Papua Memanas

Polri Belum Bisa Kaitkan Penembakan di Abepura dengan OPM

Mabes Polri hingga saat ini belum bisa memastikan bahwa rentetan peristiwa penembakan di Abepura, Papua terkait OPM

Polri Belum Bisa Kaitkan Penembakan di Abepura dengan OPM
TRIBUNNEWS.COM/CHANRY ANDREW SURIPATTY
Rombongan Komisi I DPR menyalami aparat kepolisian yang sedang melakukan pengamanan di Kota Jayapura, Papua, Jumat (8/6/2012).


Laporan wartawan tribunnews.com : Adi Suhendi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA- Mabes Polri hingga saat ini belum bisa memastikan bahwa rentetan peristiwa penembakan yang terjadi di Abepura, Papua terkait dengan gerakan Organisasi Papua Merdeka (OPM)

Demikian yang disampaikan Kepala Bagian Penerangan Umum Polri, Kombes Pol Boy Rafli Amar di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Selasa (12/6/2012).

"Belum bisa dikaitkan dengan OPM," ucap Boy.

Polisi hingga saat ini menganggap bahwa pelaku-pelaku penembakan merupakan pelaku kriminal dan baru bisa diketahui motifnya setelah pelakunya ditangkap.

"Mereka pelaku kriminal kita baru bisa tahu motifnya setelah dia ditangkap. Tapi kalau menduga itu boleh, bisa saja mereka itu kelompok yang ingin mengganggu ketentraman masyarakat Papua," terangnya.

Rangkaian penembakan yang sudah memakan banyak korban di Papua, dijelaskan Boy bahwa kasus tersebut berdiri sendiri dan belum bisa dikaitkan satu sama lainnya.

"Belum bisa dikaitkan, harus menunggu tertangkap tersangkanya. Kalau kita ingin mengaitkan nanti (kalau sudah tertangkap)," jelasnya.

Sebelumnya Kepala Badan Intelejen Negara (BIN) Letjen (Purn) Marciano Norman, menyatakan hasil informasi intelejen yang diperoleh memastikan bahwa pelaku gangguan keamanan terkait rentetan penembakan di Papua adalah Organisasi Papua Merdeka (OPM).

Ia memastikan, sejumlah kasus penembakan di Papua dalam sebulan terakhir tidak melibatkan pihak asing. "Yang pastinya mereka ini adalah OPM," tegas Marciano di DPR, Jakarta, Senin (11/6/2012).

Menurut Marciano, kelompok tersebut saat ini sengaja melakukan gangguan keamanan hingga berani dilakukan di tengah kota Jayapura, karena menginginkan Papua mendapatkan perhatian dari dunia internasional yang pada ujungnya mendapat sorotan dari kelompok HAM internasional.

Kini, kelompok bersenjata tersebut telah mulai mengubah strateginya. "Itu kan sebetulnya bukan (karena) masalah tidak terdeteksi di awal. Sekarang ada perkembangan yang tadinya front politiknya berjuang di kota dan front bersenjatanya berjuang di hutan, sekarang mereka menyatu sehingga ada pihak dari hutan yang tertarik ke dalam kota," beber Marciano.

Seperti diketahui, Selasa (29/5/2012), seorang Warga Negara Jerman, Dietman Pieper, ditembak saat bersantai di pondok wisata Port Numbay, Distrik Japut, Kelurahan Tanjung Ria, Jayapura. Korban mengalami luka dan dirawat di RS di Singapura setelah sebelumnya dirawat di RSUD Jayapura.

Kemudian, Senin (4/6/2012), seorang remaja bernama Gilbert Febrian Madika (16) menjadi korban penembakan orang tidak dikenal di kawasan Skyline Jl Raya Jayapura-Abepura sekitar pukul 21.30 WIB.

Kejadian penembakan pun kembali terjadi esok harinya, Selasa (5/6/2012), sekelompok orang tidak dikenal melakukan penembakan terhadap dua orang warga sipil, Iqbal Rival dan Hardi Javanto. Peristiwa tersebut terjadi di Jayapura, atau tepatnya Jalan Raya Jayapura menuju Abepura.

Pada hari yang sama, Selasa (5/6/2012) anggota TNI Pratu Frangki Kune (25) ditemukan terkapar bersama dua warga sipil yang ditembak Orang Dikenal (OTK). Para korban penembakan tersebut harus menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit.

Setelah itu, Rabu (6/6/2012) sekitar pukul 21.10 WIT penembakan kembali terjadi di Jalan Baru belakang Kantor Walikota Jayapura, Arwan Apuan seorang PNS Perhubungan Kodam XVII Cendrawasih harus dirawat intensif setelah peluru mengenai leher kiri tembus rahang kirinya.

Kemudian baru-baru ini seorang satpam pertokoan Saga Mall Abepura yang nyambi menjadi tukang ojek menjadi korban penembakan OTK di halaman FKIP Universitas Cenderawasih, korban Tri Surono (35) tewas di lokasi kejadian dengan luka tembak di leher bagian belakang dan punggung.

Penulis: Adi Suhendi
Editor: Gusti Sawabi
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com © 2017
About Us
Help