Namanya Dikaitkan Paradise Paper, Sandiaga Klaim Ini

Ia mengklaim semua aset yang dimilikinya telah ia laporan pada KPK melalui e-lhkpn.

Namanya Dikaitkan Paradise Paper, Sandiaga Klaim Ini
Rina Ayu/Tribunnews.com
Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Salahuddin Uno ditemui awak media usai pelantikan anggota DPRD DKI Jakarta, Selasa (7/11/2017). 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Salahuddin Uno menanggapi santai namanya dikaitkan dengan Paradise Paper.

Saat ditemui usai pelantikan anggota DPRD DKI Jakarta Romli H Solo, mantan pengusaha ini menjawab sejauh ini belum mendapatkan laporan resmi jika namanya benar-benar tersangkut laporan "surga pajak" tersebut.

"Belum dapat laporan saya," ujar Sandi, di gedung DPRD DKI Jakarta, Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Selasa (7/11/2017).

Ia mengklaim semua aset yang dimilikinya telah ia laporan pada KPK melalui e-lhkpn.

"Semua aset maupun laporan saya sudah dilaporkan ke KPK. Kemarin akhir bulan 31 Oktober sudah e-lhkpn, tidak ada yang tercecer, bisa dilihat. Silahkan dilihat semua, sudah dilaporkan," ujar Sandiaga.

Baca: GMPG Kecam Statement Kuasa Hukum Setya Novanto

Anies Rasyid Baswedan yang berada di tempat yang sama, mengatakan langkah Sandiaga yang secara rutin melaporkan kekayaan per 3 bulan patut di jadikan contoh.

"Tidak banyak yang melaporkan secara regular, bang Sandi tiga bulan sekali, saya rasa bang Sandi bisa jadi contoh," ujar Anies.

Sebelumnya diwartakan, Paradise Papers, yakni kumpulan 13,4 juta dokumen tentang mereka yang secara diam-diam berinvestasi di luar negeri, di tempat yang dinamakan "surga pajak".

Disebut surga pajak karena uang yang diinvestasikan terhindar dari pejabat pajak.

Terkuaknya Dokumen Surga ini awalnya muncul dalam surat kabar Jerman, Süddeutsche Zeitung, dan kini dikembangkan lagi oleh Konsorsium Jurnalis Investigatif.

"Laporan yang dikeluarkan pada Minggu (5/11/2017) ini baru sebagian kecil dari laporan yang akan dikeluarkan dalam satu minggu serta akan mengungkap skandal pajak dan keuangan sebagian dari ratusan orang dan perusahaan yang namanya disebut dalam data," demikian diberitakan oleh BBC.com pada Senin (6/11/2017).

Penulis: Rina Ayu Panca Rini
Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017
About Us
Help