• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Sabtu, 20 September 2014
Tribunnews.com

Priyo Budi Santoso Kaget Terseret Kasus Korupsi Al Quran

Selasa, 29 Januari 2013 10:50 WIB
Priyo Budi Santoso Kaget Terseret Kasus Korupsi Al Quran
Tribun Jakarta/TRIBUN JAKARTA/JEPRIMA
Achmad Dhani, Syahrini, Priyo Budi Santoso wakil ketua DPR dan Mulan Jameela saat mendatangi gedung MPR/DPR Senayan, Jakarta Selatan, Senin (14/05/2012). Achmad Dhani dan sejumlah musisi lainnya mengadukan kasus terkait maraknya tindakan ilegal downloading lagu-lagu di internet yang sangat meresahkan. (Tribun Jakarta/Jeprima)

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Yogi Gustaman dan Edwin Firdaus

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Wakil Ketua DPR RI Priyo Budi Santoso kaget bukan kepalang. Nama politisi Partai Golkar ini disebut menerima fee dalam proyek pengadaan Al Quran dan Komputer untuk Laboratorium MTs tahun 2011 di Kementerian Agama. Totalnya Rp 1,082 miliar.

"Saya kaget mendengar pemberitaan itu dan ini harus diluruskan. Saya sama sekali tidak tahu menahu dan tidak ada kaitan sama sekali karena tugas saya sebagai Wakil Ketua DPR membawahi politik dan keamanan untuk Komisi I, II dan III. Bukan di Komisi VIII DPR. Saya tegaskan lagi, 100 persen saya tidak ada kaitannya dengan masalah ini," ujar Priyo kepada Tribunnews.com di Jakarta, Senin (28/1/2013) malam.

Nama Priyo disebut dalam surat dakwaan terhadap anggota Komisi VIII DPR RI Dzulkarnaen Djabar dan putranya  Dendy Prasetia Zulkarnaen Putra yang disidang bersama di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Senin (28/1/2013). Dendy adalah Direktur PT Karya Sinergi Alam Indonesia.

Jaksa Dzakiyul Fikri menyebut, Priyo kecipratan fee 3,5 persen (Rp 770 juta) dari total nilai anggaran Alquran sebesar Rp 22 miliar dan 1 persen (Rp 312 juta) dari kepengurusan pengadaan laboratorium MTs pada tahun 2011 sebesar Rp 31,2 miliar.

Jaksa mengatakan, jatah yang diterima Priyo berdasarkan kesaksian terdakwa Dendy Prasetya yang dikuatkan saksi Fahd El Fouz alias Fahd A Rafiq, putra pedangdut senior (alm) A Rafiq.  Dan yang mengatur fee adalah Dendy.

Baik Dendy dan Fahd adalah adalah anak buah Priyo di Gema MKGR. "Keduanya memang saya kenal di MKGR karena saya Ketua Umum MKGR. Tapi saya tidak kaitannya," ujar Priyo.

Jaksa penuntut umum (JPU) KPK menyatakan, Zulkarnaen Djabar, Dendy Prasetya dan Fahd Arafiq, melakukan perbuatan melawan hukum dengan menerima uang senilai Rp 14,9 miliar dari Abdul Kadir Alaydrus melalui terdakwa Dendy.

Jaksa menuturkan, pada September 2011 Zulkarnaen Djabar memberikan informasi kepada Dendy Prasetya dan Fahd El Fouz terkait adanya anggaran optimalisasi terkait pengadaan proyek laboratorium komputer dan pengadaan kitab suci Alquran di Kementerian Agama. Anggaran tersebut telah disetujui Komisi VIII DPR.

Dalam pertemuan itu, Fahd bertindak selaku broker dengan mengajak Vascoruseimy atau Syamsul Rachman dan Riski Mulyo Putro untuk mengatur pengadaan dan fee untuk mereka yang telah berkontribusi suksesnya proyek tersebut.

Dzulkarnen dibantu Dendy dan Fahd El Fouz mengusahakan PT Batu Karya Mas sebagai pemenang dalam pekerjaan laboratorium komputer di Direktorat Pendidikan Islam tahun anggaran 2011. Proyek itu senilai Rp 31,2 miliar.

Selanjutnya, Dzulkarnaen dan Dendy dibantu Fahd El Fouz, juga mengupayakan PT Adhy Aksara Abadi Indonesia sebagai pelaksana proyek pengadaan kitab suci Alquran tahun anggaran 2011, senilai Rp22 miliar.

Terakhir, Dzulakarmnaen dan Dendy dibantu Fahd juga mengupayakan PT Synergi Pustaka Indonesia sebagai pemenang dalam pengadaan kitab suci Al Quran tahun anggaran 2012 senilai Rp 50 miliar.

"Terdakwa satu dan dua mengetahui bahwa pemberin uang merupakan akibat dari pengurusan anggaran pengadaan laboratorium komputer dan pengadaan kitab suci Alquran tahun anggaran 2011-2012," tutur Jaksa Dzakiyul.

Setelah sukses mengatur proyek, Dendy bersama Fahd melakukan perhitungan pembagian fee yang dicatat dalam sebuah kertas pada tahun anggaran 2011-2012. Untuk proyek pengadaan komputer di MTs tahun anggaran 2011 senilai Rp 31,2 miliar, penerima fee yakni: Senayan atau ZD (Zulkarnaen Djabar) sebesar 6 persen (Rp 1,872 M) Vasco atau Syamsu sebesar 2 persen (Rp 624 juta), Kantor sebesar 0,5 persen atau (Rp 156 juta)), PBS atau Priyo Budi Santoso sebesar 1 persen (Rp 312 juta), Fahd  sebesar 3,25 persen(Rp 1,014 M) dan Dendy  sebesar 3,25 persen (1,014 M).

Fee dari pengadaan Alquran tahun anggaran 2011 dengan nilai Rp 22 miliar. Yakni untuk  Senayan atau Zulkarnaen Djabar 6,5 persen (Rp 1,430 M),  Vasco atau Syamsu sebesar 3 persen (Rp 660 juta),  PBS atau Priyo Budi Santoso sebesar 3,5 persen (Rp 770 juta), Fahd 5 persen (Rp 1,1 M),  Dendy sebesar  4 persen (Rp 880 juta) dan kantor  Kantor 1 persen (Rp 220 juta).

Priyo tidak kecipratan pada pengadaan Al Quran tahun anggaran 2012 dengan nilai Rp 50 miliar. Penerimanya yakni Senayan atau Zulkarnaen Djabar 8 persen (Rp 4 M),  Vasco Syamsu 1,5 persen (Rp 750 juta),  Fahd 3,25 persen (Rp 1,625 M),  Dendy 2,25 persen (Rp 1,125 M) dan Kantor 1 persen (Rp 500 juta).

Atas perbuatannya, kedua terdakwa diancam pasal subsideritas. Dakwaan primer melanggar pasal 12 Jo pasal 18 UU Pemberantasan Tindak  Pidana Korupsi Jo pasal 55 ayat 1 ke-1 Jo pasal 65 KUHP. Dakwaan subsider, keduanya dijerat pasal 5 ayat 2 Jo pasal 5 ayat 1 UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo pasal 55 ayat 1 ke-1 Jo pasal 65 KUHP. Atau lebih subsider pasal 11 Jo pasal 18 UU Pemberantasan Tipikor jo pasal 55 ayat 1 ke-1 Jo pasal 65 KUHP

Mengacu pada pasal tersebut, keduanya terancam hukuman maksimal 20 tahun penjara, dan denda maksimal Rp 1 miliar. Terdakwa satu maupun terdakwa dua sama-sama akan mengajukan nota keberatan (eksepsi) atas dakwaan JPU.

Saat diberi kesempatan menanggapi dakwaan, Zulkarnanen mengaku kurang mengerti substansinya. "Pertama saya sebagai anggota DPR RI, dan kedua anak saya Dendy Prasetiya sebagai pengusaha. Apa korelasinya," ujar Zulkarnaen. Menurut politisi dari Fraksi Partai Golkar ini, tiga proyek di Kementerian Agama ini lebih pada proyek pengadaan. Dan itu berada dalam wilayah eksekutif, yakni Kementerian Agama, tepatnya Dirjen Pendidikan Islam untuk laboratorium dan Dirjen Binbaga Islam untuk pengadaa Alquran.

Lain halnya dengan Dendy. Ia mengaku pada prinsipnya memahami dakwaan jaksa pada Komisi Pemberantasan Korupsi, tapi terlihat janggal. "Mungkin, nanti akan kita buktikan dalam pemeriksaan di persidangan," ujar Dendy yang masih memakai kursi roda.

Penulis: Y Gustaman
Editor: Ade Mayasanto
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
2 KOMENTAR
1378461 articles 0 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
  • akmal Bagus-Selasa, 29 Januari 2013 Laporkan
    buktikan saja nanti di pengadilan pak, KPK tidak bodoh, walau ditutup partai Golkar korupsi pasti terbongkar,
  • benci_koruptor-Selasa, 29 Januari 2013 Laporkan
    Trima uang nya ga terkejut giliran
    dikaitkan pura2 kaget, ini org munafik
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas