Sabtu, 29 November 2014
Tribunnews.com

Polisi Minta Masyarakat Serahkan Pelaku Kekerasan di Sampang

Rabu, 29 Agustus 2012 00:43 WIB

Polisi Minta Masyarakat Serahkan Pelaku Kekerasan di Sampang
AFP/STR
Anggota pasukan keamanan bersenjata lengkap mengawal seorang anak menuju tempat pengungsian, menyusul terjadinya kerusuhan di Sampang, Madura, Jawa Timur, Minggu (26/8/2012).

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Polisi terus melakukan upaya penanganan hukum kasus kekerasan yang menimpa Muslim Syiah di Sampang, Jawa Timur.

Dari massa yang melakukan penyerangan, polisi baru menetapkan satu tersangka berinisial R. Untuk itu, polisi meminta warga yang mengetahui para pelaku penganiayaan dan penyerangan terhadap Muslim Syiah di Sampang, agar membantu menyerahkannya kepada polisi.

"Kami mengoptimalkan penegakan hukum terhadap peristiwa yang terjadi. Ini pun harus didukung masyarakat ,terutama untuk menyerahkan pihak yang terlibat aksi kekerasan," ucap Kepala Biro Penerangan Divisi Humas Polri Brigjen Boy Rafli Amar di Mabes Polri, Selasa (28/8/2012).

Polri juga meminta para tokoh masyarakat, untuk menyerahkan para pelaku yang terlibat aksi berdarah yang menewaskan dua warga.

"Bukan hanya upaya penyidikan dan penjemputan paksa yang kami lakukan, tapi juga meminta menyerahkan pelaku-pelaku yang diketahui terlibat aksi kekerasan," tutur Boy.

Polri membantah dikatakan lamban mengantisipasi terjadinya tindak kekerasan di Sampang. Menurut Boy, upaya-upaya mendekteksi potensi gangguan keamanan sebenarnya sudah dilakukan.

Bahkan, sebelum aksi penyerangan terjadi, sudah ada upaya komunikasi polisi dengan pemerintah daerah setempat, setelah ada informasi penghadangan para santri. Juga, upaya identifikasi kerawanan pun sudah dilakukan polisi.

"(Tapi) silakan menilai masing-masing. Tentu dinamika yang terjadi di tengah masyarakat tidak semudah yang dibayangkan," imbuh Boy.

Pada MInggu (26/8/2012) sekitar pukul 09.00 WIB, sedikitnya 200 orang menyerbu pemukiman warga Syiah di Sampang, Jawa Timur.

Akibatnya, dua orang tewas dan 15 rumah hangus terbakar. Kejadian tersebut bukan kali pertama terjadi. Aksi serupa sempat terjadi pada 29 Desember 2011.

Dari peristiwa tersebut,  polisi menetapkan Tajul Muluk sebagai tersangka, atas laporan Rois Al-Hukuma pada 6 Maret 2012.

Polisi menjerat Tajul Muluk dengan pasal penistaan dan penodaan agama. Ia divonis dua tahun penjara.

Bukan hanya Tajul, terdakwa tunggal pembakaran Kompleks Pesantren Syiah, Muskirah, juga divonis 3 bulan 10 hari pada 10 April 2012. (*)

BACA JUGA

Penulis: Adi Suhendi
Editor: Yaspen Martinus

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas