Wapres JK Minta Gubernur DKI Anies Baswedan Atur Transportasi yang Efisien

Keduanya terlibat pembahasan terkait transportasi dan meminta mantan Mendikbud itu mengatur transportasi di ibu kota ini agar lebih efisien.

Wapres JK Minta Gubernur DKI Anies Baswedan Atur Transportasi yang Efisien
Rina Ayu/Tribunnews.com
Wakil Presiden Jusuf Kalla, yang ditemui di Kantor Wapres, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Selasa (8/1/2019). 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan kembali bertemu.

Keduanya terlibat pembahasan terkait transportasi dan meminta mantan Mendikbud itu mengatur transportasi di ibu kota ini agar lebih efisien.

JK mengatakan, keduanya berbincang di Rumah Dinas Diponegoro, pada Jumat pagi (11/1/2019).

"Saya baru tadi pagi berbicara dengan Gubernur DKI, tentang bagaimana efisiensi transportasi di Jakarta," ujar JK dalam sambutannya dalam pembukaan Rapat Kordinator Konsultan Indonesia, di Istana Wapres, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat.

Ia berujar, dirinya dan Anies menguraikan sistem transportasi di DKI Jakarta dari tahun ke tahun.

"Tentu kalau tahun 70an, 80an, kita tinggal mendengar berteriak teriak, ya teman-teman itu lewat jalan Juanda segala macam. Sekarang semuanya lewat IT. Bagaimana dengan IT memahami itu semua," tutur Wapres JK.

Baca: KPU RI Tolak Berkas Revisi Visi-Misi Prabowo-Sandi, Ini Alasannya

JK mengatakan, pembangunan LRT (Light Rail Train) di wilayah Bogor, Bekasi, dan Depok sebenarnya tak telalu efisien. Sebab, pembangunannya berada di samping jalan tol.

"Dan biasanya light train itu tidak dibangun bersebelahan dengan jalan tol, harus terpisah. Tapi bangunnya gitu," ujarnya.

Selain itu, dana pembangunan yang mencapai 500km per kilometer juga dirasanya mahal.

Ia menilai, pembangunan proyek tersebut tidak menggunakan konsultan yang benar

Sehingga ke depan, ia berharap pembangunan transportasi dipikirkan lebih matang dengan menggunakan konsultan yang baik dan benar.

"Itu kemungkinan, siapa konsultan yang memimpin ini, sehingga biayanya 500 miliar per kilometer. Kapan kembalinya kalau dihitungnya seperti itu. Terkecuali dalam kota. Itu banyak hal-hal seperti itu yang dibutuhkan pemikiran-pemikiran yang baik di antara kita semua," harapnya.

Penulis: Rina Ayu Panca Rini
Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved