• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Kamis, 24 April 2014
Tribunnews.com

Usai Diperiksa KPK, Anak Emir Moeis Bungkam

Jumat, 21 September 2012 15:46 WIB
Usai Diperiksa KPK, Anak Emir Moeis Bungkam
TRIBUNNEWS.COM/Herudin
Emir Moeis (kanan)

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Direktur PT Langgeng Prima Gas dan PT Kiani Pacific Nusantara, Armand Omar Moeis merampungkan pemeriksaan saksi kasus kasus dugaan korupsi proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Tarahan, Lampung tahun 2004, Jumat (21/9/2012) sore.

Namun, putra Ketua Komisi XI DPR, Emir Moeis ini memilih bungkan usai menjalani pemeriksaan sebagai saksi untuk melengkapi berkas penyidikan ayahnya itu.

Pria yang hadir dengan mengenakan kemeja putih dan celana panjang hitam itu pun terus menutup mulutnya saat wartawan mengikutinya hingga tempat parkir mobil yang telah menunggunya di luar gedung KPK. Seraya memegang tasbih, Armand memasuki mobil Avanza silver bernopol D 1367 PD.

Dalam mobil tersebut ternyata telah menunggu seorang wanita yang diketahui istrinya. Selain istri ada sekitar dua pria yang diduga kolega Armand. Tak berselang kemudian, mobil yang ditumpangi Armand pun melaju meninggalkan tempat tersebut.

"Itu istrinya ya mas?," tanya wartawan kepada salah satu kolega Armand yang tak mau disebutkan namannya.

"Ia," jawabnya sembari menganggukkan kepala.

Kabag Pemberitaan dan Informasi KPK, Priharsa Nugraha mengatakan, Armand diperiksa sebagai saksi untuk melengkapi berkas penyidikan tersangka kasus ini yakni Ketua Komisi XI DPR, Emir Moeis. direktur PT Langgeng Prima Gas dan PT Kiani Pacific Nusantara tersebut diketahui anak dari Politisi PDIP tersebut.

"Yang bersangkutan (Armand Omar Moeis) dijadwalkan diperiksa sebagai saksi untuk Emir Moeis," kata Priharsa Nugraha, di kantornya, Jakarta.

Dalam kasus ini, KPK telah menetapkan anggota DPR dari PDIP Izedrik Emir Moeis menjadi tersangka. Menurut Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto, tersangka Emir diduga telah menerima suap terkait kasus dugaan korupsi dalam proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Tarahan, Lampung tahun 2004.

Suap tersebut sebesar 300 ribu dolar AS yang berasal dari PT Alstom Indonesia. Atas perbuatannya, Emir disangka melanggar Pasal 5 ayat (2) atau Pasal 12 huruf a dan huruf b atau Pasal 11 atau Pasal 12B UU No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tipikor. Ancaman pidana maksimal selama 20 tahun penjara dan pidana denda paling banyak semiliar rupiah.

Klik:


Penulis: Edwin Firdaus
Editor: Johnson Simanjuntak
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
955372 articles 0 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI KOMENTAR SAYA
Atas