Ramadan 2018

Masjid Jami Al Riyadh Kwitang, Saksi Syiar Islam Habib Ali Al Habsyi bin Habib Abdurrahman Al Habsyi

Namun, di tengah padatnya kawasan Kwitang, berdiri sebuah masjid yang cukup megah dan bersejarah.

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Chaerul Umam

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Bila Anda melintasi kawasan Kwitang  Jakarta Pusat, yang terlihat kawasan padat penduduk, beberapa toko dan gedung perkantoran  yang berdiri megah. Namun, di tengah padatnya kawasan Kwitang, berdiri sebuah masjid yang cukup megah dan bersejarah.

Sebuah masjid bernama Masjid Jami Al Riyadh itu terdiri dari dua lantai dengan sebuah menara besar di sisi kanan bagian depan masjid. Masjid ini berlokasi di Jalan Kembang VI, Kwitang, Senen, Jakarta Pusat.

Masjid ini didirikan oleh Habib Ali Al Habsyi bin Habib Abdurrahman Al Habsyi sekitar tahun 1938. Di tempat inilah Habib Ali bersama murid-muridnya besama penduduk setempat mendirikan sebuah majelis taklim di rumah pribadinya. Tempat tersebut lantas ia beri nama Baitul Makmur.

Beberapa tahun kemudian majelis itu dia beri nama Unwanul Falakh. Sekitar tahun 1950, majelis tersebut resmi diberi nama Masjid Al Riyadh. Namun masyarakat sekitar lebih mengenalnya dengan nama Masjid Kwitang.

Pada masa perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia, selain digunakan untuk syiar agama Islam, masjid ini dipakai untuk tempat pertemuan tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia. Ini tidak mengagetkan karena Ali Al Habsyi adalah salah satu penasehat dan orang kepercayaan Presiden Soekarno.

Pada masa kemerdekaan hingga saat ini, masjid bersejarah ini tetap berdiri kokoh di tengah menggeliatnya perkembangan kota. Selain digunakan untuk berdakwah dan menjalankan ibadah sehari-hari, oleh pengurus dan pengelola, masjid ini dijadikan tempat belajar secara formal.

Sebuah sekolah dasar Islam bernama Madrasah Diniyyah Al Riyadh didirikan sekitar tahun 1975.

Masjid Kwitang ini terdiri dari dua lantai dengan sebuah menara besar di sisi kanan bagian depan masjid. Lantai pertama masjid tesebut biasanya digunakan untuk shalat berjamaah seperti biasa, sedangkan lantai dua digunakan untuk tempat belajar Madrasah Diniyyah.

Tiang tiang besar segi empat mendominasi bangunan masjid tua ini. lokasinya yang berada di tengah pemukiman padat penduduk membuat masjid ini tak memiliki halaman luas layaknya sebuah masjid besar. 

Keunikan yang ada di Masjid Al Riyadh ini yang jarang ditemui di masjid-masjid lain adalah keberadaan makam sang pendiri, Habib Ali Al Habsyi, beserta putranya, Habib Muhammad bin Al Habsyi dan istri putranya. Keberadaan makam mereka menjadi daya tarik bagi sebagian umat Islam untuk berziarah.

Kegiatan-kegiatan keagamaan di Masjid Al Riyadh selama Ramadhan hampir sama dengan masjid-masjid yang lain yaitu ceramah keagamaan, tarawih, buka puasa bersama, dan pesantren kilat. Namun, tradisi khusus yang masih dijaga sampai saat ini adalah setiap malam 25 Ramadan, selalu diadakan khataman Alquran di dalam salat tarawih.

Penulis: chaerul umam
Editor: Rachmat Hidayat
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2018
About Us
Help