• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Sabtu, 1 November 2014
Tribunnews.com

Brigjen Didik Ditahan Setelah Diperiksa Tiga Hari

Sabtu, 4 Agustus 2012 12:16 WIB

Laporan wartawan tribunnews.com : Adi Suhendi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA- Sejak ditetapkannya sebagai tersangka pada 1 Juli 2012, penyidik Bareskrim Polri langsung memeriksa Wakil Kepala Korps Lalu Lintas Polri Brigjen Pol Didik Purnomo secara intensif untuk mengorek sejumlah.

Brigjen Didik diperiksa bersama AKBP Teddy Rumawan, dan Kompol Legimo di ruang Bareskrim Polri. "Ia ditahan setelah menjalani pemeriksaan intensif selama tiga hari ini," ungkap Kepala Biro Penerangan Masyarakat Kepala Divisi Humas Polri, Brigjen Pol Boy Rafli Amar di Mabes Polri, Sabtu (4/8/2012).

Kemudian Brigjen Didik bersama dua anak buahnya yang juga dijadikan tersangka dibawa penyidik Bareskrim Polri ke Rumah Tahanan Bareskrim Markas Korps Brimob Kelapa Dua Depok, Jawa Barat. "Mereka dibawa ke sana tadi malam sekitar pukul 19.00 WIB," ujarnya.

Memang cukup janggal, kenapa hanya tiga perwira tersebut saja yang dibawa ke Rutan Mako Brimob, sementaran sang pengusaha pemenang tender yang dijadikan tersangka hanya ditahan di Rutan Bareskrim Mabes Polri.

Menjawab pertanyaan tersebut, Boy mengungkapkan alasan ketiga perwira polisi tersebut ditahan Rutan Bareskrim Markas Korps Brimob. "Memangnya mau dimana lagi, karena yang di Bareskrim pun penuh," ujar Boy.

Didik semenjak santer terdengar akan menjadi tersangkan kasus simulator SIM sudah tidak pernah lagi datang ke kantor Korps Lalu Lintas Polri yang terletak di Jalan MT Haryono. Bahkan nomor ponselnya pun dimatikan. Padahal pada saat KPK melakukan penggeledahan, Didik masih sempat terlihat berda di gedung tempatnya berkantor.

Didik merupakan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dari Korlantas Polri dalam pengadaan alat simulator SIM. Ia menandatangani perjanjian tender dengan direktur PT Citra Mandiri Metalindo Budi Susanto. Jenderal bintang satu tersebut ditetapkan sebagai tersangka karena tanggungjawabnya sebagai PPK yang seharusnya mengawasi proses tender pengadaan barang secara baik.

Saat proses tender, AKBP Teddy Rusmawan ditunjuk sebagai ketua panitia lelangnya. Di kalangan korps Lalu Lintas, Teddy memang dikenal sebagai orang yang ahli dalam proses lelang. Selain itu juga Teddy merupakan Kepala Primer Koperasi Korps Lalu Lintas Polri. Sementara sebagai juru bayarnya tentu saja bendahara Korlantas Kompol Legimo.

Didik sendiri memang sudah lama menjadi Wakakorlantas semenjak jaman Irjen Pol Djoko Susilo menjadi Kepalanya. Setelah Djoko diamanahkan menjabat Gubernur Akpol, Didik masih dipercaya menjadi Wakakorlantas. Setelah dilakukan penahanan oleh penyidik Bareskrim Polri, tentu saja jabatan dikepolisiaannya pun tergerus dan tinggal menunggu waktu penggantian.

Penyidik Bareskrim Polri menetapkan lima orang tersangka terkait kasus pengadaan alat driving simulator SIM pada 1 Agustus 2012. Pada 3 Agustus 2012 Polri menahan empat tersangkanya, karena Sukotjo Bambang sedang menjalani hukuman jadi tidak dilakukan penahanan oleh Polri.

Kasus dugaan korupsi pengadaan alat simulator SIM pertama kali mencuat saat Bambang Sukotjo, direktur PT Inovasi Teknologi Indonesia, membeberkan adanya dugaan suap proyek pengadaan simulator SIM pada Korps Lalu Lintas (Korlantas) Mabes Polri.

Bambang terang-terangan menyebut ada suap dari perusahaan pemenang tender pengadaan simulator 2011, kepada pejabat Korlantas Polri bernisial DS sebesar Rp 2 miliar.

Tak hanya dugaan suap, dalam keterangannya dalam artikel sebuah media terkemuka Tanah Air, Bambang pun membeberkan adanya praktek mark up dalam proyek pengadaan simulator motor dan mobil di institusi Polri tersebut.

Pada saat lelang proyek tesebut, perusahaan bernama PT Citra Mandiri Metalindo berhasil memenangi tender pengadaan 700 simulator sepeda motor senilai Rp 54,453 miliar dan 556 simulator mobil senilai Rp 142,415 miliar pada 2011.

baca juga:

Penulis: Adi Suhendi
Editor: Gusti Sawabi
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas