Senin, 6 Juli 2015
Tribunnews.com

Saatnya Introspeksi dan Membayar Pajak Dengan Benar

Senin, 30 Juli 2012 07:09 WIB

Saatnya Introspeksi dan Membayar Pajak Dengan Benar

Bulan Ramadhan menjadi saat paling tepat untuk merenungkan kembali berbagai hal, baik yang menyangkut diri kita sebagai makhluk individu maupun makhluk sosial. Berbagai kasus suap perpajakan yang terjadi menjadi contoh paling tepat sebuah kejahatan yang yang memiliki efek sosial yang sangat buruk. Setidaknya ada dua dosa besar yang terjadi dalam kasus suap perpajakan, pertama dosa tindakan suap-menyuap dan kedua dosa yang ditimbulkan dari sifat bakhil.

Penyuapan

Agama mengharamkan seseorang menyuap aparat pemerintah. Begitu juga aparat pemerintah diharamkan menerima uang suap. Semua ulama sepakat mengharamkan suap atau sogokan atau risywah, bahkan menggolongkan suap ke dalam dosa besar. Penyuapan menyebabkan ketidakadilan dan merusak tata kehidupan seperti: pelaksanaan hukum yang tidak benar, kebenaran tidak mendapat jaminan hukum, mendahulukan orang yang seharusnya diakhirkan dan mengakhirkan orang yang seharusnya didahulukan.

Pada setiap kasus suap perpajakan, pihak yang dirugikan adalah masyarakat umum yang berhak untuk memperoleh layanan terbaik dari negara, seperti hak untuk mendapatkan pendidikan, keamanan, kesehatan, bantuan sosial dan sebagainya. Selain itu kasus suap perpajakan juga memunculkan ketidakadilan. Di satu sisi  ada pembayar pajak yang telah dengan jujur membayar pajak, di sisi lain ada pihak-pihak yang telah dengan sengaja tidak membayar atau membayar pajak lebih kecil. Apabila hal tersebut melibatkan pengusaha atau perusahaan maka akan menyebabkan persaingan tidak sehat dalam dunia usaha.

Mengingat bahaya yang begitu besar, Rasulullah melaknat perbuatan suap menyuap. Dalam sebuah hadist dikatakan “Rasulullah melaknat orang yang menyuap dan yang disuap, dan orang yang menghubungkan yaitu orang yang berjalan dia antara keduanya.” (HR. Ahmad). Jadi yang diharamkan bukan hanya seseorang yang memakan harta hasil dari suap, tetapi juga diharamkan melakukan hal-hal yang bisa membuat suap itu terjadi, yaitu memberikan suap ataupun menjadi perantara untuk perkara itu. Oleh karena itu ketiga pihak yang terlibat dalam suap menyuap dilaknat oleh Rasulullah, sebab mereka sepakat dalam kemungkaran.

Untuk menghilangkan praktik suap menyuap diperlukan peran dari semua pihak karena dalam praktik seperti ini biasanya pihak-pihak yang terlibat telah mengatur segala sesuatunya serta mengaburkan jejak agar lepas dari jeratan hukum. Memiliki niat baik dan hati ikhlas untuk melaksanakan tugas dan kegiatan merupakan modal utama dalam memberantas praktik suap menyuap.

Sifat Bakhil

Halaman123
Editor: Alexander Siahaan
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2015 About Us Help
Atas