Kasus Ahok

Saksi Ahli: Maksud Kalimat Ahok Jangan Percaya Sama Orang Adalah Jangan Percaya Gosip

Rahayu menegaskan pelaku dalam kalimat yang dilontarkan Ahok atau pelaku yang berbohong adalah orang

Saksi Ahli: Maksud Kalimat Ahok Jangan Percaya Sama Orang Adalah Jangan Percaya Gosip
Capture Youtube
Sidang ke-12 kasus dugaan penodaan agama, kembali digelar hari ini (28/2) di Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan. Agenda sidang, mendengarkan keterangan 2 orang ahli. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA- 'Jadi jangan percaya sama orang' dianalisa menjadi induk kalimat yang diucapkan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaha Purnama alias Ahok di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, September 2016 mengenai Surat Almadiah 51.

Guru Besar Linguistik Universitas Indonesia Rahayu Suriati membagi kalimat tersebut ke dalam enam klausa. Klausa pertama adalah 'jangan percaya sama orang', klausa kedua adalah 'bisa saja kan dalam hati kecil bapak ibu tidak pilih saya'.

Kemudian klausa ketiga adalah 'dibohogi pake surat Al Maidah 51, macam-macem itu', klausa keempat adalah 'Itu hak bapak ibu', klausa kelima adalah 'jadi bapak ibu nggak bisa milih nih' dan klausa keenam adalah 'karena saya takut masuk neraka, dibodohin gitu ya, enggak apa-apa'.

"Jadi induk kalimatnya adalah jangan percaya sama orang. Itu induk kalimatnya," kata Rahayi Suriati saat memberikan kesaksian di Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta, Selasa (21/3/2017).

Rahayu mengatakan kalimat tersebut menjadi induk kalimat karena bisa berdiri sendiri. Sementara kalimat selanjutnya menjelaskan dalam hati bapak ibu menjelaskan agar tidak percaya kepada orang begitu seterusnya.

Sementara penggalan kalimat 'dibohongi pakai surat Almaidah 51 macemm-macem itu' tidak bisa berdiri sendiri karena harus ada subyek yang dikenai tindakan.

"Kalau dia berdiri sendiri harus ada subkyek yang dikenai tindakan. Bapak ibu bisa hilang karena dia ada dalam satu kalimat yang panjang. Jadi kalau dia berdiri sendiri bunyinya 'bapak ibu dibohongi pakai Almaidah 51 macam macam itu'," ungkap dia.

Dari penggalan-penggalan tersebut, Rahayu menegaskan pelaku dalam kalimat yang dilontarkan Ahok atau pelaku yang berbohong adalah orang. Namun orang tersebut telah mengalami perubahan makna artinya bukan lagi menunjuk seseorang namun telah berubah menjadi sebuah idiom.

"Jangan percaya sama orang itu satu ungkapan beku yang arti orang sudah berubah. Dia tidak menunjuk pada orang seorang tapi jadi sebuah idiom yang artinya jangan percaya desa-desus, gosip," kata dia.

"Dalam percakapan sering kita bilang jangan sering percaya sama orang Ini hampir sama menjadi idiom, tidak sama dengan makna di kamus," kata ahli bahasa itu.

Penulis: Eri Komar Sinaga
Editor: Hendra Gunawan
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017
About Us
Help