• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Jumat, 18 April 2014
Tribunnews.com

Benarkan Kampanye Bawa Isu SARA, Rhoma Irama Dikritik

Senin, 30 Juli 2012 17:47 WIB
Benarkan Kampanye Bawa Isu SARA, Rhoma Irama Dikritik
TRIBUNNEWS.COM/DANY PERMANA
Calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo (kiri), dan Nachrowi Ramli (kanan), saat melakukan kampanye terbuka di Syadion Soemantri Brojonegoro, Jakarta Selatan, Sabtu (30/6/2012), bersama musisi senior Rhoma Irama (tengah). Fauzi Bowo dan Nachrowi Ramli maju dalam pilkada DKI Jakarta 2012, dengan nomor urut 1. TRIBUNNEWS/DANY PERMANA

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pengamat Politik, Ray Rangkuti, mengatakan kampanye SARA dalam Pilkada DKI Jakarta merupakan kemunduran demokrasi.

"Pengakuan atas perbedaan diatas SARA memang penting. Tapi tujuan pengakuan itu bukan bukan untuk membuat kotak-kotak tapi sebaliknya untuk saling menghormati dan saling toleran," kata Ray dalam rilisnya ke Tribunnews.com, Senin (30/7/2012).

Ditegaskan pengakuan atas SARA dalam kerangka pengkotan merupakan penghinaan atas Kebhinnekaan. Lebih-lebih, lanjut Ray,  jika hal itu dimaksudkan untuk kepentingan politik, jauh lebih mundur.

"Pengkotakan publik berdasar SARA atas nama demokrasi jauh lebih tidak pas. Jelas demokrasi dibuat justru untuk menghilangkan kotak-kotak SARA itu demi kebaikan bersama," katanya.

Ray menegaskan orang harus diajak untuk masuk pada ikatan-ikatan kepentingan bersama. Ikatan-ikatan yang menjamin bagi penyelenggaraan pemerintahan yang lebih terbuka, anti korupsi, berorientasi kesejahteraan dan didasarkan keadilan sosial.

"Dalam rangka itulah demokrasi menjadi penting. Bukan sebaliknya, demokrasi dijadikan sebagai alat diskriminasi SARA. Karena beda suku, agama, ras maka seseorang dianggap tak layak memimpin. Itu pembodohan makna demokrasi," katanya.

Menurut dia, jelas sikap seperti itu bukan menunjukan adanya demokrasi, tapi sebaliknya berkembangsuburnya sikap anti demokrasi dengan membonceng demkrasi.

"Mereka menyebut transparansi, tapi menepikan prinsip demkrasi yg lain yakni meniadakan prasangka sara dan menempatkan semua manusia sama. Hanya cita-cita dan perilaku sosiallah yang membuat mereka layak dipilih sebagai pemimpin atau hanya sebagai rakyat biasa," kata Ray.

Dikatakan dengan cara pandang seperti itu, kampanye SARA dalam pemilu/pilkada, sejatinya, tak dapat dibenarkan. "Karena ia tak membangun prinsip-prinsip umum demkrasi, dan juga membuat pertimbangan-pertimbangan rasional, kebangsaan dan keadaban makin terpinggirkan," kata Ray.

Menurut Ray, jika penyanyi dangdut  Rhoma Irama melihatnya dalam kaca mata sepert ini dia  yakin Bung Rhoma akan kampanye untuk memilih pemimpin bukan atas dasar SARA tetapi atas dasar kepentingan membangun Jakarta yang lebih baik, manusiawi dan berkeadaban.

Sebelumnya, Kompas.com menulis, raja dangdut Rhoma Irama yang juga merupakan tim kampanye pasangan calon gubernur Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli menuturkan, kampanye yang mengusung suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) dibenarkan. Hal ini disampaikannya saat memberikan ceramah shalat tarawih di Masjid Al Isra, Tanjung Duren, Jakarta Barat, Minggu, (29/7/2012).

"Di dalam mengampanyekan sesuatu, SARA itu dibenarkan. Sekarang kita sudah hidup di zaman keterbukaan dan demokrasi, masyarakat harus mengetahui siapa calon pemimpin mereka," kata Rhoma Irama.

Penulis: Hasanudin Aco
Editor: Willy Widianto
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
777902 articles 0 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI KOMENTAR SAYA
Atas