Sabtu, 20 Desember 2014
Tribunnews.com

Pernyataan SBY Menampar Wajah Demokrasi Indonesia

Minggu, 3 Maret 2013 14:13 WIB

Pernyataan SBY Menampar Wajah Demokrasi Indonesia
TRIBUNNEWS/DANY PERMANA
Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono mengadakan konferensi pers sebelum melakukan kunjungan kenegaraan ke Jerman dan Hongaria, di Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta, Minggu (3/3/2013). Selain melakukan konferensi pers tentang kunjungannya, SBY juga mengomentari tentang dinamika politik nasional pascapenetapan status tersangka mantan Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). TRIBUNNEWS/DANY PERMANA

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Direktur Eksekutif Lingkar Madani untuk Indonesia (Lima) Ray Rangkuti mengimbau publik tak usah kaget dengan pernyataan resmi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang mengatakan berdasar laporan intelijen ada pihak yang akan membuat gonjang-ganjing.

Menurut Ray, pernyataan SBY sebelum lawatan luar negeri ke Jerman dan Hungaria, sebetulnya bentuk pengalihan isu yang menimpa dirinya, seperti internal Demokrat, skandal Century, dan terakhir adalah data Edhie Baskoro Yudhoyono atau Ibas yang menerima dana Hambalang.

"Kalau Ibas menampik soal dana itu, dan mengatakannya sebagai lagu lama, pernyataan SBY ini lebih lama lagi. Upaya seperti ini kontraproduktif untuk membangun bangsa ini karena kondisi sangat tenang dan damai," ujar Ray kepada Tribunnews, Jakarta, Minggu (3/3/2013).

Ray menerangkan, melihat prilaku SBY tidak bisa sepotong-potong. Karenanya, seluruh prilakunya harus dilihat secara keseluruhan. Apa yang disampaikannya sebagai kepala negara sebelum terbang ke luar negeri, akan ada sejumlah pihak melakukan gonjang-ganjing bukanlah barang baru.

"Kalau sepotong-sepotong kita terkejut. Biasanya target pernyataannya selalu dua, pertama mengalihkan perhatian publik dari satu peristiwa yang menohok dirinya. Biasanya begitu. Target kedua, memberi kesan bahwa dia telah dizalimi," terangnya lagi.

Dikatakan Ray, apa yang dilakukan SBY bukan kali pertama terjadi. Hal serupa juga sudah pernah terjadi ketika di depan publik ia menunjukkan fotonya menjadi sasaran tembak pelaku terorisme, di tengah mencuatnya pemberitaan kasus bail out skandal Bank Century Rp 6.7 triliun.

Apa yang dikatakan SBY soal gonjang-ganjing, secara tidak langsung telah membuat wajah Indonesia semakin buruk. Secara politik, pernyataan SBY menunjukkan Indonesia sedang terancam, dan efeknya akan membuat iklim ekonomi mengkhawatirkan.

"Teorinya di mana-mana, kalau politik aman, ekonomi pun akan aman. Tapi sepertinya hal itu tidak dipikirkan SBY. Pernyataannya ini bukan hanya blunder, tapi bagaimana kepala negara membuat wajah bangsa ini buruk. Blunder itu hanya pada dirinya tapi ini terjadi pada bangsa Indonesia," papar Ray.

"Itu menampar demokrasi kita. Efeknya bangsa kita tidak peduli pada demokrasi dan membuat investor sangat takut. Yang disebutkan dia soal adanya gonjang-ganjing itu imajinasi. Tapi kita kesulitan bagaimana kita melakukan verifikasi. Karena laporan intelijen hanya presiden yang tahu," ujarnya.

Penulis: Y Gustaman
Editor: Willy Widianto

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas