat di Indonesia. Ingat lho ini di Jakarta, ditonton, dilihat seluruh warga di Indonesia, termasuk warga dunia," kata Djarot.

Ia juga menilai, dalam berdemokrasi, masyarakat seharusnya diberi kebebasan untuk memilih sesuai dengan hati nuraninya masing-masing.

"Maaf ya, saya mengambil istilah Buya Syafi’i Maarif yang kemarin itu tindakan yang primitif dan menghalalkan segala cara untuk memainkan simbol-simbol agama dalam rangka meraih kekuasaan," ujar Djarot.

Editor: Dewi Agustina
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com © 2017
About Us
Help