Maestro Tari Topeng Mimi Rasinah Berpulang

Orang tua yang agung! Ungkapan ini yang paling pas untuk melukiskan totalitas yang ditunjukkan Mimi Rasinah (80), sang maestro tari topeng Indramayu

Maestro Tari Topeng Mimi Rasinah Berpulang
Tribunnews.com/dok
Mimi Rasinah dikenal sebagai seorang maestro Tari Topeng

Mimi Rasinah diberitakan tutup usia di RSUD Indramayu sekitar pukul 14.00. Saat dibawa ke rumah sakit terdeteksi tekanan darahnya antara 145/65. Aerli (24), salah seorang cucunya, menuturkan, sebelum dilarikan ke rumah sakit, Rasinah tampak lemas, tetapi ia tidak mengeluh.

”Beliau hanya lima menit dirawat sebelum akhirnya pergi...” tutur Aerli dengan mata berkaca-kaca. Rasinah diduga meninggal akibat komplikasi penyakit stroke, darah rendah, kelelahan, dan usia lanjut.

Orang besar memang terkadang pergi dengan penuh isyarat. Rabu (4/8/2010) malam, bersama rombongan Sanggar Tari Topeng Mimi Rasinah, ia menari di Bentara Budaya Jakarta dalam acara pentas seni dan pameran ”Indramayu dari Dekat”. Acara yang dibuka oleh penyanyi dangdut asal Indramayu, Iis Dahlia, ini berlangsung 4-8 Agustus 2010. Tak seorang pun menduga, itulah tarian terakhir Rasinah.

Dalam kondisi separuh badan mati akibat terjangan stroke, Rasinah tetap mengalirkan aura magis ketika membawakan tari Panji Rogoh Sukma. Tangan kanannya yang lembut seolah tongkat ajaib yang menyihir ratusan penonton. Semua orang tiba-tiba saling berlomba untuk sekadar melihatnya dari dekat.

Ketika Rasinah dibopong ke atas panggung, mendadak suasana haru menebar. Napas semua orang seperti tertahan sampai benar-benar pewaris tari topeng bergaya Indramayu itu duduk dengan nyaman. Sementara Aerli Rasinah, sang cucu, berdiri kokoh di atasnya. Sebelum menari keduanya ditutupi 12 penari remaja, murid didikan Mimi Rasinah.

Panji Rogoh Sukma tak lain adalah puncak dari segala tarian topeng Indramayu. Seorang penari dituntut untuk mengolah jiwanya dengan menahan segala gerak tubuh. Gerak-gerak yang muncul adalah dorongan yang benar-benar meluncur dari kedalaman jiwa, bukan karena sesuatu yang dipikirkan secara teknis. Oleh karena itu, tarian ini lebih tampak seperti ”diam”, tubuh terpancang tegak lurus dengan langit (meminjam istilah sastrawan Iwan Simatupang).

Mimi Rasinah bukan tipe perempuan yang mudah menyerah. Sakit boleh menggerogoti raganya, tetapi gelegak jiwanya untuk terus menari tak tertahankan. Maka ia membentuk komposisi yang unik bersama Aerli. Karena lumpuh, Rasinah menari dengan duduk, sementara Aerli, pewaris langsung ilmu topeng Indramayu, berdiri di atasnya.

Komposisi ini tidak saja menunjukkan kehebatan Rasinah, tetapi juga bisa diinterpretasi sebagai proses ”penurunan” ilmu topeng dari nenek kepada cucunya. Rasinah menyerahkan topeng, yang telah ia warisi selama 11 generasi, kepada Aerli. Ketika menari Aerli seolah berlaku sebagai penerjemah dari gerakan jiwa yang dialirkan lewat tangan Mimi Rasinah.

Sementara 12 penari remaja lainnya menunjukkan keberhasilan lain Mimi Rasinah di dalam menggelorakan kembali tari topeng Indramayu yang nyaris punah sekitar awal tahun 1990-an.

Kendati fisiknya nyaris tak berdaya, tutur Aerli, Rasinah tetap bersikeras untuk mengajar remaja-remaja muridnya dari atas kursi roda. ”Mimi tahu kalau ada salah. Ia akan beri isyarat dengan tangan pada nayaga atau penarinya,” tambah Aerli.

Halaman
12
Editor: Iwan Apriansyah
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di

BERITA REKOMENDASI

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved