Senin, 24 November 2014
Tribunnews.com

Jejak Sejarah Pengungsi Vietnam Di Pulau Anambas

Rabu, 27 Oktober 2010 22:01 WIB

Jejak Sejarah Pengungsi Vietnam Di Pulau Anambas
maps.google.com
Ilustrasi rute penyeberangan pengungsi besar-besaran dari Vietnam ke Kepulauan Riau di Anambas dan Galang tahun 1974
Ditulis oleh tribunner: Rikyrinovksy

TRIBUNNEWS.COM, ANAMBAS
- Kabupaten Anambas di Kepulauan Riau, tepatnya di kecamatan Jemaja menjadi saksi sejarah Indonesia memberikan ruang kemanusiaan kepada pengungsi asal Vietnam yang eksodus saat negeri di Asia Tenggara itu berkecamuk perang saudara.

Bukti sejarah eksodus warga Vietnam ke pulau Anambas, akibat perang Vietnam yang terjadi tahun 1957 hingga 1975 masih tersimpan rapih di Pulau Jemaja, Anambas. Khusus di Desa Kuku yang berbatasan dengan Desa Air Biru, terdapat sejumlah batu nisan  kuburan  serta bangunan peninggalan masyarakat Vietnam yang pernah bermukim di kepulauan ini.

Perang Vietnam, yang juga disebut perang Indochina kedua, adalah ideologi besar, yakni Komunis dan Liberal. Dua kubu yang saling berperang adalah Republik Vietnam (Vietnam Selatan) dan Republik Demokratik Vietnam (Vietnam Utara). Amerika Serikat, Korea Selatan, Thailand, Australia, Selandia Baru dan Filipina merupakan sekutu Vietnam Selatan, sedangkan USSR (Rusia) dan Tiongkok (China) mendukung Vietnam Utara yang merupakan negara komunis.

Perang inilah yang mengakibatkan terjadinya eksodus besar-besaran warga Vietnam ke negara lain, terutamanya Amerika Serikat, Australia dan negara-negara Barat lainnya. Di negara-negara tersebut, bisa ditemukan komunitas Vietnam yang cukup besar.

Di luar negara itu, sejumlah negara di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, juga bagian dari tujuan eksedus mereka. Dan di Indonesia, sejumlah pulau-pulau di Kepulauan Riau, salah satunya Pulau Jemaja, menjadi daerah tujuan warga Vietnam untuk menetap tinggal.  

Untuk selanjutnya, para pengungsi juga ditampung di Pulau Galang di dekat Batam dari tahun 1975 hingga 1996 dengan jumlah pengungsi mencapai 250.000 jiwa. Pemerintah Indonesia menyediakan lokasi seluas 18 hektar untuk menampung pengungsi tersebut, dan difasilitasi UNHCR PBB.

Ketua LSM Tuah Berbangsa, Omri, menceritakan, jejak peninggalan bersejarah permukiman masyarakat Vietnam di Kampung Tua, tepatnya di Desa Kuku masih tersimpan. Mereka datang sekitar tahun 1974, dengan menggunakan ratusan kapal perahu dari Vietnam menuju Jemaja

"Ada sekitar 24 ribu jiwa yang hijrah ke Pulau Jemaja" terangnya.

Ungkap Omri, Kala itu Omri berusia 26 tahun, saat orang-orang Vietnam datang ke Jemaja. Dan bentuk rasa kekeluargaan tampa melihat, orang asing, suku dan agama, masyarakat Jemaja menyambut langsung kehadiran warga eksodus tersebut.

Di Jemaja, lanjutnya, orang Vietnam, cukup lama. Dari tahun 1974 sampai dengan tahun 1992. Dan setelah perang Vietnam, usai, baru pemerintahan Vietnam memangil kembali warganya, untuk kembali ke kampung halaman.

“Hal ini merupakan sejarah yang tidak bisa dilupakan Vietnam terhadap bangsa Indonesia, khususnya orang Jemaja. Sebab, ada sebagian orang Vietnam, yang kemudian tinggal menetap dengan menikahi orang Jemaja. Sebagian, ada juga yang memilih untuk tinggal di Barelang, Batam, untuk membangun kehidupan baru,” tuturnya.

Omri menambahkan, dalam menempuh perjalanan jauh dari Vietnam hingga ke Jemaja, banyak yang menderita sakit dan kemudian, meninggal dunia di Jemaja. Ada bukti ratusan pemakaman orang Vietnam yang terkubur di Jemaja.

Dan kini, Jemaja, banyak dikunjungi turis asing, khususnya orang Vietnam, untuk melihat makam keluarga mereka. Diantaranya, ada yang memang memiliki histori karena lahir dan dibesarkan di Jemaja.

Karena itu, Omri meminta agar rekam sejarah berupa kuburan tua serta bekas perkampungan Vietnam tersebut, dapat dilestarikan dan dijaga pemerintah setempat, dengan membuat tugu perdamaian.

“Ada catatan sejarah penting dunia tentang perdamaian di Jemaja karena masyarakat pribumi secara terbuka menerima pengungsi asal Vietnam. Ini harus dibuatkan pertanda berupa tugu,” pinta Omri seraya berharap pemerintah peduli akan sejarah itu. (*)
Editor: Iswidodo

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas