• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Selasa, 23 September 2014
Tribunnews.com

Jimly Pilih Pemiskinan Koruptor Ketimbang Hukuman Mati

Senin, 14 November 2011 16:45 WIB
Jimly Pilih Pemiskinan Koruptor Ketimbang Hukuman Mati
tribunnews.com/bian harnansa
Mantan Ketua MK Jimly Asshiddiqie

TRIBUNNEWS.COM, JEMBER - Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Jimly Asshidiqie tak sepakat dengan wacana hukuman mati bagi koruptor. Ia malah menegaskan, pada saatnya nanti Indonesia harus menghapus hukuman mati dari peradilan Indonesia.

"Iya kalau hukuman mati itu membuat efek jera. Ada wacanan hukuman mati untuk koruptor, apa itu bisa menjadi efek jera, selama ini saya melihat
tidak ada efek jera dari hukuman mati. Hukuman mati nantinya harus dihapus," ujar Jimly usai menyampaikan pidato ilmiah dalam rangka Milad Universitas Jember (Unej) ke-47 di gedung Soetarjo Unej, Senin (14/11/2011).

Oleh karena itu ia tidak setuju dengan wacana hukuman mati untuk koruptor yang sempat dilontarkan oleh Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)
Busyro Muqoddas. Apalagi jika nantinya hukuman tersebut sampai dicantumkan dalam UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Guru Besar Hukum Tata Negara Universitas Indonesia tersebut lebih
sepakat jika harta koruptor dirampas sesuai dengan jumlah kerugian negara atau bahkan bisa dua kali lipat dari jumlah kerugian negara.

"Lebih baik pemiskinan. Harta dia dirampas, bisa dua kali lipat dari jumlah kerugian negara. Cukup ditinggali kebutuhan minimum saja seperti sandang,
pangan dan papan," lanjutnya.

Ia juga menyarankan, para komisioner KPK untuk bekerja semaksimal
mungkin dan tidak terlalu banyak melontarkan opini publik serta tampil di media massa. Menurutnya, pejabat harus efisifen dan efektif menggunakan waktunya untuk bekerja dan tidak melulu melontarkan opini publik di media massa.

Sebelumnya Ketua KPK, Busyro Muqoddas mengingatkan pentingnya hukuman mati dalam jenis hukum untuk koruptor di UU Pemberantasan Tipikor menyusul rencana revisi terhadap UU tersebut oleh pemerintah. (uni)

Editor: Yudie Thirzano
Sumber: Surya
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
182683 articles 0 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
    Jadilah yang pertama memberikan komentar
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas