• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Selasa, 2 September 2014
Tribunnews.com

Ulama Kini Sibuk Urusi Politik

Sabtu, 26 November 2011 23:03 WIB
Ulama Kini Sibuk Urusi Politik
TRIBUNNEWS.COM/HERUDIN
Ilustrasi

Laporan Wartawan Tribun Timur, Ilham

TRIBUNNEWS.COM, MAKASSAR - Kiprah ulama di dunia politik cenderung dinilai menjauh dari jati diri sebagai ulama penghulu ummat. Putra AGH Aliyafie, DR Hilmi Aliyafie memberi argumentasi demikian terkait fenomena ulama kekinian yang sudah terjun ke dunia politik.

Perkataan  pendiri LAKPESDAM Nahdatul Ulama ini usai mengikuti acara tudang sipulung Darud Dakwah Wal Irsyad oleh Forum Komunikasi Alumni (FORKAMI) DDI Galesong Baru di Aula DDI Gal-Bar, Jl Yos Sudarso, Makassar, Sabtu (26/11/2011).

"Sekarang ini progresivitas aktor baik dari anak kiai cenderung mengikut arus utama (kepentingan partai politik) jika terlibat parpol. Jadi nilai-nilai orang  itu semakin cenderung pragmatis individualistik,"kata Hilmi

"Jadi saya khawatir yang namanya kesetiakawananan memikirkan kepentingan-kepentingan orang lain terutama rakyat itu menjadi nomor dua kalau kiai atau anak kiai terlibat partai politik. Dan kalau itu kan ya hampir tidak ada gunanya karena sebenarnya dia (kiai), atau nama kiaia hanya dijadikan tunggangan," Hilmi menambahmakan

Menurut alumni DDI ini, nama ulama yang terlibat dalam dunia politik juga cenderung hanya menjadi jualan politik,

"Ya, itu jualan dan menjadi murah nilainya karena tidak banyak memberi manfaat kepada masyarakatnya. Seharusnya kan mereka (ulama atau anak ulama) menyadari bahwa mereka punya akar seperti orang tuanya, karena itu kan berangkat dari masyarakat tertentu, ya dari pesantren itu dan kalau itu terlupakan kan itu artinya sama dengan menghianati misi awal itu (orang tuanya)," tegas Hilmi.

Pandangan putra salah satu pendiri DDI AGH Aliyafie ini tak terelakkan jika keterlibatan kalangan ulama di partai politik tidak akan terkontaminasi dengan arus kepentingan politik yang bersangkutan.

"Ya itu tadi bahwa cenderung ke arus utama di mana arus utama ini dari semacam pola atau semacam sistem sehingga kalau orang masuk ke dalam itu kan susah untuk tidak ikut karena konsekuensinya dia tidak ikut arus itu dia terlempar atau dia akan menjadi orang aneh dalam partai itu,"jelasnya.

Editor: Yulis Sulistyawan
Sumber: Tribun Timur
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
187145 articles 0 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
    Jadilah yang pertama memberikan komentar
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas