Gelar Tari Anak Indonesia 2018 Meriah

Anak-anak merupakan pribadi yang unik. Memiliki kebutuhan dan kemampuan berbeda dalam mengekspresikan rasa keindahan.

Gelar Tari Anak Indonesia 2018 Meriah
ist
Gelar Tari Anak Indonesia 2018 Meriah 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Anak-anak merupakan pribadi yang unik. Memiliki kebutuhan dan kemampuan berbeda dalam mengekspresikan rasa keindahan.

Bimbingan yang tepat memungkinkan anak dapat mengungkapkan rasa keindahan lebih menarik, serta dapat mengapresiasikan gejala keindahan yang ada di sekelilingnya.

Pandangan ini antara lain mengemuka pada penutupan acara ‘Gelar Tari Anak Indonesia 2018’ yang berlangsung di Istana Anak-anak Indonesia, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Jum’at (5/10/2018).

“Ketika menggarap tari anak, para koreografer harus selalu punya kesadaran bahwa ide dan gagasan lahir dari keseharian anak. Karena umumnya koreografer orang dewasa, maka bagaimana mereka bisa masuk ke dalam dunia anak. Kesadaran ini hendaknya selalu ditanamkan,” ujar Hartati, S.Sn, M.Sn, sebelum mengumumkan karya terpilih ‘Gelar Tari Anak Indonesia 2018.’

Hartati, adalah salah satu juri pengamat, ajang apresiasi seni yang diselenggarakan Direktorat Kesenian, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI ini.

Juri pengamat lainnya, Drs. Frans Sartono (Wartawan, pengamat seni pertunjukan, dan General Manager Bentara Budaya), Wasi Bantolo, S.Sn, M. Hum (Dosen ISI Surakarta dan praktisi tari), Drs. MJ. Florybertus Fonno (Praktisi tari dan pengajar di Padepokan Bagong Kussudiardjo Yogyakarta), dan Anusirwan, M.Sn (Komponis dan penata musik tari).

‘Gelar Tari Anak Indonesia 2018’ bukan ajang kompetisi atau lomba. Melainkan ajang berkreasi dan berinovasi melalui seni tari, yang melibatkan peran serta anak-anak dari berbagai provinsi di Indonesia.

Menurut Hartati, dari sisi pesan yang disampaikan para penampil melalui kegiatan ini sudah bagus, namun eksekusinya lemah. “Kurang menggali nilai kultural dari wilayah masing-masing, baik dari sisi musik juga tentang tarinya. Kurang memahami apa yang menjadi elemen penting dari sebuah pertunjukan, seperti pemanfaatan set, property, dan keserasian kostum,” papar Ketua Komite Tari Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) ini, mewakili pengamat lainnya.

Penyelenggara dan Tim Pengamat memilih dan menetapkan 30 karya terpilih. Meliputi; 10 Penari Terpilih, 5 Grup Penyaji Terpilih , 5 Koreografer Terpilih, 5 Penata Musik Terpilih, dan 5 Penata Rias dan Busana Terpilih.

Grup dari Provinsi Riau, yang menampilkan tarian berjudul, ‘Mandi-mandi Berbenen’ memborong seluruh Kategori Karya Terpilih. Difa Julia Arizki (Penari Terpilih), Sanggar Seni Terusan Kasih (Grup Penyaji Terpilih), Faizal Andri, S.Pd (Koreografer Terpilih), Iswahyudi, S.Pd (Penata Musik Terpilih), dan Emon Ramadhan Putra, S.Pd (Penata Rias dan Busana Terpilih).

Tari ‘Mandi-mandi Berbenen’ mengisahkan, di pesisir Riau, khususnya di Kabupaten Pelalawan, sering terjadi peristiwa alam, pasang surut air di Sungai Kampar. Anak-anak kecil memanfaatkannya untuk mandi dan bermain air. Mereka menunggu air pasang tiba, agar bisa bermain air menggunakan benen (ban dalam mobil). Dalam garapan ini gerak yang digunakan gerakan seperti Zapin dan Lenggang, sebagai menjadi dasar pijakan ragam tari Melayu Riau.

Halaman
12
Penulis: Toni Bramantoro
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved