TKW Dibunuh di Arab

SBY: Penyiksaan Kikim di Luar Batas Kemanusiaan

Presiden SBY menggelar rapat kabinet terbatas secara khusus membahas terkait nasib para TKI termasuk kabar pilu Kikim Komalasari.

SBY: Penyiksaan Kikim di Luar Batas Kemanusiaan
TRIBUNNEWS.COM/BIAN HARNANSA
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Rachmat Hidayat

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Presiden SBY menggelar rapat kabinet terbatas secara khusus membahas terkait nasib para TKI termasuk kabar pilu Kikim Komalasari, salah seorang TKI yang dianiaya hingga meninggal oleh majikannya di Kota Abha, Arab Saudi.

Dalam pidatonya saat membuka ratas di Kantor Presiden, Jumat(18/11/2010), Presiden SBY menganggap, penyiksaan terhadap Kikim sudah di luar batas kemanusiaan.

"Pagi ini, saya mengundang saudara untuk membahas dan mencari solusi dan permasalahan terhadap tenaga kerja Indonesia, khususnya terjadinya insiden yang mengejutkan. Karena saya anggap, itu di luar batas perikemanusiaan yang terjadi di Saudi Arabia," kata Presiden SBY.

Kikim dikabarkan meninggal dunia setelah dilapori oleh Korwil PDI Perjuangan Arab Saudi. Dilaporkan, Kikim dibunuh oleh majikannya dengan cara digorok. Jenazah Kikim ditemukan di tong sampah tiga hari sebelum perayaan Idul Adha. Sebelumnya, Sumiarti, TKI asal Dompu, NTB juga mengalami penyiksaan oleh majikannya, juga di Arab Saudi.

"Banyak yang telah saudara lakukan. Tetapi, tetap ada masalah-masalah yang tidak boleh kita abaikan seperti apa yang baru saja terjadi di Saudi Arabia," tegasnya.

SBY mengungkapkan, berdasar catatan yang dimilikinya, tercatat jumlah TKI yang berada di luar negeri berjumlah 3.271.584. Dari seluruh TKI yang ada, 4.385 orang atau 0,01 persen mengalami permasalahan di tempatnya bekerja. Dikatakan, persoalan terhadap TKI, tak hanya soal kekerasan saja, tapi juga ada persoalan kontrak

"Bagi kita, satu orang warga negara kita harus mendapat perlindungan, mendapatkan perlakukan hak-haknya. Sesuai dengan kontrak yang telah kita tetapkan," kata presiden.

"Kemudian akan berikan direktif yang akan kita lakukan untuk mengetahui secepatnya. Memberi informasi, manakala kasus yang serius ini meskipun jumlahnya kecil, kalau saya lihat angkanya di sini itu tidak terjadi lagi atau dapat kita kurangi secara signifikan," ujar presiden.(*)

Penulis: Rachmat Hidayat
Editor: Juang Naibaho
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017
About Us
Help