Sabtu, 29 November 2014
Tribunnews.com

Polisi Diminta Terbuka Tangani Kasus Anak Hatta Rajasa

Kamis, 3 Januari 2013 19:27 WIB

Polisi Diminta Terbuka Tangani Kasus Anak Hatta Rajasa
Tribunnews/Adi Suhendi
Kondisi mobil Rasyid Amrullah anak Hatta Rajasa yang terlibat kecelakaan di tol Jagorawi, Selasa(1/1/2013) masih dalam kondisi mulus. Hanya bagian grill depan saja yang rusak

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pakar Hukum Pidana dari Universitas Indonesia, Ganjar Laksamana, meminta Polri terbuka dalam menangani kasus tabrakan maut yang melibatkan putra Menko Perekonomian, Hatta Rajasa, Rasyid Rajasa.

Sikap polisi yang aneh, menurut Ganjar, malah akan memancing opini-opini buruk tentang Polri.

“Terbuka saja, jangan bersikap melindungi seperti yang mereka tunjukkan sampai hari ini.
Bukanlah perkara sulit bagi Unit Laka Lantas untuk mengusut kasus ini. Unit Laka Lantas punya peralatan dan pengalaman untuk mengolah TKP. Kalau tidak sanggup ada, KNKT yang memiliki juga alat-alat canggih dalam kecelakaan, baik udara, laut, maupun darat,” ujar Ganjar kepada wartawan di Jakarta Kamis (3/1/2013).

Polisi, menurutnya, juga tidak perlu kelihatan berlama-lama serius menangani kasus ini terutama mengenai penyebab kecelakaan.

Masyarakat, kata Ganjar, tahu bahwa mobil mewah itu memiliki fitur yang canggih termasuk di dalamnya ditanamkan semacam memori pintar yang menyimpan seluruh data penggunaan kendaraan.

“Saya yakin, mobil canggih pasti banyak menggunakan perangkat menyerupai kerja komputer dan kalau ada komputer pasti ada chip atau memori agar fitur-fitur canggih itu bisa digunakan sehingga apapun yang terjadi pada mobil atau dilakukan pada mobil, ada datanya."

"Jadi tidak sulit untuk mengetahui berapa laju kendaraan ketika terjadi tabrakan, apakah ada upaya menghindar atau tidak dengan hanya mengambil chip yang ada di mobil tersebut dan membacanya lewat komputer,” tegasnya.

Alasan yang dikemukakan polisi untuk melindungi pelaku yang juga anak Ketua Umum PAN itu, menurutnya, tidak masuk akal dan merendahkan logika berpikir masyarakat Indonesia.

Dengan alasan-alasan yang dikemukakan, polisi justru tampil di hadapan masyarakat sebagai polisi yang tidak profesional.

”Mulai dari disembunyikannya peristiwa itu, nama pelaku, mobil yang terlibat, test urine, yang seperti dilambat-lambatkan sampai hasil olah TKP pun disembunyikan. Ini kan seperti memancing opini massa bahwa memang ada yang ditutup-tutupi,” kata dia.

Ganjar juga menyoroti keanehan yang dikatakan polisi terkait kondisi Rasyid Rajasa yang dikabarkan dirawat di rumah sakit karena cidera.
Mobil sekelas BMW X 5 yang harganya miliaran rupiah, menurutya, pasti memiliki fitur keamanan yang canggih yang bisa melindungi para penumpang di dalamnya maupun pengendara lainnya.

“Mobil ini pasti dilengkapi peralatan yang canggih baik itu untuk kenyamanan maupun keamanan penumpang, termasuk keamanan pengguna jalan lain. Jadi aneh kalau dikatakan dia tidak ngebut, tapi terluka karena tabrakan tersebut."

"Ini kontrakdiksi, karena dengan keamanan mobil mewah itu, pastinya kalau penumpangnya terluka karena tabrakan atau kejadian luar biasa.Jadi polisi seperti membuka kebohongannya sendiri,” tegasnya.

Sikap jujur polisi, menurutnya, sangat penting dalam peristiwa seperti ini karena tentunya, baik keluarga pelaku maupun keluarga korban, tidak akan pernah netral dalam peristiwa seperti ini. Di sinilah jelasnya dituntut kejujuran polisi dan kenetralannya.

“Kalau keluarga korban pasti masih 'panas' dengan peristiwa ini, keluarga pelaku pasti berusaha menutupi. Nah di sini polisi dituntut untuk netral. Kalau tidak, yang terjadi maka tuduhan masyarakat akan membabi buta terhadap polisi,” tegasnya.

Penulis: Hasanudin Aco
Editor: Anwar Sadat Guna

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas