Kamis, 25 Desember 2014
Tribunnews.com

Eksepsi Lion Air atas Perlakukan Diskrimintif Ditolak

Kamis, 29 September 2011 17:54 WIB

Eksepsi Lion Air atas Perlakukan Diskrimintif Ditolak
Lion Air
Maskapai penerbangan Lion Air

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Samuel Febriyanto

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Penyandang cacat, Ridwan Sumantri (31), menyatakan tidak bisa menerima eksepsi Maskapai Lion Air atas tindakan diskriminatif terhadap dirinya yang menggunakan kursi roda pada penerbangan Cengkareng-Denpasar 11 April silam.

Kuasa Hukum Ridwan, Heppy Sebayang di sela sidang gugatan Ridwan terhadap Lion Air, yang digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat (PN Jakpus), Jalan Gajah Mada, Jakarta, Kamis, (29/9/2011), menyatakan menolak seluruh eksepsi pihak Lon Air.

"Kami menolak seluruh eksepsi yang diberikan pihak Lion Air," ujarnya.

Diketahui, dalam jawabannya Lion Air, berpendapat gugatan Ridwan salah alamat karena tidak disertai dengan gugatan oleh rekan Ridwan yang ikut dalam penerbangan tersebut. Ridwan menampik tudingan ini, sebab rekan Ridwan bukanlah penyandang cacat.

"Rekan Ridwan saat itu adalah perempuan bergelar doktor tamatan sebuah universitas terkemuka, dosen dan peneliti. Yang dia bukan penyandang cacat. Jadi tidak ikut menggugat," ujar Heppy.

Akibat perbuatan diskriiminasi tersebut, beber Heppy, penerbangan pesawat tertunda 20 menit. Hal itu dikarenakan, pihak Lion Air memaksa Ridwan menandatangani surat pernyataan sakit. Selama perjalanan dari Gate 5 ke pesawat hanya dipandu oleh 1 orang petugas sehingga bisa terjadi hal buruk seperti jatuh dan terguling.

"Saat itu, semua penumpang melihat ke arah penggugat sambil mengeluh seolah-olah menyalahkan Ridwan atas tertundanya penerbangan," terang Heppy.

Selain meminta ganti rugi materiil dan immateril sebesar Rp 100 juta, Ridwan juga minta Lion Air, Kementrian Perhubungan dan PT Angkasa Pura II menyatakan permintaan maaf di media nasional.

"Perlu ada permintaan maaf, sebab meski gugatan ini telah dilayangkan ke pengadilan namun Lion Air belum memperbaiki layanannya dan masih terus terjadi bagi penyandang cacat," tuntas Heppy.

Menanggapi gugatan ini, Lion Air menyerahkan sepenuhnya ke proses hukum yang berlaku di pengadilan. "Kita lihat saja di persidangan karena sudah masuk ke persidangan," kata kuasa hukum Lion Air, Nusirwin.

Gugatan ini bermula ketika Ridwan, hendak terbang menuju Denpasar pada Senin 11 April 2011 dari Bandara Soekarno-Hatta. Ridwan mengaku merasakan perlakuan diskriminatif usai melakukan check in.

Perbuatan diskriminatif itu di antaranya, harus menadatangani surat sakit yang diajukan oleh Lion Air, di sana tercantum pula jika sakitnya menyebabkan penumpang lain sakit, maka dia yang harus menanggung.

Dirinya sempat protes hingga penerbangan molor selama 40 menit. Di ujung pemaksaan, petugas Lion Air mengancam apabila tidak mau menandatangi surat sakit, maka Ridwan harus turun. Diberi pilihan tersebut, mau tidak mau dia menandatangai surat perjanjian tersebut. Selain itu dia juga ada pekerjaan penting di Denpasar yang tidak mungkin ditinggalkan.

Penulis: Samuel Febrianto
Editor: Hasiolan Eko P Gultom

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas