Lagi, Jaksa Tetapkan Lima Tersangka Korupsi Tiket Kemenlu

Kejaksaan Agung resmi menambah daftar tersangka dalam penggelembungan harga tiket Kementrian Luar Negeri (Kemenlu) menjadi lima orang. Kini total tersangka kasus itu sebanyak 10 orang.

Lagi, Jaksa Tetapkan Lima Tersangka Korupsi Tiket Kemenlu
istimewa
ilustrasi
laporan : wartawan tribunnews.com/yogi gustaman

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA ---
Kejaksaan Agung resmi menambah daftar tersangka dalam penggelembungan harga tiket Kementrian Luar Negeri (Kemenlu) menjadi lima orang. Kini total tersangka kasus itu sebanyak 10 orang.

Para tersangka itu antara lain berinisial N (Direktur Utama PT A), H (Direktur Utama PT K), T (Manager Operasional PT P), D (Direktur Utama PT S), dan terakhir J (Manager Operasional PT B).

Sebelumnya Kejaksaan Agung memutuskan lima tersangka antara lain Kepala Biro Keuangan Kemenlu Ade Wismar Wijaya, Kasubbag Verifikasi Keuangan Kemenlu Ade Sudirman, Syarwani Soeni selaku Dirut PT Indowanua Inti Sentosa, Bendahara Kemenlu periode 2003-2007 I Gusti Adnyana, dan Bendahara Kemenlu periode 2007-2009 Syarif Syam Arman.

Demikian dikatakan Jaksa Agung Muda Pidana Khusus Marwan Effendy kepada wartawan usai coffee morning di Kejaksaan Agung, Rabu (31/3). Sementara mantan Sekretaris Jenderal Kemenlu Imron Cotan belum. "Belum. Jadi masalah Imron itu pertama masih satu alat bukti dari testimoni saksi Ade Wismar," ujar Marwan.

Dikatakan Marwan terkait dugaan pemberian uang oleh staf Ade kepada Imron diterima oleh sekretarisnya. Salahnya uang itu tetap dipegang oleh sekretarisnya dan disimpan di dalam brankas. "Oleh sekretarisnya diberikan kepada Imron tetapi ditolak," sambungnya.

Kesalahan itu justru ada pada sekretaris Imron yang tidak mengembalikan ke staf Ade. Dan saat pemeriksaan ditemukan kesalahannya ada pada sekretaris kenapa tidak mengembalikannya. "Bukan pada Imron Cotan. Jadi sampai skr kita belum bisa menetapkan dia sebagai tersangka," ujarnya.

Selain itu, sambung Marwan, kesalahan sekretaris Imron menyimpan uang tersebut di dalam brankas tanpa sepengetahuan Imron sendiri. "Sekretarisnya berpikir nanti ada akhir tahun. Siapa tahu bisa diserahkan untuk akhir tahun. Ini tanpa psepengetahuan imron cotan. Staf ade juga," urainya.

Diberitakan sebelumnya, nama Imron Cotan disebut-sebut telah menerima uang sebagaimana dalam testimoni yang dibuat oleh Kepala Subbagian Pembayaran Perjalanan Dinas Kemenlu Ade Sudirman. Dia diduga menerima Rp 2,35 miliar.

Uang di atas disebutkan juga dinikmati bersama dengan mantan orang nomor satu Kemenlu NHW, yang disebut menerima Rp 1 miliar. Ketika ditanya apakah pihak Kejaksaan Agung akan memanggil yang bersangkuta, Marwan belum mengetauhi.

"Saya tunggu rekomendasi kamu orang," tutupnya.

Kasus dugaan korupsi dana pengembalian tiket diplomat di Kemenlu diduga telah merugikan negara hingga miliaran rupiah. Dalam tahun anggaran 2008/2009 saja, kerugian negara ditaksir sebesar Rp 20 miliar. Padahal, praktik mark up sendiri sudah berlangsung pada tahun 2006.

Editor: OMDSMY Novemy Leo
Ikuti kami di

BERITA REKOMENDASI

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved