Papua Memanas

Kehadiran Freeport Sumber Masalah Bagi Rakyat Papua

Kehadiran Freeport, menurut Masinton, menjadi sumber segala masalah untuk rakyat Papua, kekayaan alam yang dikeruk tidak digunakan

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Aktivitas pertambangan PT Freeport McMoran Indonesia (Freeport) di Papua, dimulai sejak tahun 1967 hingga saat ini, berlangsung selama 44 tahun. Selama ini, kegiatan bisnis dan ekonomi Freeport di Papua, telah mencetak keuntungan finansial yang sangat besar bagi perusahaan asing tersebut.

Ketua DPN Repdem, Masinton Pasaribu menjelaskan, penghasilan bersih PT Freeport Indonesia, perharinya mencapai US$ 20 juta atau jika dikalikan dengan 31 hari hasilnya adalah: US$ 620 Juta (jika dirupiahkan sekitar 5,5 triliun). Apabila penghasilan PT Freeport Indonesia sebesar US$589 juta per bulan, maka penghasilan bersih Freeport pertahunnya kurang lebih 70 triliun rupiah, kalau dikalikan dengan 44 tahun keberadaan Freeport di Indonesia maka keuntungan bersihnya mencapai 3.000 triliun, sebuah jumlah yang cukup fantastis.

"Keuntungan Freeport bisa untuk menutupi utang luar negeri Indonesia sejumlah 1.700 triliun rupiah yang selama ini bebannya ditanggung oleh rakyat Indonesia," ujar Masinton menegaskan, Jumat (4/11/2011).

Kehadiran Freeport, menurut Masinton, menjadi sumber segala masalah untuk rakyat Papua, kekayaan alam yang dikeruk tidak digunakan untuk membangun kesejahteraan rakyat Papua.

Bahkan, ungkapnya, Freeport memobilisasi aparat militer TNI/Polri untuk mengamankan kepentingannya di Papua, dengan menggelontorkan uang triliunan rupiah kepada TNI/Polri Freeport merubah loyalitas abdi negara dan rakyat menjadi abdi Freeport.

"99 persen keuntungan Freeport dari tanah Papua dibawa ke Amerika Serikat, hanya 1 persen yang diberikan kepada Indonesia, dari secuil keuntungan yang diserahkan kepada Indonesia, itupun hanya dinikmati oleh segelintir pengusaha dan pejabat pusat di Jakarta seperti Ginanjar Kartasasmita, group usaha Bakrie, Abdul Latif, serta pejabat daerah di Papua," tuturnya.

Untuk itu, agenda perjuangan, usir Freeport dari Indonesia, menjadi penting karena Freeport adalah kunci utama yang harus dibuka untuk mulai menasionalisasi seluruh aset-kekayaan Indonesia yang dikuasai asing seperti Chevron, Exxon, Total, Shell, Newmont, CNOOC, dan lain-lainnya.

Penulis: Rachmat Hidayat
Editor: Dewi Agustina
Ikuti kami di

BERITA REKOMENDASI

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved