Ustad Yusuf Mansyur Dilaporkan ke Polisi

Nama dai kondang, Ustad Yusuf Mansyur kini menjadi buah bibir di lingkungan kepolisian. Pria muda yang kerap tampil ceramah di televisi ini dilaporkan ke Mabes Polri karena dituding telah melakukan penggelapan sertifikat tanah.

Penceramah beken yang juga pimpinan Pondok Pesantren (Ponpes) Darul Quran, Bulak Santri, Cipondoh, Tangerang, itu dilaporkan oleh wanita bernama Sumarti ke Bareskrim Mabes Polri, Sabtu (15/5/2010) siang dengan nomor laporan TBL:/190/V/2010/Bareskrim, atas tuduhan menggelapkan sertifikat tanah yang di atasnya berdiri empat unit rumah toko (ruko) senilai Rp 10 miliar di Jalan Daan Mogot, Cengkareng, Jakarta Barat.

Menurut Kamal Alamsyah, putra Sumarti, yang mewakili sang ibu, kasus ini bermula 27 November 2003 lalu. Saat itu, kata dia, Ustad Yusuf berjanji akan meminjamkan uang sebesar Rp 1 miliar kepada Sumarti, namun dengan syarat harus meminjamkan sertifikat tanah.

“Memang saat itu ibu saya sedang membutuhkan dana pinjaman,” ucap Kamal usai membuat laporan di Sentra Pelayanan Kepolisian Bareskrim Mabes Polri. Dia datang bersama penasihat hukumnya, Muhammad Solihin.

“Yusuf lantas menyuruh saya datang ke kantor notaris,” tulis Kamal dalam kronologi yang diberikan kepada para wartawan di Mabes Polri, Sabtu (15/5/2010).

Notaris yang ditemui, kata Kamal, bernama Mas Ayu Fatimah Sjofjan, di Jl KH Wahid Hasyim No 52, Jakarta Pusat. Saat tiba di kantor notaris itu, Kemal melihat Ustad Yusuf sudah lebih dulu datang bersama seorang wanita tak dikenal. Selanjutnya, di hadapan notaris, Kamal disuruh mengakui bahwa wanita tak dikenal itu adalah ibunya.

“Saya disuruh mengiyakan bahwa wanita itu adalah ibu saya. Dialah yang memalsukan tanda tangan ibu saya dalam Akta Perjanjian Kredit Nomor 14,” ujar Kamal.

Setelah keluar dari kantor notaris, Kamal tidak diberikan pinjaman uang sebagaimana yang dijanjikan. Sementara sertifikat hak milik tanah itu sekarang sudah dijaminkan di PT Bank Asiatic (sudah dilikuidasi) untuk meminjam uang Rp 4 miliar.

Dalam akta penjaminan kredit itu, kata Muhammad Solihin, peminjam diatasnamakan Thio Han Ing, pengusaha yang berdomisili di Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

“Thio Han Ing tidak pernah mencicil pinjaman sehingga kreditnya macet pada tahun 2007. Terus bangunan itu akan dilelang oleh tim likuidasi PT Bank Asiatic. Taksiran harganya Rp 10 miliar,” jelas Solihin.

Kamal mengaku telah mencoba dengan cara kekeluargaan untuk menyelesaikan kasus ini, tetapi tidak menemui titik temu, sehingga dia memutuskan melapor ke Bareskrim Polri. “Dia selalu berjanji akan menyelesaikan, tetapi sampai sekarang belum diselesaikan,” tuturnya.

Halaman
123
Editor: Tjatur Wisanggeni
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2016
About Us
Help