Sabtu, 22 November 2014
Tribunnews.com

Inilah Biaya Tes DNA

Jumat, 3 September 2010 13:28 WIB

Inilah Biaya Tes DNA
Tribunnews.com/Danny Permana
Pindahkan Jenazah - Petugas kamar jenazah Rumah Sakit Pusat Polri Dr Soekamto, Kamis (24/6/2010) memindahkan jenazah Yuli Karsono, teroris yang ditembak Densus 88, dalam penyergapan di Klaten Jawa Tengah beberapa waktu lalu. (TRIBUNNEWS. COM/dany permana)
Laporan wartawan Tribunnews.com, Nurmulia Rekso

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA
- Untuk mengenali mayat tanpa Identitas, tes yang dilakukan untuk mengidentifikasi DNAnya bisa sampai lima kali. Hal tersebut tergantung dari tingkat kesulitan untuk mengidentifikasi sebuah mayat, dan kualitas sample dari tim Puslabfor polri di lapangan.

Menurut Kepala Unit DNA Forensik, Eijkamn Institute, Herawati Sudoyo, untuk satu kali tes saja bisa memakan biaya hingga Rp 5 juta. Untuk kasus-kasus tertentu, proses identifikasi seseorang bisa membutuhkan hingga lima kali uji coba. Herawati memberikan gambaran bahwa kisaran sebuah uji coba bisa mencapai Rp. 25-50 Juta.

Untuk kasus bom yang diledakan di JW Mariot, polisi harus dapat mengenali sejumlah jenazah tanpa identitas, bahkan sebagian diantaranya hanya merupakan potongan-potongan tubuh saja. Pada kasus Bom Bali II, hal yang sama juga dilakukan, namun tentunya dalam jumlah yang jauh lebih banyak.

"Untungnya karena ini adalah bentuk kerja sama, kita masih disubsidi, dan memang sudah dipersiapkan anggarannya," tutur Kepala Pusat Laboratorium Forensik, Bareskrim Mabes Polri, Budiono, Jumat (3/9/2010).

Sejak lima tahun lalu, untuk urusan identifikasi DNA Polri telah menjalin kerja sama dengan Eijkman Institute. Sebuah lembaga penelitian yang memilih Molekular Biologi sebagai bahan kajiannya.

Menurut Budiono, sejauh ini tingkat keberhasilan dari proses identifikasi-identifikasi tersebut hampir mencapai 100%, atau dapat dikatakan sebagian besar kasus dapat terpecahkan dengan baik.

"Untuk yang Gagal biasanya dikarenakan sample yang terkontaminasi" ujar Herawati. Untuk mengidentifikasi DNA sebuah jenazah, bisa saja darah, saliva (liur) maupun potongan otak digunakan sebagai sample. Namun jika penanganannya buruk oleh tim identifikasi di lapangan buruk, maka hasil uji coba laboratorium tidak akan maksimal.

Dapat saja terjadi bahwa potongan tubuh dua orang yang berbeda dianggap dari tubuh yang sama, sehingga hasil uji cobanya membingungkan. Untuk kasus-kasus seperti itu, biasanya membutuhkan uji coba hingga lima kali.

Walaupun Ahli peralatan dan teknologi yang dibutuhkan sudah dimiliki oleh Indonesia, namun masih ada beberapa hal yang harus dibeli dari luar negri karena Indonesia belum mampu untuk memproduksi sendiri. (Tribunnews/Nurmulia Rekso P).
Penulis: Nurmulia Rekso Purnomo
Editor: Prawira Maulana

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas