Ramadan 2018

Perpaduan Arsitektur Jawa, Belanda dan Tionghoa di Masjid Jami Al Ma’mur Tanah Abang

Namun di Tanah Abang terdapat salah satu masjid tertua di Ibu Kota, Masjid Jami Al Ma’mur atau Masjid Al Ma’mur.

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Chaerul Umam
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Mendengar kata Tanah Abang, yang terlintas di pikiran adalah pasar, ramai, dan macet. Namun di Tanah Abang terdapat salah satu masjid tertua di Ibu Kota, Masjid Jami Al Ma’mur.

Masjid yang berlokasi di Jalan KH. Mas Mansyur, Tanah Abang, Jakarta Pusat ini terletak di antara pusat kegiatan pasar Tanah Abang. Bagi Anda yang pertama kali melintasi kawasan tersebut tidak akan sadar jika terselip suatu masjid di tengah hingar bingar perdagangan pasar.

Rudi, salah satu sekretariat Masjid Al Ma’mur kepada tribun menjelaskan, Masjid Al Ma’mur didirkan di awal abad ke 19 atau lebih tepatnya tahun 1912 oleh pedagang kain di Pasar Tanah Abang bernama Habib Abdurrahman bin Muhammad Al Habsyi.

Dalam pembangunannya, pembiayannya dibantu dari sumbangan, partisipasi para pedagang Pasar Tanah Abang ketika itu. “Pembangunannya  membutuhkan waktu dua tahun. Dengan luas 2600 meter persegi. Terbangunlah suatu masjid yang kala itu menjadi masjid terbesar di Jakarta, sebelum ada Masjid Istiqlal,” kata Rudi.

Ada juga cerita lain, masjid ini berdiri karena merenovasi bangunan musala yang lebih dulu ada. Musala yang ketika itu, berdiri bersamaan dengan masuknya Islam memasuki wilayah Batavia (sekarang Jakarta). “Memang sebelum masjid ini dibangun ada terbentuk surau dengan luas 8x14 meter. Kami belum mendapat informasi secara jelas dan akurat,” ungkapnya.

“Namun, jika dilihat dari segi sejarah, daerah ini dekat dengan Kali Krukut yang bisa langsung tembus ke Pelabuhan Sunda Kelapa. Pada saat penyerangan Sunda Kelapa oleh kekuatan Islam, ada bekas perjalanan perahu sebelum tahun 1912. Tetapi itu belum pasti, kami masih terus mendalami, menggalang informasi kapan dan oleh siapa surau itu dibangun,” tambahnya.

Tiga Makam Aulia
Uniknya di Masjid Al Ma’mur ini terdapat tiga buah makam yang selalu ramai diziarahi oleh peziarah yang datang tidak hanya dari dalam negeri tetapi juga dari mancanegara. Ketika ditanya identitas makam tersebut, Pak Rudi tidak bisa memastikannya.

“Tidak tahu, yang pasti makam seorang alim ulama, karena banyak yang ziarahi dengan ketentuan-ketentuan tertentu yang berlaku. Yang pasti orang Alim,” kata Pak Rudi.

“Orang selama ini konotasinya ada di bawah mimbar, itu sebenarnya ada di halaman depan di bawah ruangan sound system, di luar dari area masjid. Jadi kami pertegas bahwa itu bukan ada di bawah mimbar,” tambahnya.
Gaya Arsitektur Bangunan

Rudi menambahkan, arsitektur dari Masjid Al Ma’mur bergaya campuran. Ada Belanda, Tiongkok, dan Jawa. “Kalau Jawa ciri khasnya ada di menara kembar. Kalau Tiongkok ada di atas menara yang ada lubang anginnya. Kalau Belanda, ya bangunan fisiknya yang besar, ruangan-ruangannya yang lebar,” ujar Pak Rudi.

Kapasitas Masjid Al Ma’mur sendiri dapat menampung jamaah sebanyak 5000 sampai 7000 orang.

Penulis: chaerul umam
Editor: Rachmat Hidayat
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved