Polri Bantah Isi Wikileaks Terkait Hubungan FPI

Kepolisian RI membantah pernyataan situs pembocor kawat diplomatik, Wikileaks.

Polri Bantah Isi Wikileaks Terkait Hubungan FPI
net
WikiLeaks

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Ferdinand Waskita

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kepolisian RI membantah pernyataan situs pembocor kawat diplomatik, Wikileaks. Diketahui Wikileaks memaparkan mengenai hubungan antara polisi dengan ormas Front Pembela Islam (FPI)

"Data Wikileaks tidak benar dan tidak akurat serta tidak didapatkan melalui fakta," kata Kabag Penum Polri, Kombes Pol Boy Rafli Amar ketika dihubungi, Minggu (4/9/2011).

Boy mengatakan informasi dari Wikileaks tidak dapat dipercaya karena hanya bersumber dari omongan orang. "Analisis mereka sangat sumir belum layak dipercaya," katanya.

Menurut Boy, Polri telah meminimalisir meningkatnya kasus-kasus kekerasanya yang berkaitan dengan FPI. Polri, kata Boy, selama ini penanganan kasus sudah sesuai sdengan penegakan hukum yang berlaku.

"Masyarakat sudah cerdas. FPI merupakan ormas yang berkembang di masyarakat. Polri institusi negara hubungannya sebagai mitra yang sifatnya positif untuk kepentingan bangsa," ujarnya.

Diketahui, telegram rahasia itu mengungkapkan bahwa mantan Kapolri yang kini menjadi Kepala BIN, Jenderal (Purn) Sutanto, adalah tokoh yang telah mendanai FPI.

Pendanaan dari Sutanto itu diberikan sebelum serangan yang dilakukan FPI ke Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta, Februari 2006 silam. Namun kemudian Sutanto menghentikan aliran dananya setelah serangan terjadi.

"Yahya Asagaf, seorang pejabat senior BIN mengatakan, Sutanto yang saat itu menjadi Kapolri menganggap FPI bermanfaat sebagai ‘attack dog’,” ungkap telegram rahasia yang dipublikasikan oleh Wikileaks itu.

Saat pejabat kedutaan AS menanyakan manfaat FPI memainkan peran ‘attack dog’ itu, karena sebenarnya polisi sudah cukup menakutkan bagi masyarakat, Yahya menjelaskan bahwa FPI digunakan sebagai ‘alat’ oleh polisi, agar petugas keamanan itu tidak menerima kritik terkait pelanggaran Hak Asasi Manusia. Disebutkan juga bahwa mendanai FPI adalah sudah tradisi di lingkungan Polri dan BIN.

Kawat diplomatik yang dipublikasikan Wikileaks juga mengatakan bahwa FPI mendapatkan sebagian besar dananya dari petugas keamanan, tetapi mereka harus menghadapi pemotongan dana setelah serangan dilakukan.

Bocoran Wikileaks juga mengatakan bahwa mantan Kapolda Metro Jaya, Komjen (purn) Nugroho Djajusman, sebagai tokoh yang ‘dihormati’ di lingkungan FPI.

Penulis: Ferdinand Waskita
Editor: inject by pe77ow
Ikuti kami di

BERITA REKOMENDASI

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved