• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Minggu, 26 Oktober 2014
Tribunnews.com

Pengacara Sesalkan Penahanan Dendy Prasetya

Jumat, 4 Januari 2013 18:27 WIB
Pengacara Sesalkan Penahanan Dendy Prasetya
Warta Kota/Henry Lopulalan
Tersangka kasus suap pengadaan Al Quran dan laboratorium komputer di Kementerian Agama, Dendy Prasetya meninggalkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) usai diperiksa di Jakarta, Selasa (18/12). Dendy yang diperiksa sebagai tersangka urung ditahan dan diberi toleransi oleh penyidik KPK untuk penyembuhan kondisi kaki pasca kecelakaan. -------------------- Warta Kota/Henry Lopulalan

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pengacara Dendy Prasetya, tersangka kasus dugaan suap penggiringan anggaran proyek pengadaan alquran di Kemenag, menyeselakan langkah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), melakukan penahanan terhadap kliennya, hari ini, Jumat (4/1/2013).

Karena Dendy, kata Erman masih memerlukan pengobatan intensif akibat kecelakannya beberapa waktu lalu.

"Dia masih memerlukan pengobatan lebih lanjut sebenarnya," kata Erman kepada Tribunnews.com dan wartawan lainnya seusai menemani Dendy menjalani pemeriksaan, Jumat (4/1/2013) petang.

Kendati demikian, dia tetap menerima upaya yang dilakukan penyidik KPK. Meski, lanjut Erman, akan memantau kesehatan kliennya beberapa hari ini untuk memastikan kesehatan Dendy tidak lebih parah dari sebelumnya.

Dendy sendiri, kata Erman, oleh penyidik ditempatkan satu kamar bersama ayahnya, Zulkarnaen Djabar yang telah mendekam lebih dahulu di Rutan KPK yang berada di komplek militer Guntur, Manggarai, Jakarta.

"Dia (Dendy) akan satu kamar dengan Pak Zulkarnaen. Mereka berdua kan juga terganggu kesehatannya. Pak Zul sendiri punya penyakit penyempitan syaraf. Jadi mereka kalau hal-hal yang kecil bisa saling membantu nantinya," kata Erman.

Kendati demikian, sambung Erman, pihaknya akan tetap fokus melihat kondisi Dendy. Jika lebih parah nantinya, tim pengacara akan mengajukan permohonan perpindahan Rutan. Meski harapnya dilakukan penahanan Rumah saja.

"Di Guntur kan di tidak ada karyawan kalau dimintai bantuan. Kita tes, kalau terhalang berobat dan tidak memungkinkan, kami akan minta ajukan surat baru untuk penahanannya dipindahkan, di Cipinang," kata Erman.

Denddy sendiri terpantau keluar kantor KPK pada pukul 17.30 WIB. Direktur Utama di PT Karya Sinergi Alam Indonesia itu juga terlihat masih mengunakan kursi roda saat keluar lembaga superbody tersebut. Namun, sudah menggunakan seragam tahanan KPK.

Sementara, Zulkarnaen yang juga diperiksa hari ini, keluar bersamaan dengan Dendy.
Ayah dan anak itu langsung digiring petugas KPK ke mobil tahanan yang sama.

Kepala Bagian Pemberitaan dan Informasi KPK, Priharsa Nugraha ketika dikonfirmasi membenarkan perihal pelimpahan berkas milik Dendy dan Zulkarnaen.

"Iya rencananya hari ini P21, dilimpahkan ke proses penuntutan. Ada waktu 14 hari untuk proses penuntutan baru kemudian dilimpahkan ke pengadilan," kata Priharsa.

Seperti diketahui, Dendy dan Zulkarnaen diduga menerima suap sedikitnya lebih dari Rp 10 miliar, untuk mengarahkan nilai anggaran proyek di Kementerian Agama.

Rinciannya, anggaran pembangunan laboratorium sistem komunikasi di Madrasah Tsanawiyah tahun 2010/2011 adalah sebesar Rp 31 miliar dan anggaran pengadaan Alquran ialah senilai Rp 20 miliar tahun 2011/2012 di Direktorat Jenderal Pendidikan Agama Islam Kementerian Agama.

Atas perbuatan itu, keduanya diduga melanggar pasal 5 ayat (2), Pasal 12 huruf a atau b dan atau Pasal 11 Undang-undang Tindak Pidana Korupsi dengan ancaman hukuman maksimal 20 tahun penjara.

KLIK JUGA:

Penulis: Edwin Firdaus
Editor: Anwar Sadat Guna
1 KOMENTAR
1285971 articles 0 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
  • serba salah-Sabtu, 5 Januari 2013 Laporkan
    Tidak ditahan Dendy selalu menangis tdk bisa ketemu abah tiap hari,sekarang ditahan nangis lagi engga kumpul sama ibunya ! Sebaiknya Elzarita mengaku terlibat saja biar satu keluarga bisa berkumpul lagi dan saling urus !
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas