Berita KBR

Begini Kehidupan Toleransi Kristen-Islam di Kampung Tengah, Jakarta Timur

Seratusan keluarga di Gang Eka Dharma, Kampung Tengah, Kramat Jati, Jakarta Timur, telah puluhan tahun hidup rukun.

Begini Kehidupan Toleransi Kristen-Islam di Kampung Tengah, Jakarta Timur
Ninik Yuniati/KBR
Ibadah Minggu jemaat Gereja Kristen Pasundan di Kampung Tengah, Kramat Jati, Jakarta Timur. 

TRIBUNNEWS.COM - Seratusan keluarga di Gang Eka Dharma, Kampung Tengah, Kramat Jati, Jakarta Timur, telah puluhan tahun hidup rukun. Umat Islam dan Kristen bahu membahu membangun kampung nan toleran.

Berbagai tradisi kebersamaan yang diwariskan antargenerasi mampu mencegah potensi perpecahan yang sempat mengancam saat momen Pilkada Jakarta lalu.

Berikut kisah lengkapnya seperti yang dilansir dari Program Saga produksi Kantor Berita Radio (KBR).

Minggu pagi, wartawan KBR, Ninik Yuniati menyusuri jalan sempit Gang Eka Dharma. Sayup-sayup terdengar nyanyian rohani. Dua ratusan jemaat Gereja Kristen Pasundan (GKP) tengah khusyuk beribadah.

Selang beberapa jam, usai ibadah, azan berkumandang di gang yang sama. Mengajak umat Muslim  melaksanakan salat Dhuhur.

Suara itu berasal dari mushala Al Mukhalishiin yang hanya berjarak sekitar 50 meter dari gereja.

Aktivitas dua rumah ibadah dari dua agama ini mewarnai kehidupan sehari-hari warga RT 001/RW 4 Kampung Tengah, Kramat Jati, Jakarta Timur. Selama 50 tahun lebih, umat Kristen dan Islam di kampung ini hidup berdampingan.

Bagi warga Gang Eka Dharma, toleransi dan kerukunan bukan hanya ada di mimbar khotbah atau tausiyah.

Estu Baiin, salah satu warga Kampung Tengah mengatakan kerukunan beragama merupakan tradisi yang diwariskan sejak turun temurun. Itu terbukti ketika pembangunan gereja dan mushala dikerjakan bersama-sama.

Gereja Kristen Pasundan (GKP) berdiri lebih dulu pada awal tahun 1970-an. Sedang mushala Al Mukhalishiin pada 1990-an.

“Waktu itu saya dapat cerita dari orangtua saya bahwa pembangunan awal gedung gereja ini itu didukung oleh lurah. Lurahnya itu datang ke sini untuk menghadiri mendukung pembangunan gedung gereja. Itulah bentuk hubungan yang baik antara warga jemaat di tempat ini dengan aparat-aparat maupun dengan warga-warga lain, saudara-saudara kita yang tidak seiman tapi mereka sangat baik hubungannya,” ujar Estu.

“Mushala itu dibangun hampir menjelang tahun 2000. Itu pun kami sebagai warga bagian lingkungan sini, tetap mendukung bahkan dari pihak gereja pun pernah memberikan bantuan, baik berupa moril, materiil, tenaga semua untuk proses pembangunan mushala yang berdekatan dengan gereja ini. Itu sudah bagian dari kita semua untuk saling membantu,” tambah Estu.

Toleransi warga Gang Eka Dharma memukau Pendeta Gereja Kristen Pasundan, Magyolin Carolina Tuasuun. Perempuan berusia 40 tahun ini terkesan saat pertama kali menginjakkan kaki di Kampung Tengah lima tahun lalu.

“Awal-awal ke sini, keramahan warga sini ya, karena saya belum tahu waktu itu, mereka (warga muslim) yang menunjukkan, oh mau ke gereja ya? Ayo sama-sama, waktu itu mau latihan paduan suara di gereja. Saya kaget juga, berhijab kok latihan paduan suaranya di gereja ya. Ayo bu sama-sama. Habis itu lah melihat keakraban ya,” ungkap Magyolin.

“Kami sangat merasakan, karena waktu pindah, bawaan kami segambreng, ya yang bantuin ya warga. Angkut-angkut, ada yang dibawa ke atas, dan itu perlu banyak orang, mesin cuci, karena itu paling susah karena diangkat, dan beberapa orang warga bapak-bapak pemuda yang ikut kalau orang gereja sendiri nggak mungkin bisa kita ya,” tambah Magyolin.

Pendeta Olin, demikian ia kerap disapa, menyebut kerukunan dua umat beragama ditunjukkan dengan tradisi saling mengunjungi, berkeliling dari rumah ke rumah, saat Lebaran dan Natal – Tahun Baru.

“Kami sempat kaget juga waktu Natal-Tahun Baru gini bu nanti open house ya, apa ya? Nanti warga bakal keliling, jadi ibu nyiapin apa. Oh ada ya, wah langsung nyiapin apa nih. Pokoknya yang seruan-seruan yang bisa ngumpul bareng, itu keliling, ngucapin Natal dan Tahun Baru,” ujar Olin.

Tradisi kebersamaan lain yang terus dipertahankan warga Gang Eka Dharma hingga kini adalah upacara bendera di Hari Kemerdekaan, 17 Agustus.

Estu Baiin mengatakan, tradisi ini sudah berlangsung sejak tahun 1980-an.

Mushala Al Mukhalishiin
Mushala Al Mukhalishiin yang hanya berjarak sekitar 50 meter dari Gereja Kristen Pasundan.

“Itu upacara 17an, mengenang memperingati Hari Kemerdekaan RI, setiap tanggal 17, selalu gereja mengadakan kebaktian syukur, atas kemerdekaan yang dianugerahkan tuhan, selesai kebaktian kita selalu melaksanakan jam 7, paling kebaktian satu jam, jam 8, langsung kita bergabung bersama warga mengadakan kegiatan upacara bendera.”

Tokoh muslim, Ustad Khairullah, mendukung keberlanjutan berbagai tradisi ini. Kata dia, kegiatan silaturahmi dengan umat lain selaras dengan prinsip Islam sebagai rahmat semesta alam.

“Allah menciptakan manusia itu nggak yang muslim aja, semuanya, muslim juga, nonmuslim juga, tujuannya saling kenal mengenal, ada semacam kegiatan sosial, itu memang dianjurkan oleh Islam, kan hablum minanas, kita saling tolong menolong,” ujar Khairullah.

Namun, setelah puluhan tahun, ikatan kebersamaan warga nyaris mengendur saat Pilkada DKI Jakarta lalu. Gencarnya isu berbau SARA sempat berseliweran di grup media sosial milik warga. Pendeta Olin mengatakan, hal ini sontak memantik konflik yang belum pernah terjadi sebelumnya.

“Cuma kemarin itu sempat rada-rada memanas, lalu semua coba menahan diri, lalu ada curiga-curiga untungnya japri-japri jalan nih. Simpul-simpul nya, kuat. Mungkin juga kalau ibu RT-nya nggak kuat, terjebak, bahaya juga sih. Sebetulnya kemarin bahaya banget, banget. Itu kami juga mensyukuri itu, dan mencoba menjaga perasaan diri, supaya tidak terpengaruh. Ada sih rasa, tapi kok sia-sia banget kita ya, rasanya percuma, tapi nggak lah,” ujar Olin.

Pendeta Olin maupun Ustad Khairullah memilih menahan diri untuk tidak ikut larut dalam polemik. Masing-masing berupaya menenangkan umatnya agar tidak terprovokasi.

“Hampir kemarin masalah pilkada. tapi saya nggak ngambil pusing, saya justru di sini memberikan contoh, saya selaku pemuka agama, tidak memilih kepada salah satu paslon. Jadi saya netral saja. jadi saya melihat ada perpecahan di sini, kok jadi saling, nggak rusuh sih, nggak, mereka saling diem-dieman aja. jadi sering marah lah. di grup di whats App saya baca. Ada warga sini mendukung salah satu paslon, sementara di grup itu ada yang nonmuslim, kok begini, ya jadi mereka biasa aja, cuman nggak ada komunikasi, layaknya orang marahlah,” ungkap Khairullah.

Untunglah, pilkada usia. Simpul kerukunan kembali menguat. Keberhasilan ini juga tak lepas dari keberhasilan Ketua RT 001, Neng Herti, dalam mengelola konflik. Ia selalu menekankan nilai-nilai persaudaraan di atas perbedaan agama.

“Kalau untuk seruan, kami di upacara bendera, 17an, di sambutan natalan, kami selalu sampaikan, tolong jaga kerukunan yang sudah terjalin selama ini, kita tidak boleh mudah terprovokasi oleh orang-orang dari luar yang akan mengganggu kerukunan kita, selalu kami ingatkan, mari kita wariskan kepada anak cucu kita,” ujar Neng.

Perempuan berusia 47 tahun ini juga aktif memantau orang luar yang masuk ke kampungnya. Ia memastikan tidak akan memberi tempat bagi warga yang tidak toleran.

“Apalagi dengan masuknya yang kos-kos, saya harus betul-betul, yang kos, 1x24 jam, saya pokoknya yang orangnya terlalu islami mending nggak sudah,”

Menjaga tradisi toleransi juga ditularkan kepada anak-anak, melalui Komunitas Anak Sabtu Ceria yang dibentuk sejak empat tahun lalu. Saban Sabtu pekan ketiga, Pendeta Olin atau Ustad Khairullah membacakan dongeng untuk puluhan anak-anak Gang Eka Dharma. Melalui kisah-kisah bermuatan kebersamaan, diharapkan tradisi toleransi mampu diestafetkan kepada generasi berikutnya.

“Dan itu tidak mudah (meneruskan tradisi), saya membayangkan mungkin lebih enak mulai, daripada menjaga, apalagi dengan kondisi sekarang itu luar biasa. Ada banyak hal juga yang memang saya pribadi baik keluarga maupun gereja memikirkan, bagaimana cara membuat supaya kebersamaan ini bisa diteruskan turun temurun,” ujar Olin.

Penulis: Ninik Yuniati/Sumber: Kantor Berita Radio (KBR)

Editor: Advertorial
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2018
About Us
Help