Jumat, 21 November 2014
Tribunnews.com

Boni: Nasdem Tak Usah Usung Capres Jadul

Kamis, 7 Juni 2012 20:02 WIB

Boni: Nasdem Tak Usah Usung Capres Jadul
TRIBUNNEWS.COM/DANY PERMANA
Ketua Dewan Pakar Partai NasDem, Hary Tanoesoedibjo, Ketua PMI, Jusuf Kalla, dan Ketua Majelis Nasional Partai NasDem, Surya Paloh, saat menghadiri apel besar Baret garda Pemuda Nasional Demokrat, di Monas, Jakarta, Minggu (3/6/2012). Acara tersebut diselenggarakan untuk memperingati hari kelahiran Pancasila, sekaligus konsolidasi nasional Garda Pemuda NasDem. TRIBUNNEWS/DANY PERMANA

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Partai NasDem harus selektif menjaring calon presiden dan mempertimbangkan sistem regenerasi politik. Wajah lama, lebih baik  disimpan dalam album, tampilkan wajah baru.
 
Kalau pun belum ada wajah baru yang mumpuni, Partai NasDem bisa mencari figur lama sekelas Jusuf Kalla.
 
“Regenerasi politik adalah syarat bagi pembangunan politik. Wajah lama saatnya disimpan dalam album. Tampilkan wajah baru. Banyak tokoh muda dari internal NasDem bisa diusung jadi capres dan cawapres, antara lain Jeffrei Geovanie atau Harry Tanoe. Keduanya brilian dan punya rekam jejak yang bagus,” kata pengamat politik dari Universitas Indonesia (UI) Boni Hargens kepada wartawan, Kamis (7/6/2012).
 
Selain di Partai NasDem, katanya, banyak capres muda di parpol lain, tetapi terpendam. Hal ini  karena partainya tidak memberikan ruang, selain karena regenerasi politik tidak berjalan baik.
 
“Partai Golkar dan PDI-P bermasalah dalam hal ini. Demikian juga dengan Partai Demokrat dan PKS, keduanya punya banyak tokoh muda, tetapi kedua partai ini mengalami krisis kepercayaan publik terkait skandal korupsi dan praktik politik yang kontroversial,” katanya.

Menjaring capres yang representatif, katanya, mekanisme konvensi hal yang baik.
 
“Saya beberapa kali mengusung ide primary election  seperti di Amerika Serikat (AS) agar diterapkan di Indonesia. Partai-partai harus berani lakukan itu. Partai baru seperti NasDem harus pelopori gerakan semacam ini karena  masih baru,” katanya.
 
Sebelumnya, pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Zuhro mengatakan, popularitas dan gagasan perubahan yang disampaikan NasDem akan mengancam partai-partai lain, terutama Partai Golkar dan Partai Demokrat.

Penulis: Rachmat Hidayat
Editor: Johnson Simanjuntak

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas