Pengamat Pendidikan Nilai Masih Ada Orangtua Lindungi Anaknya yang Terlibat Tawuran Antarsiswa
Andreas menambahkan, belum lagi, orangtua juga tidak menyelidiki letak kesalahan anaknya yang terlibat tawuran
Editor:
Imanuel Nicolas Manafe
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pengamat Pendidikan sekaligus Sekjen Komisi Nasional (Komnas) Pendidikan Anak, Andreas Tambah, menerangkan, hingga saat ini di Indonesia belum ada hukuman efek jera bagi para pelaku tawuran remaja.
Di kasus ini juga, jarang guru memiliki prinsip idealisme untuk memberikan hukuman bagi siswa-sisiwi di sekolahnya, akibat saat ini marak pihak dari orangtua siswa-siswi melapor ke polisi.
"Efek jera untuk pelaku tawuran? Belum ada di Indonesia? Saya yakin belum ada. Misal, siswa itu dipenjara karena bawa senjata tajam akibat ikut tawuran, sekolahnya masih jalan. Toh saat ini ujian bisa di dalam penjara kok. Si guru bisa bawa soal ujian ke dalam penjara. Dikeluarkan dari sekolah? Apa iya bisa yakini anak itu tidak bakal ikut tawuran lagi?," jelas Andreas, Jumat (6/4/2018).
Baca: Diterpa Panas Terik, Massa Aksi Bela Islam 64 Terus Suarakan Aspirasinya Terkait Puisi Sukmawati
Andreas menambahkan, belum lagi, orangtua juga tidak menyelidiki letak kesalahan anaknya yang terlibat tawuran.
"Kadang, guru menghukum si siswa-siswinya sendiri, sama orangtua bersangkutan malah gurunya dilaporkan polisi. Padahal anak orangtua itu memang salah. Jadi apa di jaman ini masih ada guru idealis? Saya rasa, jarang di Indonesia. Padahal gurunya mendidik si siswa-siswinya sendiri sudah benar," terang Andreas.
Andreas mengatakan kebanyakan remaja yang ikut serta tawuran bersama kelompoknya rata-rata hanya untuk menunjukkan jatidirinya.
"Kejadian seperti ini (Tawuran Antar Remaja) kan masa-masa rawan (emosional) tuh tingkat SMP-SMA. Dimana, memang menunjukkan jati dirinya tapi dilakukan dengan cara keliru. Ingin keren, hebat, dan jagoan lah. Sisi negatif justru yang ditonjolkan. Jadi, itu fenomena sekarang sampai saat ini belum hilang. Kalau, si remaja ini mau masuk di suatu kelompok terkenal yah, baik di lingkungan atau sekolahnya, remaja ini akan diminta agar segera melukai lawan yang musug kelompok itu dulu, baru bisa masuk ke kelompok," papar Andreas.
Andreas memaparkan, aksi tawuran remaja itu bisa dikarenakan saling ejek di berbagai media sosial. Namun didalam hal ini media sosialnya tak bisa disalahkan.
Baca: Pensiunan TNI AL Korban Perampokan Mengira yang Mengetuk Tamu, Ternyata Rampok
"Media sosial tidak patut disalahkan. Memang ini bangsa Indonesia kita ya, belum menerima kemajuan teknologi, belum siap mental. Kasus saling ejek di media sosial, jangankan anak ya. Sejumlah pejabat di Indonesia kita saja kali ini aaling sindir di media sosial, menyerempetnya ke SARA. Media sosial itu padahal, bisa dilihat semua kalangan. Bagaimana bisa sih, pejabat-pejabat di Indonesia mendidik? Tak ada sama sekali. Indonesia kurang figur mendidik," jelas Andreas.
Menurut Andreas, dalam mendidik anak dilihat dari lingkungannya terlebih dahulu. Dalam hal ini, sudah seharusnya orangtua yang jadi figur di lingkungan anaknya.
"Mendidik si anak itu dari keluarga, lingkungan, kalau itu di lingkungan itu berikan contoh yang buruk pasti si anak seperti itu. Anak-anak atau remaja itu ya ingin ada sosok yang betul-betul mendidik. Di Indonesia, apakah ada? Menurut saya enggak ada ya. Tidak ada figur yang buat anak ini teladan. Orang rumah si anak itu tidak bisa diyakini dapat jadi figur yang mendidik ke anak. Solusinya, orangtua ini lah yang jadi figur terbaik mendidik anak," katanya.
Penulis: Panji Baskhara Ramadhan
Berita ini telah tayang di Wartakotalive dengan judul: Pengamat Pendidikan: Belum Ada Efek Jera Ampuh untuk Pelaku Tawuran Remaja