Ciliwung Larung Memberdayakan Masyarakat Pinggir Sungai

Sekitar 1980-an, tak banyak orang yang berani mendatangi kawasan Bukit Duri, Tebet, Jakarta Timur. Selain dikenal sebagai kawasan kumuh,

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Sekitar 1980-an, tak banyak orang yang berani mendatangi kawasan Bukit Duri, Tebet, Jakarta Timur. Selain dikenal sebagai kawasan kumuh, konon kabarnya banyak Penembak Misterius (petrus) yang beraksi di kawasan tersebut.

Namun pagi ini, Sabtu (18/12/2010), kawasan langganan banjir tersebut menghelat sebuah festival, yakni Festival Gerakan Budaya Ciliwung Larung.

Adalah Romo Sandiawan Sumardi yang menjadi inisiator acara yang akan digelar hingga esok itu. Mimpinya untuk menyulap pemukiman kumuh menjadi daerah bersahabat yang ramah lingkungan, telah membuatnya bertahan tinggal di kawasan tersebut sejak belasan tahun lalu.

"Ciliwung Larung merupakan ekspresi kesadaran dan kerinduan kolektif seluruh realitas hidup, warga pinggiran kali Ciliwung," ujarnya saat ditemui disela-sela perhelatan tersebut.

Menurutnya, dengan mengadakan festival tersebut, diharapkan warga sebagai partisipan dapat mendayagunakan seluruh energi-energi potensialnya, sehingga dapat makin memperkuat warga untuk menjawab permasalahan kesehariannya sebagai masyarakat pinggir sungai. 

Permasalahan meluapnya permukaan air Ciliwung yang selalu menyalahkan warga bantaran sungai, serta tingkat kriminalitas dapat dijawab dengan memberikan kesempatan masyarakat untuk menyelesaikan permasalahan tersebut.

"Selama ini, warga bantaran sungai seperti diacuhkan oleh pemerintah," ujarnya.

Kini, permasalahan sampah oleh warga pinggir sungai sedikit banyaknya telah terjawab dengan instalasi pengelolaan kompos yang sudah hampir satu tahun beroperasi. Permasalahan pemukiman juga mulai dibenahi dengan pembangunan berkonsep lingkungan,

"Kita mau membuktikan kalau tidak selalu warga pinggir sungai adalah warga yang secara sosial bermasalah," ujarnya.

Menurutnya perelokasian pemukiman terhadap warga Bukit Duri bukanlah solusi. Pasalnya rumah bagi warga Bukit Duri bukan hanya sebagai tempat tinggal, tetapi juga sebagai modal ekonomi untuk memenuhi kehidupan sehari-hari, salah satunya adalah diperuntukan sebagai tempat usaha.

"Tapi setidaknya jika warga Bukit Duri harus direlokasi oleh pemerintah, warga sudah siap untuk berjuang di tempat baru dengan modal yang sekarang mereka miliki," tuturnya.

Lebih lanjut Romo menjelaskan, bahwa warga telah mampu memproduksi berbagai macam kerajinan dengan kualitas yang terjaga. Selain itu warga juga telah sadar akan pentingnya mandiri secara ekonomi.

"Dalam acara larung ini, kami berharap segala kendala dan permasalhan warga bisa ikut hanyut di sungai, sehingga kehidupan masyarakat bisa menjadi lebih baik," tukasnya.

Dalam acara Ciliwung Larung tersebut, digelar pementasan teater oleh anak- anak Bukit Duri,  Pasar Rakyat Ciliwung Merdeka serta diskusi publik yang melibatkan masyarakat.

Penulis: Nurmulia Rekso Purnomo
Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017
About Us
Help