Rabu, 26 November 2014
Tribunnews.com

Menkes: Dokter Kecil Penggerak Kesehatan Sekolah

Kamis, 20 Mei 2010 02:35 WIB

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Eko Sutriyanto

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -
Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan kini berusaha mengoptimalkan peran dokter kecil untuk membantu peran guru dan petugas kesehatan untuk pelayanan kesehatan di sekolah dan sebagai penggerak Perilaku Hidup Bersih dan Sehat.

Dokter kecil juga mempunyai peran penggerak menjalankan usaha kesehatan sesama teman dan diri sendiri, memelihara kebersihan, kesehatan di sekolah maupun di rumah dan pengerak budaya hidup sehat.

Hal itu disampaikan Menteri Kesehatan, dr Endang Rahayu Sedyaningsih dalam konfrensi pers Revitalisasi Dokter Kecil dan Kader Kesehatan untuk Indonesia yang Lebih Sehat bekerjasama dengan PT Unilever Tbk, di SDN Gunung 05 Jakarta, belum lama ini.

"Hasil penelitian yang dilakukan, ada hubungan program dokter kecil dengan pengetahuan, sikap, dan praktik kebersihan pada siswa yang diteliti. Selayaknya setiap sekolah dasar melatih, membentuk dokter kecil bekerjasama dengan tenaga kesehatan di Puskesmas," ungkap Endang.

Hadir pula narasumber, Human Resources & Corporate Relations Director PT Unilever Indonesia Tbk, Joseph Bataona, Senior Brand Manager Lifebuoy, Erwin Cahaya Adi. Juga Direktur Bina Kesehatan Anak Ditjen Binkesmas Depkes RI, Fatni Sulani, Kabid Pengembangan Pendidikan Kecakapan Hidup dan Kesehatan pada Pusat Pengembangan Kualitas Jasmani (PUSJAS) Kemendiknas, Abdul Syukur Madjid.

Menurut Endang, pembentukan dokter kecil sebagian besar sudah dilaksanakan di berbagai SD. Namun, keberadaannya belum dimanfaatkan maksimal. Ia berharap SD yang mempunyai dokter kecil jangan hanya membentuk dan melatih, tetapi melibatkan dalam berbagai bentuk pelayanan kesehatan.

"Misalnya, pada saat penjaringan kesehatan, dokter kecil diberikan tugas dalam mengatur urutan, mengukur berat dan tinggi badan, pengukuran ketajaman penglihatan dan sebagainya," ungkap Endang.

Sementara Direktur Bina Kesehatan Anak Ditjen Binkesmas Depkes RI, Fatni Sulani, mengungkapkan, visi pembangunan kesehatan saat ini harus mengedepankan upaya promotif dan preventif, bukan lagi kuratif. Salah satu caranya adalah dengan mengkampanyekan PHBS sejak usia dini.

"Program revitalisasi Dokter Kecil memiliki peran penting untuk membentuk perilaku bersih dan sehat sejak dini. Mengingat pentingnya program Dokter Kecil, Menteri Kesehatan menjadikan Dokter Kecil wajib ada di setiap SD sesuai dengan keputusan Menkes yang tertuang dalam SK No.145/Menkes/SK/X/2003," tutur Fatni.

Fatni menjelaskan, persyaratan untuk menjadi dokter kecil tidaklah mudah, yakni harus duduk di kelas 4 atau kelas 5, berbadan sehat, berperilaku baik dan beprestasi di sekolah, karena berkaitan dengan daya tangkapnya menangkap materi dan pelajaran yang diberikan di sekolah.

"Dokter kecil harus mempunyai bakat pemimpin, bisa menggerakkan. Tinggi dan berat badan ideal, dan harus dapat izin orangtuanya karena harus mengikuti pelatihan kesehatan selama 46 jam pelajaran yang digabungkan dengan mata pelajaran atau ekstrakulikuler," ungkapnya.

Disinggung mengenai jumlah ideal dokter kecil, idealnya satu berbanding 10. Artinya jika di sekolah jumlah keseluruhan murid 500 orang, idealnya dokter kecil minimal 50 orang.

Sementara, Abdul Syukur Madjid pun menyambut baik dan mendukung adanya upaya revitalisasi Dokter Kecil, karena PHBS merupakan satu upaya penting untuk menjaga anak sekolah tetap sehat sehingga akhirnya juga akan mendukung proses belajar dan pendidikan anak-anak.

"Anak yang sehat tentu akan lebih sering masuk sekolah sehingga proses belajarnya tidak terganggu karena sakit," katanya.

Perlu Perhatian
Human Resources & Corporate Relations Director PT Unilever Indonesia Tbk, Joseph Bataona mengatakan, menjaga anak Indonesia tetap sehat masih harus menjadi perhatian semua pihak. Menjaga anak Indonesia tetap sehat bisa dilakukan dengan upaya preventif (pencegahan).

"Tindakan pencegahan ini dapat dilakukan dengan membudayakan PHBS pada anak-anak dan di setiap keluarga Indonesia," ungkapnya.

Menurutnya, cara termudah dan murah adalah menjalin kemitraan antara pihak pemerintah dan swasta. Hal itu perlu dilakukan secara bersama dan berkelanjutan sesuai dengan kapasitasnya masing-masing," ungkapnya.

Senior Brand Manager Lifebuoy, Erwin Cahaya Adi mengatakan, Lifebuoy telah lama melakukan edukasi dan sosialisasi PHBS kepada masyarakat mulai 2004. Tahun ini Lifebuoy mempercepat dan memperluas dampak positif PHBS dengan program revitalisasi Dokter Kecil.

"Melalui program revitalisasi Dokter Kecil sosialisasi budaya PHBS akan dapat dilaksanakan secara efektif, karena anak akan menjadi agent of change bagi dirinya, lingkungan sekolahnya, dan keluarganya. " kata Erwin.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2009, Indonesia memiliki sekitar 79,4 juta anak berusia antara 8 sampai 18 tahun. Namun upaya menjaga kesehatan mereka masih menjadi tantangan besar bagi semua pihak.

Tahun ini Lifebuoy telah menggelar pelatihan di Jakarta pada (8/4), Yogyakarta (15/4), Medan (22/4), dan Surabaya (29/4). Program pelatihan telah mengedukasi lebih dari 400 guru SD, khususnya guru pembina UKS di daerah DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Sumatera Utara, Jawa Timur, dan Nusa Tenggara Timur.

Lifebuoy juga akan menggelar Kamp Dokter Kecil Lifebuoy, yaitu wahana belajar dan bermain para Dokter Kecil. Kamp Dokter Kecil Lifebuoy akan diselenggarakan di empat kota: Jakarta, Medan, Yogyakarta, dan Surabaya, dengan melibatkan sekitar 260 SD dan 420 Dokter Kecil dari 32 Kabupaten/Kota.

Erwin Cahaya Adi mengatakan, Lifebuoy akan menilai aktivitas para Dokter Kecil yang mengikuti Kamp Dokter Kecil Lifebuoy tersebut dalam membudayakan PHBS di sekolah dan di lingkungan masing-masing. "Dokter-Dokter Kecil terbaik tersebut akan dipilih untuk mengikuti seleksi nasional di Jakarta," ungkap Erwin.

Budaya PHBS yang diberikan saat Kamp Dokter Kecil Lifebuoy antara lain, mengenai kesehatan pribadi, lingkungan sehat, dan Lifebuoy di lima kesempatan penting atau lima cara sehat Lifebuoy yaitu, mandi pakai sabun, cuci tangan pakai sabun (CTPS) sebelum makan pagi, makan siang, makan malam, dan sesudah dari toilet.

Dengan tumbuhnya budaya PHBS yang digerakkan Dokter Kecil akan membuat generasi penerus bangsa tetap sehat sehingga akhirnya turut mendukung mewujudkan Indonesia yang lebih sehat.(*)
Editor: Juang Naibaho

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas