• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Jumat, 19 September 2014
Tribunnews.com

Dakwaan: Inisiatif Suap dari Anggota DPRD Semarang

Rabu, 13 Juni 2012 13:41 WIB
Dakwaan: Inisiatif Suap dari Anggota DPRD Semarang
TRIBUNNEWS.COM/DANY PERMANA
Walilota Semarang, Soemarmo, diperiksa oleh KPK, di Jakarta, Selasa (8/5/2012). Soemarmo bersdama Sekretaris Daerah Kota Semarang Ahmad Zaenuri, serta anggota DPRD Kota Semarang Agung Purno Sarjono dan Sumartono, diperiksa atas dugaan kasus suap APBD Kota Semarang. (TRIBUNNEWS/DANY PERMANA)

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Wali Kota Semarang non-aktif, Soemarmo Hadi Saputro (SHS) didakwa Jaksa Penuntut Umum (JPU) memberikan suap senilai Rp 344 juta kepada anggota DPRD Semarang terkait pembahasan rancangan peraturan daerah (raperda) APBD Semarang tahun anggaran 2012.

Berdasarkan surat dakwaan Dak-09/04/06/2012, suap diberikan Soemarmo setelah didesak oleh anggota DPRD Semarang.

Dalam surat dakwaan yang dibacakan Ketua Tim Jaksa KPK, KMS Roni, sekitar bulan Oktober 2011 terdakwa Soemarmo melakukan pertemuan dengan anggota DPRD Semarang Fraksi PAN, Agung Purno Sarjono.

Pertemuan membahas soal Kebijakan Umum anggaran (KUA) dan Prioritas Plafon Anggaran Sementara (PPAS) serta tambahan penghasilan pegawai dalam APBD Semarang tahun 2012.

Dalam pertemuan tersebut, Agung meminta terdakwa Soemarmo menyiapkan dana terkait pembahasan raperda APBD. "Pak Wali itu tolong dipikirkan untuk pembahasan APBD sebesar Rp10 miliar," kata Jaksa Roni menirukan perkataan Agung dalam sidang pembacaan surat dakwaan di Pengadilan Tipikor, Rabu (13/6/2012).

Kemudian, tanggal 31 Oktober 2011, terdakwa Soemarmo melakukan pertemuan dengan para pimpinan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Pemkot Semarang.

Kepala daerah yang diusung PDIP itu kemudian mengungkapkan soal permintaan dana untuk memuluskan raperda APBD Semarang.

Kemudian tanggal 1 November 2011, terdakwa Soemarmo memanggil Sekda Akhmat Zaenuri dan menginstruksikan agar permintaan DPRD dikabulkan.

"Terdakwa mengatakan, 'Ya lebih baik disediakan dana daripada mereka (anggota DPRD) meminta proyek, karena setiap kali diberikan proyek hasilnya tidak bagus dan pengiriman SPJ nya selalu terlambat sehingga merepotkan SKPD pada saat audit," papar Jaksa Roni.

Setelah beberapa kali melakukan pembicaraan dengan anggota DPRD Semarang, akhirnya disepakati uang pelicin dengan total nilai Rp5,2 miliar. Rinciannya, uang Rp4 miliar untuk anggota Badan Anggaran (Banggar) DPRD Semarang dan Rp1,2 miliar untuk enam ketua partai.

Pada tanggal 10 November 2011, uang tahap pertama sebanyak Rp304 juta disetorkan Akhmat kepada anggota DPRD Semarang melalui Agung Sarjonoo. Penyerahan uang tahap pertama dilakukan di ruang rapat VIP di kantor Wali Kota Semarang. Kemudian tanggal 24 November 2011, Akhmat memberikan uang tahap kedua senilai Rp40 juta melalui Agung dan Sumartoni di ruang kerja Sekda Semarang.

Penyerahan uang tahap dua ini diketahui KPK lewat operasi tangkap tangan.

Atas serangkaian peristiwa tersebut, Soemarmo didakwa melanggar Pasal 5 ayat 1 huruf a atau Pasal 13 UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Sementara, saat dikonfirmasi Tribunnews.com, Penasehat Hukum Soemarmo, Sopar Sitinjak bersikukuh menilai kliennya tak menyalahi prosedur selaku Wali Kota Semarang saat itu. Bahkan, ia menegaskan jika kliennya sudah menolak permintaan sejumlah anggota DPRD tersebut.

"Itu sudah ditolak, berkali-kali, bapak (Soemarmo) tidak mau dengan cara seperti itu," tegas Sitinjak.

Kendati demikian, lanjut Sitinjak, pihaknya tak akan mengajukan surat bantahan (eksepsi) terhadap surat dakwaan. Menurutnya lebih baik pihaknya mempersiapkan saksi-saksi yang akan menjelaskan peristiwa sebenarnya.

"Ya kami akan ajukan saksi-saksi yang akan menjelaskan kalau terdakwa tidak terlibat pada kasus ini," tegasnya.


(Edwin Firdaus)

baca juga:

Penulis: Edwin Firdaus
Editor: Gusti Sawabi
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
621002 articles 0 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
    Jadilah yang pertama memberikan komentar
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas