Bambang Prakarsai Gelar Pentas Budaya “Kartini dan Perempuan Penggiat Perdamaian"

Ruang apresiasi bagi kaum perempuan saat ini semakin terbuka. Perempuan diberi kesempatan untuk menunjukkan eksistensinya.

Bambang Prakarsai Gelar Pentas Budaya “Kartini dan Perempuan Penggiat Perdamaian
ist
Bambang Oeban 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ruang apresiasi bagi kaum perempuan saat ini semakin terbuka. Perempuan diberi kesempatan untuk menunjukkan eksistensinya.

“Peran perempuan untuk membangun bangsa tentu saja mutlak diperlukan. Hal ini didasari oleh berbagai macam kemampuan dan potensi yang dimiliki kaum perempuan, baik secara general maupun individual,” ujar seniman dan budayawan Bambang Oeban, kepada sejumlah wartawan, di sekretariat Natural Indonesia, Kebon Pala Kampung Makasar, Jakarta Timur, Jum’at (21/04/2017).

Pandangan yang disampaikan anggota Bengkel Teater Rendra ini, terkait dengan gagasan dan rencananya menggelar apresiasi sejarah menyoal kaum perempuan. Bambang memprakarsai gelar pentas budaya bertajuk “Kartini dan Perempuan Penggiat Perdamaian,” yang akan digelar di Gedung Pusat Perfilman H. Usmar Ismail (PPHUI), Kuningan Jakarta, pada tanggal 27 April 2017 mendatang.

“Kartini membuka perspektif baru, bahwa perempuan memiliki kesempatan yang sama dalam meraih pendidikan, berkarir dan menggapai cita-cita setinggi mungkin,” kata penyandang Penghargaan Anugerah Kebudayaan dari Departemen Pariwisata dan Kebudayaan RI, tahun 2006 ini.

Beberapa dekade, lanjut Bambang, muncul ‘Kartini-Kartini’ baru meneruskan perjuangan. Menginspirasi para perempuan mengembangkan kualitas diri.

“Bukan saja menjadi ibu atau seorang istri sebagaimana kodratnya, namun kemajuan perempuan merambah hampir di semua sektor kehidupan. Menjadi guru, artis, sutradara, penulis, seniman, budayawan, pejabat, birokrat, politisi, hingga memimpin perusahaan,” paparnya.

Gelar pentas budaya ‘Kartini dan Perempuan Penggiat Perdamaian’ , kata Bambang, adalah apresiasi sejarah terkait dengan peran serta kaum perempuan dari masa ke masa.

Dari menyoal sosok Malahayati dengan 2000 janda prajurit kerajaan Aceh yang gugur bertempur melawan Portugis, Nyi Ageng Serang (Purwodadi, Jawa Tengah), Cut Nyak Dien-Cut Meutia (Aceh), Martha Chritina Tiahahu (Ambon), Opu Daeng Siraju (Sulawesi Tengah), hingga Siti Manggopoh (Sumatera Barat). Mereka adalah para perempuan pemberani mengangkat senjata ke medan laga.

Pergelaran‘Kartini dan Perempuan Penggiat Perdamaian’ ini adalah pementasan pembacaan sajak-sajak dengan sentuhan musik, tari, dan teater.

Diselenggarakan atas kerjasama Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia, dan Natural Indonesia.

Melibatkan puluhan seniman, budayawan, aktor, aktris, pejabat, birokrat, dan tokoh masyarakat.

Menampilkan Prof. Yohana Susana Yembise (Menteri Pemperdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia), Prof. Dr. Vennetia Ryckerens Danes, MSc, PhD, (Deputi Bidang Perlindungan Hak Perempuan), Aning Katamsi (penyanyi seriosa soprano), Clara Sinta (aktris, putri almarhum WS. Rendra), Asti Fajriani (pianis), Boy Tirayoh (aktor), dan puluhan seniman lainnya.

“Semua kami rangkai menjadi harmoni dan manifestasi roh kesenian bersifat spirit yang menggambarkan perjuangan, eksistensi dan partisipasi kaum perempuan,” ujar Bambang.

Gelar pentas budaya ini juga menghadirkan para inspirator perempuan, antara lain; Suraiya Kamaruzzaman, yang berhasil meredakan konflik di Aceh. Lian Gogali, yang berhasil mengatasi konflik Poso (Sulawesi Tengah).

Yusan Yeblo, pejuang hak pribumi di Papua, termasuk Dewi Kanti, yang mempertahankan budaya Sunda Wiwitan, di Kuningan, Jawa Barat.

“Pementasan ini mengingatkan bahwa dari rahim perempuan, melahirkan anak bangsa, bersuku-suku, agama dan ras berbeda. Sekiranya terjadi perpecahan, perempuanlah yang pertama merasakan betapa hatinya tersayat luka. Maka perdamaian mesti ditegakkan,” tutur Bambang berapi-api.

Selain pentas budaya, momen tersebut juga diisi pameran foto dengan tema, ‘Perempuan Pejuang Indonesia–Dari Masa Ke Masa’.

Menampilkan dan merepresentasikan sejumlah tokoh perempuan sejak masa pra-kemerdekaan hingga orde milenium, antara lain; Nyi Ageng Serang, Martha Christina Tiahahu, Tjut Nja Dien, Tjut Muthia, Nyai Ahmad Dahlan, Raden Ajeng Kartini, Raden Dewi Sartika, dan Fatmawati Soekarno. Tokoh-tokoh perempuan masa kini antara lain memamerkan sosok Lasiyah Soetanto, AS Moerpratomo, Tuti Alawiyah, Mien Sugandhi, dan Khofifah Indar Parawansa.

Tertera juga para tokoh perempuan yang berkecimpung di bidang film dan budaya, antara lain; Sofia WD, Wolly Sutinah, Fifi Young, Chitra Dewi, Mieke Wijaya, Sunana, Marlia Hardi, Rae Sita, Rima Melati, Aminah Cendrakasih, Christine Hakim, hingga Marcella Zalianty, yang kini menjadi Ketua Umum PARFI 56.

“Tidak sedikit perempuan berprestasi dan mengharumkan nama Indonesia. Termasuk ikut menjaga perdamaian. Mereka patut kita tampilkan sebagai sosok yang menginspirasi,” papar Bambang.

Editor: Toni Bramantoro
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017
About Us
Help