Sejak 2007 Terjadi 286 Kekerasan pada Jamaah Ahmadiyah

Sejak tahun 2007 lalu, tercatat sekitar 286 tindak pelanggaran yang mengatasnamakan agama dilakukan warga terhadap jamaah Ahmadiyah di Indonesia.

Sejak 2007 Terjadi 286 Kekerasan pada Jamaah Ahmadiyah
Tribun Jabar/Deni Denaswara
Sejumlah petugas membuat pagar betis saat perwakilan massa dari Aliansi Ummat Islam Jabar berusaha menyegel Mesjid Mubarak di Jalan Pahlawan, Selasa (15/1). Mereka mensinyalir aliran Mesjid Mubarak merupakan aliran Ahmadiyah Qadiyani yang beretentangan dengan ajaran Islam.
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Alie Usman

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Sejak tahun 2007 lalu, tercatat sekitar 286 tindak pelanggaran yang mengatasnamakan agama dilakukan warga terhadap jamaah Ahmadiyah di Indonesia. Hal tersebut diungkapkan Setara Institute yang dalam satu bulan terakhir memberikan perhatian seksama pada jamaah Ahmadiyah di empat  wilayah, yakni Bogor, Garut, Tasikmalaya, dan Kuningan.

Berdasarkan data Setara Institute, jumlah persekusi terhadap Ahmadiyah, sekalipun frekuensinya fluktuatif, terus terjadi. Sejak tahun 2007 hingga 2009 lalu, angka pelanggaran kebebasan beragama yang mengarah pada jamaah Ahmadiyah mencapai 286 kasus. Pada tahun 2007, dari 185 tindakan pelanggaran kebebasan beragama atau berkeyakinan di Indonesia, 15 di antaranya menyasar jamaah Ahmadiyah.

Begitu juga pada tahun 2008 lalu. Dari 367 tindakan pelanggaran, sebanyak 238 tindakan juga menyasar kepada jamaah Ahmadiyah. Sedangkan di tahun 2009, dari total sekitar 291 tindakan pelanggaran, 33 tindakan terjadi kepada jamaah Ahmadiyah.

Manager Program/Peneliti Setara Institute Ismail Hasani mengatakan, jumlah data pelanggaran tersebut diambil berdasarkan fakta di lapangan yang terjadi di seluruh wilayah Indonesia. Sebagian besar peristiwa tersebut terjadi di Jawa Barat.

Ismail mengatakan, berbagai persekusi yang dilakukan terhadap jamaah Ahmadiyah merupakan tindakan sepihak yang dilakukan organisasi Islam garis keras dan warga hingga menjadi sebuah rangkaian peristiwa dengan mengikuti pola yang sama. Misalnya, warga membangun soliditas kelompok Islam garis keras melalui dakwah, memasang stiker dan spanduk penolakan terhadap Ahmadiyah, menggelar permusuhan, menggelar tabligh akbar, dan membakar emosi umat hingga ancaman penghentian kegiatan ibadah dan lainnya.(*)

Penulis: Alie Usman
Editor: Juang Naibaho
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2018
About Us
Help