Penangkapan Terduga Teroris

Nama Noordin M Top dan Santoso dalam Jaringan Thoriq Cs

Wendy Febriangga terduga teroris yang masuk dalam jaringan Al-Qaedah Indonesia ternyata memiliki peranan penting dalam perencanaan aksi

Nama Noordin M Top dan Santoso dalam Jaringan Thoriq Cs
IST
Noordin M Top

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Wendy Febriangga terduga teroris yang masuk dalam jaringan Al-Qaedah Indonesia ternyata memiliki peranan penting dalam perencanaan aksi teror yang melibatkan Muhammad Thoriq dan kawan-kawan.

Anak buah Santoso tersebut memiliki keahlian merakit bom dan juga menyalurkan senjata api. Bahkan Wendy pun pernah menerima langsung ilmu dari otak penembakan polisi di depan ATM BCA Palu, Sulawesi Tengah, Santoso yang saat ini masuk dalam daftar Pencarian Pencarian Orang (DPO).

Dengan tertangkapnya Wendy, semakin jelas bahwa kelompok teroris tersebut masih memiliki keterkaitan dengan pentolan-pentolan teroris yaitu Santoso dan Nurdin M Top.

"Hasil analisis terhadap yang bersangkutan ternyata dia terkait dengan kegiatan teror seperti pembuatan bom di wilayah Solo, ia pun pernah juga memberikan senjata api (senpi) kepada temannya yang juga terduga terois berinisial P dan ikutan pelatihan di Poso yang dipimpin Santoso," ujar Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri, Kombes Pol Agus Rianto di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Jumat (28/9/2012).

Sebelumnya, teman Wendy yang ikut pelatihan di Poso bernama Naim sudah tertangkap sehingga semakin jelas keterkaitan antara jaringan teroris Solo dan Poso ini.

"Dari pengeledahan di kontrakan tersangka (Wendy) di Kartosuro, di lokasi tersebut ditemukan benda-benda yang diduga terkait pembuatan yang patut diduga bom, seperti pipa, black powder, dan cairan kimia yang diduga netrocilin, dan ada beberapa benda lainnya," terang Agus.

Wendy lari saat Densus 88 melancarkan operasinya di Solo, Jawa Tengah pada 22 dan 23 September 2012. Pada saat itu Densus 88 menangkap sembilan orang dan dua orang dilepas kembali karena tidak cukup bukti. "Yang bersangkutan melarikan diri ke Poso dan ditangkap Densus," ucapnya.

Dalam jaringan ini pun ada namanya Joko Jihad alias Joko Gondrong alias Joko Parkit yang pernah dihukum penjara karena menyembunyikan Noordin M Top pentolan teroris yang ditembak mati petugas beberapa tahun lalu. Kemudian ada nama Baderi yang juga mempunyai keterkaitan dengan Noordin M Top.

Terungkapnya jaringan teroris Al-Qaeda Indonesia dimulai sejak Thoriq menyerahkan diri pascaledakan bom di Beji Depok, Sabtu. (8/9/2012) lalu yang kemudian disusul dengan penangkapan Arif pada esok harinya di Bojong Gede, Bogor, Jawa Barat. Beberapa hari kemudian, Yusuf Rizaldi pun menyerahkan diri di Polres Langkat, Sumatera Utara.

Dari pengakuan Thoriq, ditangkaplah dua orang lainnya di Serpong, Tangerang Selatan, sampai akhirnya diketahuilah pimpinan jaringan teroris tersebut di Solo, Sabtu (22/9/2012). Penangkapan jaringan yang sesungguhnya terungkap sejak ditangkapnya Rudi pada Jumat (21/9/2012), kemudian esok paginya ditangkapla Baderi Hartono. Tim pun bergerak cepat melakukan penangkapan dan penggeledahan di beberapa tempat di Solo lalu ditangkaplah Nawa, Fajar, Triyatno, Kamedi, serta istri Wawa berinisial SR. Esok harinya Minggu (23/9/2012) ditangkaplah Joko Parkit yang tiada lain anak buah Noordin M Top.

Total keselurahan yang ditangkap di Solo saat itu ada sekitar sembilan orang. Termasuk dua orang lainnya di lepaskan karena tidak memenuhi bukti terlibat dalam kasus terorisme yaitu Nopem dan Indra. Kemudian Densus mengembangkannya lagi, sampai akhirnya ditangkap lah Anggri Pamungkas di Pontianak, Minggu (23/9/2012).

Kemudian, tim berlambang burung hantu tersebut kembali membekuk seorang yang bernama Wendy di Palu, Kamis (28/9/201). Ia diduga kuat terlibat dalam perakitan bom di Solo bersama-sama dengan Baderi Cs.

Dari jaringan Solo tersebut sejumlah barang bukti bom aktif dan bahan-bahan pembuat bom lainnya berhasil diamankan petugas. Hasil penyidikan sementara bom tersebut akan digunakan untuk melakukan sejumlah aksi teror di beberapa tempat di Pulau Jawa.

Klik:

Penulis: Adi Suhendi
Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2018
About Us
Help