Selasa, 25 November 2014
Tribunnews.com

Rumah Luthfi-Rani Satu RT

Senin, 4 Februari 2013 10:03 WIB

Rumah Luthfi-Rani Satu RT
TRIBUNNEWS/Abdul Qodir
Tampak depan rumah milik mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Luthfi Hasan Ishaaq, di komplek perumahan petinggi PKS di kawasan Batu Ampar, Kramat Jati, Jakarta Timur, Sabtu (2/2/2013). Tribunnews.com/Abdul Qodir

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Abdul Qodir

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - RUMAH mewah tampak sunyi di sudut kompleks perumahan khusus, cluster di wilayah RT 03 RW 09 Batu Ampar, Jakarta Timur.
Hunian mentereng itu milik Luthfi Hasan Ishaaq, Presiden PKS yang meletakkan jabatan setelah dijebloskan tahanan Rutan TNI Guntur oleh KPK. Luthfi terjerat suap Rp 1 miliar di balik penetapan kebijakan impor daging sapi.

Luthfi yang tercatat sebagai anggota Komisi I DPR ditangkap, setelah KPK menyergap orang kepercayaan Luthfi, Achmad Fathanah dan Maharani Suciyono di Hotel Le Meridian, Jakarta Pusat, Selasa (29/1/2013) malam.

Luthfi dan Fathanah dijerat Pasal 12 huruf a atau b atau Pasal 5 Ayat (1) atau Pasal 11 UU Pemberantasan Tipikor jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP. Sang pemberi suap, direktur PT Indoguna Utama (IU), Arya Abdi Effendi dan Juard Effendi juga dijebloskan tahanan.
Sedangkan Rani, panggilan akrab Maharani, dipulangkan setelah diinterogasi KPK. Di tas mahasiswi cantik itu ditemukan uang Rp 10 juta yang diduga bagian barang bukti suap Rp 1 miliar yang dibawa Fathanah.

Ketika Tribun bertandang ke rumah Rani kompleks SD, RT 03 RW 09 kawasan Batu Ampar, Jakarta Timur, Sabtu (2/2/2013), Rani tinggal bersama sang ibunda, Engkun Kuniarsih (51) dan kakaknya, Anggi Kumatiyono Pratama (22).

Ketua RT 03, Sarmadi mengungkapkan, keluarga Rani menempati rumah itu sejak 10 tahun lalu. Namun, Rani dan keluarganya tak mempunyai KTP setempat. Sarmadi mengaku belum melakukan pendataan, ataupun minta keluarga Rani melapor.

Sejak Rani tinggal di rumah itu, ibunda Rani tak bersama lagi dengan suaminya, Nyocky S. Saat itu, Rani masih duduk di bangku kelas 3 SD. Saat Tribun berkunjung, Rani tak ada di rumah. Demikian pula ibu dan kakaknya. Rumah sangat sederhana itu sunyi.

"Rani sama keluarganya cuma tinggal saja di rumah dinas guru itu. Mereka bukan warga saya. Tadinya dia pakai alamat di Inerbang Batu Ampar RT 10 RW 3, rumah saudaranya. Jadi, dia tetap pakai KTP lama. Makanya saya waktu ditanya-tanya nama Maharani, nggak kenal," tutur Sarmadi.

"Tapi, setelah saya cek-cek, ternyata ada nama Maharani Suciyono di DPT (Daftar Pemilih Tetap)," jelasnya. Yang mengejutkan, rumah Rani, tak jauh dari rumah elite Luthfi, sang petinggi PKS.

Rumah mewah Luthfi berada dalam deretan enam rumah cluster lainnya di komplek perumahan khusus petinggi PKS. Semua rumah sekomplek itu hanya bernomor satu, yakni 16 di RT dan RW yang sama dengan rumah Rani.

Rumah Luthfi hanya berjarak sekitar 100 meter dari rumah Rani. Bahkan, dekat rumah Luthfi ada jalan tembus menuju jalan utama di belakang komplek perumahan petinggi PKS itu.

Namun, posisi rumah keduanya saling bersinggungan, dipisahkan sekitar lima rumah dan bangunan sekolah.

Tak Pernah Lapor
Sarmadi mengisahkan, komplek perumahan petinggi PKS itu dibangun di atas lahan sekitar 4.000 meter persegi, sejak setahun lalu. Beberapa rumah mulai dihuni Ramadan lalu.

"Di situ ada enam rumah. Rumahnya Pak Luthfi itu yang paling pojok, keenam. Saya tahu, karena waktu itu pernah ada anggota Ormas yang minta uang iuran ke situ. Lalu, si Satpam kompleknya lapor saya," tuturnya.

"Satpamnya bilang, Pak ada orang minta uang ke dalam, kan ini rumahnya Presiden PKS, Pak Luthfi. Ya, saya biarin saja. Habis dia saja di wilayah sini, nggak pernah koordinasi, apalagi lapor RT/RW," tegas Sarmadi.

Tak hanya Luthfi, keluarga Rani juga tak pernah lapor ke RT. Ketika perumahan mewah itu dibangun, tak satupun petinggi PKS lapor.

"Tadinya tanah itu punya Pak Tanu Margono, orang sini juga. Dia pensiunan Kopassus. Istrinya Pak Tanu itu kakaknya Pak Agum Gumelar. Kalau rumahnya Pak Tanu, ya itu pas di depan rumah Pak Luthfi. Saya nggak tahu berapa harga jual belinya, karena saya nggak dilibatkan," jelasnya.

"Tadinya Pak Tanu bilang, kalau tanahnya mau dibeli sama teman saya, orang DPR," tutur Sarmadi, mengutip keterangan Tanu.

Sarmadi mengaku bingung, karena dua orang yang sedang jadi sorotan publik berada di wilayahnya. "Mungkin ini kebetulan saja, keduanya tinggal di wilayah RT saya," katanya.

Saat Tribun mendatangi pos jaga komplek PKS, dua Satpam menolak menyebutkan nama para penghuni rumah. "Saya nggak tahu. Saya baru ganti shift. Kalau mau ambil gambar di luar gerbang saja," saran Satpam.

Ada jalan berkerikil cukup untuk satu mobil, satu-satunya akses menuju rumah si penjual tanah, Tanu Margono. Jalan itu juga, jalan tembus bagian belakang komplek perumahan petinggi PKS.

Seorang penjaga rumah Tanu yang enggan disebut namanya mengatakan, Luthfi kerap bolak-balik saat komplek perumahan petinggi PKS dibangun tahun lalu. "Setelah ada kasus ini dan ditangkap orang PKS yang namanya Pak Luthfi di TV, saya baru tahu itu orang yang dulu suka ke sini," tuturnya.

"Setelah itu saya belum pernah lihat Pak Luthfi lagi," katanya. Dari rumah Tanu tampak jelas rumah Luthfi. Satu unit mobil sedan silver terparkir di halaman rumah itu. Tampak pula sejumlah pakaian dan lemari di balik kaca jendela lantai dua rumah itu.

"Saya nggak tahu, sertifikat jual belinya sudah selesai apa belum. Tapi, kata Pak Tanu, rumahnya yang ini (yang ditempati) juga mau dijual lagi. Mungkin ke komplek PKS ini juga," kata penjaga rumah Tanu.

Pernahkah petinggi PKS mampir ke rumah Rani? Warga setempat tak tahu. "Lagipula mana kita tahu, karena Rani juga suka diantar ke rumahnya ini ganti-ganti mobil," kata Nanang, tukang ojek yang biasa mangkal di depan rumah Rani.

"Orang-orang yang tinggal di komplek PKS itu nggak pernah nongol, apalagi berbaur sama warga. Paling suka ada mobil yang keluar-masuk, kalau pagi banget dan malam," kata Yanto, warga lainnya.

Penulis: Abdul Qodir
Editor: Ade Mayasanto

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas