• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Kamis, 23 Oktober 2014
Tribunnews.com

Badri Dicokok Densus 88 Usai Shalat Subuh

Sabtu, 22 September 2012 23:33 WIB
Badri Dicokok Densus 88 Usai Shalat Subuh
KOMPAS.COM
Personel Densus 88 saat penggerebekan di Pamulang

TRIBUNNEWS.COM,SOLO – Densus 88 menangkap para terduga teroris di Solo dari beberapa lokasi berbeda, Sabtu (22/9/2012).

Dari para terduga teroris itu, Densus mengamankan sejumlah bom rakitan dan bahan pembuat bom. Salah satu bom diledakan tim Gegena menimbulkan dentuman sangat keras dan merusak rumah warga, termasuk rumah terduga teroris.

Ratusan warga Griyan RT 5 RW 10 mengerumuni rumah milik Badri Hartono yang dipasangi garis polisi. Badri warga asli Griyan ditangkap oleh Densus 88 di jalan dekat rumahnya Sabtu pagi (22/9) sekitar pukul 4.30. Ia ditangkap sehabis melaksanakan shalat subuh di masjid Al Huda.
“Tiba-tiba dia dipepet oleh segerombolan orang lalu dimasukkan ke dalam mobil. Kejadiannya sangat cepat,” kata Rinto, warga sekitar.
Penangkapan Badri merupakan hasil pengembangan penangkapan sebelumnya terhadap Rudi Kurnia Putra, warga Bergulo, Serengan, Sabtu (22/9) dinihari.
Rudi yang ditangkap saat turun dari bus di depan mal Solo Square setelah pulang dari Cilacap ini diduga memiliki hubungan dengan Badri. Polisi juga mengamankan anggota keluarga Badri untuk dimintai keterangan.
Mereka yang tinggal satu rumah itu adalah Hanifah (istri), Ny Ngali (ibu), dan Baidi (adik ipar).Tak sampai di situ, penangkapan Densus berlanjut beberapa meter dari rumah Badri. Khumaidi, warga jalan Lempuyang 2, Griyan RT 07 RW 10 ditangkap di rumahnya tanpa perlawanan. Penangkapan berlangsung sangat cepat hingga membuat warga sekitar kaget.
“Sejak pagi memang banyak mobil dan motor berseliweran, ternyata mereka polisi yang mau melakukan penggrebekan teroris,” kata Wagiyono, warga setempat.
Pengakuan kepada polisi, para terduga teroris ini menyimpan sejumlah bahan peledak dan bom rakitan yang siap meledak di rumah. Warga yang berada di sekitar rumah Badri dan Khumaidi pun diminta mengungsi.
“Saya sedang memasak di rumah, tiba-tiba saja disuruh sama polisi pergi menjauh. Katanya ada bom yang mau meledak. Saya dan warga lain ketakutan,” kata Sri Partini, tetangga Badri.
Tim Gegana langsung menggeledah setiap sudut rumah Badri dan Khumaidi. Di rumah Badri, petugas menemukan sepuluhan pipa paralon diameter 10 centimeter dengan panjang 1,5 meter, 10 detonator, pupuk urea, belerang, potasium. Selain itu ada pula arang, buku jihad, 3 buah senjata api rakitan laras panjang, 4 buah pedang, dan 2,5 kilogram cairan pembuat bom.
Sementara di rumah Khumaidi, petugas menemukan 18 potong pipa paralon 6 diantaranya berisi bahan peledak, bubuk mesiu, potasium, belerang, serta lima buah bom cair rakitan. Lima bom inilah yang diledakkan satu per satu oleh petugas di teras rumah Khuamidi. Bom pertama hingga keempat memiliki daya ledak rendah. Suara ledakan yang ditimbulkan hanya mirip suara petasan.
Baru pada bom kelima, suara ledakan membuat warga sekitar kaget dan berhamburan rumah. Sebab, suara yang terdengar hingga radius 500 meter itu menggetarkan tembok dan kaca rumah. Warga panik dan bingung mencari tempat aman.
“Tembok rumah saya bergetar semua. Serpihan seng atap rumah Mas Midi (Khuamidi) sampai terbang ke depan rumah saya. Padahal jaraknya seratusan meter,” kata Suratmi sambil menujukkan seng selebar telapak tangan.
Akibat ledakan itu, teras rumah Khumaidi hancur berantankan. Genteng-genteng dan pot bunga berserakan di tanah. Seluruh kaca jendala juga pecah berkeping-keping.
Kerusakan juga terjadi di rumah-rumah sekeliling. Irma, tetangga Khumaidi mengaku, tembok rumahnya mengalami sedikit retak. Beberapa plafon rumahnya juga pecah terbelah jadi dua.“Katanya kerusakan mau diganti pihak polisi,” katanya.
Editor: Rachmat Hidayat
Sumber: Tribun Jogja
0 KOMENTAR
958601 articles 0 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
    Jadilah yang pertama memberikan komentar
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas