Minat Baca Masyarakat Indonesia Duduki Rangking 96

Laporan Human Development Report TAHUN 2008/2009 yang dikeluarkan UNDP, menyatakan minat membaca masyarakat di Indonesia berada pada peringkat 96 dari negara di seluruh dunia. Kondisi ini sejajar dengan Bharain, Malta dan Suriname.

Minat Baca Masyarakat Indonesia Duduki Rangking 96
Istimewa
Ilustrasi: Membaca
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Eko Sutriyanto 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA --- Laporan Human Development Report  tahun 2008/2009 yang dikeluarkan UNDP, menyatakan minat membaca masyarakat di Indonesia berada pada peringkat 96 dari negara di seluruh dunia. Kondisi ini sejajar dengan Bharain, Malta dan Suriname.

Di Asia Tenggara, hanya ada dua Negara di bawah Indonesia, yaitu Kamboja dan Laos. Kondisi ini diperparah dengan minimnya buku yang terbit.

Berdasarkan data yang ada buku yang diterbitkan hanya sekitar 10 ribu judul. Jumlah ini sama juga dengan Malaysia yang mempunyai jumlah penduduk hanya sekitar 26 juta atau hanya sekitar 15 persen dari penduduk Indonesia.

"Sekarang ini anak-anak atau masyarakat lebih tertarik menonton TV atau mendengarkan radio dan bermain games daripada membaca koran," ujar Eky Handayani, dari Centre for Social Marketing, dalam diskusi Minat Baca Anak versus Multimedia yang berlangsung di Hotel Sahid Jaya Jakarta, belum lama ini.

Centre for Social Marketing merupakan lembaga yang mempunyai kepedulian untuk menumbuhkan minat baca. Mereka mendorong perlunya gerakan minat baca berkelanjutan yang sifatnya strategis, menyeluruh, terukur yang memperoleh dukungan masyarakat, pemerintah, LSM ataupun perusahaan.

Perkembangan teknologi multimedia di Indonesia, katanya, memberikan pengaruh minat membaca buku. Media TV, Radio, Internet dan Telepon Selular untuk mengakses informasi dan hiburan, secara perlahan menyingkirkan buku.

Padahal buku berperan sebagai jendela informasi dunia yang mampu menstimulasi imajinasi serta melatih konsentrasi pembacanya.

"Selain itu, kurangnya persediaan buku - buku yang berkualitas baik serta harga buku yang mahal di Indonesia juga memberikan
pengaruh buruk terhadap minat membaca masyarakat," ungkapnya.

Eky memandang yang diperlukan sikap konsisten dari penulis maupun penerbit untuk mampu secara konsisten menghasilkan bahan bacaan yang mempunyai desain maupun tulisan yang enak dibaca.

Serta sesuai dengan kondisi anak, tersedianya sarana bacaan anak yang layak dan berkelanjutan sehingga anak mempunyai kebiasaan membaca.

Editor: OMDSMY Novemy Leo
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017
About Us
Help