• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Jumat, 25 April 2014
Tribunnews.com

Kebijakan APP Menunjang Industri Pulp dan Kertas Indonesia

Rabu, 16 Mei 2012 23:09 WIB
Kebijakan APP Menunjang Industri Pulp dan Kertas Indonesia
Kemenperin
ilustrasi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Direktur Eksekutif Asosiasi Pengusaha Kayu Indonesia (APKI), Liana Bratisda mengungkapkan, APP telah menunjukkan bahwa industri dalam negeri serius berkompetisi dengan internasional.

Semua ini lantaran adanya kebijakan Asia Pulp & Paper Grup (APP) yang menerapkan prinsip Hutan Bernilai Konservasi Tinggi (HCVF) dalam pengembangan bisnisnya diapresiasi berbagai kalangan.

Liana Bratisda berharap, kebijakan baru APP ini dapat memberikan multiplier effect terhadap perusahaan-perusahaan lain untuk menerapkan hal sama. Dengan begitu, citra Indonesia di mata dunia menjadi positif.

‘’Karena persaingan global dan tujuannya ekspor harus dipastikan perusahaan nasional memenuhi standar internasional. Yang pasti, kegiatan APP positif,’’ ungkap Liana Bratisda di Jakarta, Rabu (16/5/2012).

Bagi APKI, kata Liana, program APP membuktikan jika Indonesia memperhatikan masalah lingkungan. Jadi, sudah saatnya industri kertas nasional menerapkansustainability concept yang mencangkup tiga pilar, yaitu ekonomi sosial dan lingkungan.

‘’Orang (asing) itu menekan karena tak punya apa-apa. Kita jangan bodoh, jangan terbawa. Yang penting komitmen untuk melaksanakan. Kita minta semua pihak ikut menjaga sehingga ada cross check,’’ papar Liana.

Sementara itu, Ketua APKI Misbahul Huda menilai kebijakan baru APP merupakan wujud nyata industri pulp dan kertas Indonesia untuk mencapai produksi kelas dunia sesuai standar lingkungan.
Misbahul mengakui, beberapa pekan lalu industri pulp dan kertas melalui APKI telah berkomitmen dengan mitra dagang serta pemegang saham untuk mendukung penerapan Sistem Verifikasi dan Legalitas Kayu (SVLK) sesuai ketentuan Kementerian Kehutanan.

Komitmen ini dinyatakan dalam sebuah petisi yang ditandatangani 20 April 2012 oleh tujuh asosiasi, termasuk APKI. ‘’Kini APP menerapkan kebijakan baru berdasarkan SVLK yaitu program HCVF. Tak hanya sesuai tapi juga melampaui standar internasional. Dua program ini menunjukkan kalau pembuat kebijakan dan industri kita berkomitmen menjaga sumber daya alam dan keanekaragaman satwa,’’ papar Misbahul.

Hal senada dikemukakan Direktur Eksekutif Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) Purwadi Soeprihanto. Menurutnya, komitmen APP yang mengadopsi penilaian Hutan Bernilai Konservasi Tinggi (HCVF) untuk pemasok mereka merupakan terobosan baru dalam industri pulp dan kertas.
Baru-baru ini, kata Purwadi, APHI mendukung pelaksanaan SVLK sebagai sertifikasi jaminan bahwa kayu yang mereka pasok benar-benar ramah lingkungan. Sertifikasi wajib SVLK ini akan memberikan Indonesia standar produksi kelas dunia berkelanjutan.

‘’Kami mendukung komitmen APP yang serius menerapkan sistem pengelolaan hutan berkelanjutan berdasarkan prinsip HCVH. Tentunya akan ada masalah yang harus dihadapi, baik dari APP maupun pemasoknya, seperti yang biasa terjadi ketika sebuah kebijakan baru diterapkan. Namun, yang terpenting adalah adanya proses keterlibatan multi-pihak yang efektif serta dukungan penuh dari semua pihak termasuk pemerintah, asosiasi, dan LSM untuk menjamin keberhasilan implementasi ini,’’ tuturnya.

Ia menambahkan, pihaknya juga mendorong perusahaan lain untuk mengikuti inisiatif APP.
Seperti diberitakan sebelumnya, APP mengeluarkan kebijakan penerapan prinsip HCVF dalam pengembangan bisnisnya. Prinsip itu mencakup penghentian pembukaan hutan alam di wilayah konsesi hutan tanaman industri.

"Kami selalu mencari peluang baru. Namun, kami akan pastikan kebijakan perlindungan hutan alam akan berlaku di semua unit pabrik dan kegiatan ekspansi perusahaan di masa depan," kata Managing Director Sustainability APP, Aida Greenbury, pada acara Launching Of APP Forest Protection Policy di Jakarta, Selasa (15/5/2012).

Dengan kebijakan tersebut, menurutnya, APP akan memastikan bahwa pelanggan akan mendapatkan produk dengan nilai integritas lingkungan dan sosial yang tinggi.

Dari 1.080.000 hektare (ha) lahan konsesi APP, sekitar 480.000 ha telah terkonversi sebagai hutan tanaman industri (HTI). Sehingga, hutan yang sudah dikonversikan ini bisa menyuplai pasokan kayu ke pabrik.

Dengan demikian, perusahaan optimistis tahun ini produksi perusahaannya baik berupa pulp maupun kertas bisa mencapai 7-8 juta ton. Sebanyak 70% hasil produksi dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan sisanya tujuan ekspor.

Editor: Toni Bramantoro
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
537451 articles 0 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI KOMENTAR SAYA
Atas