Korban Bupati Wajo Mengadu ke Komnas HAM

Mereka datang untuk memperjuangkan nasib keluarganya yang diperlakukan tidak manusiawi oleh Andi Burhanuddin.

Korban Bupati Wajo Mengadu ke Komnas HAM
Kompas.com
Bupati Wajo Sulawesi Selatan Andi Burhanuddin Unru membantah tuduhan bahwa dirinya melakukan penganiayaan serta penculikan terhadap enam warga

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ratusan orang mengancam akan mengadu ke Komnas HAM dan Mabes Polri terkait dugaan penganiayaan oleh Bupati Wajo, Provinsi Sulawesi Selatan Andi Burhanuddin Unru terhadap enam warganya. Mereka datang untuk memperjuangkan nasib keluarganya yang diperlakukan tidak manusiawi oleh Andi Burhanuddin.

Andi bahkan menuduh warga yang disekap adalah teroris yang dikirim oleh calon gubernur IA, yang menurutnya akan membunuh Wajo dengan menggunakan bom.

"Kami mau proses ini dilakukan dipercepat. Jangan seolah-olah di main-mainkan apa lagi diproses dengan lambat. Karena ini menyangkut kepastian mereka yang kini jadi tidak betah bahkan dikampungnya sendiri. Mereka menjadi korban fitnah," tegas Jalaludin Akbar kuasa hukum seluruh korban di Galeri Cafe, Jakarta Pusat, Minggu (10/2/2013).

Menurut Akbar, besok dirinya bersama enam korban diantaranya Muhammad Azis, Dakirwan, Nurfahmi (istri Akhiruddin), H Dg Tapalang dan Asriadi akan memberikan testimoni dan laporan ke Mabes Polri.

"Polres Wajo itu kebanyakan tidak taunya. Bahkan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) kami tidak dibaca. Seolah mereka sekongkol dengan Bupati Wajo," tegasnya.

Sebelumnya, Bupati Wajo, diduga menganiaya warganya sendiri. Andi Burhanuddin Unru dilaporkan ke polisi setempat, Rabu (23/01/2013). Burhanuddin diduga memukul dan menculik enam pria dalam perkara yang berkaitan dengan Pemilihan Gubernur Sulawesi Selatan.

Informasi yang dihimpun, peristiwa ini bermula pada Senin (21/10 sekitar pukul 03.00 Wita, enam orang warga yautu Syamsul Bahri, Masrisal, Khairuddin, Dakirwan, Muhammad Asis dan Asriyadi sedang berada di rumah milik Khairuddin di Kelurahan Doping, Kecamatan Penrang, Kabupaten Wajo.

Tiba-tiba mereka didatangi rombongan Bupati Wajo yang menumpangi mobil dan langsung menanyakan perihal kedatangan mereka di tempat tersebut, pasalnya sebagian dari korban merupakan warga Kolaka Utara (Kolut), Sulawesi Tenggara.

"Kita cuma duduk di dalam rumah dan tidak ada pemberian uang karena memang kita datang ke sini hanya mengajak keluarga dekat untuk memilih salah satu pangan gubernur, dan tidak ada sama sekali pemberian uang," ungkap Dakirwan, salah seorang korban.

Lantaran tak menemukan barang bukti berupa uang dan atribut salah satu pasangan gubernur, salah seorang warga bernama Khairuddin langsung mendapatkan bogem mentah dari Bupati.

Halaman
12
Penulis: Wahyu Aji
Editor: Sanusi
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2016
About Us
Help